Wednesday, June 26, 2024

Camp Remaja Lintas Iman

Besowo, Kabupaten Kediri - Camp Remaja Studi Intensif Lintas Iman (SILI) yang mengangkat tema "Mbangun Paseduluran" merupakan upaya untuk menanamkan jiwa toleransi antar umat beragama pada kategori remaja usia 13-15 tahun. Institut Pendidikan Theologia (IPTh) Balewiyata merupakan inisiator kegiatan ini, sedangkan pelaksana kegiatan adalah Majelis Daerah Kediri Utara 1 Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) bersama Komisi Hubungan Antar Umat dan Komisi Pembinaan Anak dan Remaja.


Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin-Selasa, 24-25 Juni 2024 bertempat di SD Negeri Besowo 2, Dusun Besowo Timur, Desa Besowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Peserta sejumlah 75 anak remaja dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, yaitu: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Sapto Darmo. Selain itu hadir pula tokoh pemerintahan, agama dan masyarakat, antara lain: Dodik Purwanto (Ketua DPRD Kabupaten Kediri), Mokhamad Saroni, S.Pd.SD (Camat Kepung), Mariono (Kepala Desa Besowo), Sumilan (FKUB Kabupaten Kediri), Inul Dwi Astuti (Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri), Pdt. Argo Daniel Satwiko, M.Div dan Pdt. Noven Rudy Nataniel, S.Si (PHMD Kediri Utara 1), Pdt. Brahm Kharismatius, S.Si (KAUM MA), Pdt. Gideon Hendro Buono M,Si dan Pdt. Chrysta BP. Andrea, M.Th (IPTh Balewiyata), Pdt. Merrys Christien Villawati, S.Si (Pendeta GKJW Jemaat Besowo), Miss Julia (Co-Worker UEM untuk GKJW), Gus Ali Nasukhan, M.PdI (FKUB Kecamatan Kandangan), Dr. Taufik Alamin, M.Si (Ketua LPPM IAIN Kediri), Yuliono (PHDI Kecamatan Kandangan), Agustinus (Dewan Stasi Katolik), Marsudi (tokoh Sapto Darmo Kecamatan Kepung), Yunus Priyambodo (Kepala Sekolah SDN Besowo 2), dan Kelompok Gusdurian Pare.


Ketua Majelis Daerah Kediri Utara 1, Pdt. Argo Daniel Satwiko, M.Div dalam sambutannya mengungkapkan bahwa toleransi antar umat beragama perlu ditanamkan sejak usia dini demi mewujudkan masa depan yang damai. Mokhamad Saroni, S.Pd.SD selaku Camat Kepung juga menyampaikan hal yang senada, sekaligus berharap kegiatan semacam ini bisa dilakukan secara rutin setiap tahun dengan kategori usia yang berbeda-beda.

Desa Besowo memiliki catatan sejarah kerukunan antar umat beragama yang baik, hal ini terbukti dengan situasi masyarakatnya yang sangat kondusif walaupun memiliki latar belakang agama yang berbeda. Salah satu buktinya terlihat di SDN Besowo 2 yang memiliki 3 tempat ibadah: Musholla Al Amin, Rumah Doa Yohanes dan Pura Widya Guna Dharma.


Kegiatan hari pertama diisi dengan sholawat oleh murid-murid SDN Besowo 2, penampilan kesenian tari dan jaranan anak-anak Desa Besowo. Selain itu ada pula permainan untuk mengakrabkan peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten dan Kota Kediri.



Materi sesi pertama berjudul "Mendobrak Prasangka Kepada Liyan" yang disampaikan oleh Dr. Taufik Alamin, M.Si mengajak peserta untuk selalu mendasari pemikirannya berdasarkan fakta, bukan asumsi. Tujuannya untuk membangun pola pikir yang konstruktif dan tidak egois sebagai dasar toleransi. Materi sesi kedua berjudul "Bersama Tidak Harus Sama, Bernafas Dengan Udara Yang Sama". Dalam sesi diskusi, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui tentang agama. Tokoh-tokoh agama yang hadir memberikan jawaban dengan jelas dan lugas sehingga mudah dipahami oleh peserta yang masih remaja. Diskusi ini berlangsung dengan luwes dan mengalir, tujuannya supaya peserta bisa mengenal agama dan kepercayaan yang ada di sekitar mereka. Dengan mengenal dan memahami keberagaman agama dan kepercayaan ini, diharapkan para peserta akan menumbuhkan jiwa toleran dalam dirinya.





Hari kedua diisi dengan kegiatan sosial, yaitu membersihkan beberapa tempat ibadah dan punden yang ada di sekitar SDN Besowo 2. Tempat-tempat tersebut antara lain: Mushola Roudhotul 'Ullum, Pura Karya Dharma Santi, Punden Ki Ageng Jimad yang dikenal masyarakat sebagai Pangeran Benowo dan Punden Mbah Burdowo yang merupakan tempat petilasan penganut kepercayaan Kapitayan. Selain itu peserta juga diajak untuk membersihkan area sumber air Besowo yang sebelumnya mengalami longsor. Mereka juga mengumpulkan batu ke dalam bronjong yang telah disiapkan panitia untuk menahan tanah dan mencegah longsor susulan. Hal ini bertujuan untuk memupuk kepedulian peserta terhadap pelestarian sumber air yang sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup.







Di akhir acara, para peserta bersama-sama mendeklarasikan tekad untuk menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari. Panitia juga membuatkan sebuah forum berupa grup WhatsApp untuk membuat jejaring remaja sebagai kader penggiat kerukunan antar umat beragama di wilayah Kabupaten Kediri.






[limbath]