"Arta,
hari Minggu nanti kamu sibuk nggak?", tanya Lina setelah meminum es
tehnya. Siang itu cuaca panas, penjual minuman dingin di kantin sekolah diserbu
para siswa yang kehausan.
"Minggu?
Aku sih fleksibel saja", jawab Arta sambil bersiap menyesap kopi hitamnya.
Anak ini memang penggemar kopi hitam dan anti minuman dingin. Bahkan dalam
cuaca sepanas inipun dia tetap setia meminum kopi hitam yang mengepulkan uap.
"Kita
jalan yuk?", ajak Lina dengan senyum manisnya.
"Kemana?",
tanya Arta lagi.
"Nggg...
Aku pinginnya kamu yang pilih tempat", kali ini Lina menjawab sambil
nyengir.
"Beneran
nih? Ntar kamu kurang suka sama tempatnya?", goda Arta.
"Hehehe...
Aku sih fleksibel saja", jawab Lina dengan nada manja.
"Eits...
Itu kata-kataku", kata Arta sambil menyentil ujung hidung kekasihnya itu.
Selanjutnya tawa renyah mereka membuat suasana terasa sejuk di sudut kantin
sekolah itu.
* *
* * *
"Eh,
nak Arta. Tumben pagi-pagi sudah main kesini?", sambut Bu Sarah, ibunda
Lina. Memang saat itu baru pukul enam pagi ketika Arta menjemput Lina.
"Iya,
Tante. Saya ingin mengajak Lina jalan-jalan pagi", jawab Arta dengan
sopan.
"Oh,
pantas saja Lina minta dibangunkan lebih awal. Ada kencan pagi ternyata",
goda Bu Sarah sambil tersenyum. Senyum manis yang menurun ke putrinya.
* *
* * *
Jarum
jam baru menunjukkan tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi ketika mereka
berdua memasuki area Pasar Tugu. Pasar Tugu yang berada di area parkir Stadion
Gajayana Malang ini awalnya hanya sekumpulan kecil pedagang kaki lima. Mereka
berjualan disini karena minggu pagi selalu ramai oleh warga yang berolahraga.
Semakin
lama, semakin banyak pedagang yang ikut mencari rejeki disini. Tak hanya
makanan dan minuman, tetapi juga bermacam-macam barang dagangan digelar. Nama
Pasar Tugu adalah singkatan dari "Sabtu Minggu". Disebut begitu
karena para pedagang mulai mempersiapkan stan mereka hari Sabtu malam dan
berdagang hari Minggu pagi sampai siang.
Suasana
Pasar Tugu sangat ramai oleh pengunjung. Ada yang datang untuk tujuan olahraga
pagi, tetapi banyak juga yang datang untuk menikmati wisata kuliner atau
belanja murah meriah sekaligus menikmati sejuknya udara pagi kota Malang.
"Ta,
bagus nggak?", tanya Lina sembari mencoba sebuah bando di stan perhiasan
dan aksesori.
"Nggg...",
Arta memperhatikan dengan raut serius, sedikit memiringkan kepalanya.
"Bagus, tapi hiasan kumbang itu kurang cocok menurutku", pendapatnya.
"Masa?
Padahal lucu lho", kata Lina sambil melepas bando, lalu memperhatikan hiasannya
yang bebentuk kumbang merah hitam.
"Menurutku
yang ini lebih cocok", kara Arta menyodorkan sebuah bando lebar berwarna
putih dengan hiasan bola basket.
"Waaahh...",
Lina dengan antusias menerima bando itu, dia langsung menyukainya. "Kok
tadi aku enggak lihat ada bando ini ya?", lanjutnya masih terkagum-kagum.
"Cuma
tersisa satu itu sepertinya", sahut Arta.
"Berapa
harganya, Pak?", Lina langsung bertanya kepada penjual seraya mengeluarkan
dompetnya.
"Maaf,
Mbak. Itu bukan barang dagangan saya, tapi punya Mas itu", jawab si
penjual sambil menunjuk Arta.
"Hah?",
Lina mengerutkan dahi. Bingung. "Maksudnya?", lanjutnya masih
kebingungan.
"Itu
bando punya Mas ini", jelas si penjual. "Tadi dia mengeluarkan bando
dari tasnya".
"Jadiii...",
Lina memandang Arta lekat-lekat. Meminta penjelasan.
Arta
tidak menjawab, hanya nyengir seperti yang biasa dia lakukan. Setelah itu dia
meraih tangan Lina yang memegang bando.
"Ini
bando edisi khusus", katanya sambil menekan hiasan bola basket.
"Waaahh...",
Lina terperangah ketika hiasan bola basket itu terbuka. Di dalam hiasan itu
tertulis namanya, dihiasi beberapa butir kristal imitasi berwarna biru.
"Terima kasih, Ta", katanya sambil memberikan sebuah pelukan.
Lina
merasa sangat bahagia. Dia selalu merasa senang dengan kejutan-kejutan kecil
yang diberikan Arta. Hal-hal biasa, bahkan sepele, selalu bisa dijadikan
sesuatu yang spesial olehnya. Lina bersyukur telah menjadi kekasih Arta.
* *
* * *
"Eh,
Lin... Tunggu disini sebentar ya. Tasku tertinggal di stan aksesori yang
tadi", kata Arta setelah mereka berjalan tak jauh dari tempat tadi.
Lina
hanya menjawab dengan anggukan, senyuman masih terkembang di wajahnya. Arta
segera berlari kecil menuju stan aksesoris yang berjarak sekitar sepuluh meter
dari tempat mereka berdiri.
"Pak
Jon, terima kasih banyak ya. Nanti malam kita ngopi sama-sama", kata Arta
sambil tersenyum. Dia meraih tasnya.
"Oke,
Ta", jawab si penjual yang bernama Pak Jon itu sambil mengacungkan ibu
jari. Arta tersenyum puas, lalu segera kembali menuju Lina yang menunggunya.
* *
* * *
Photo courtesy of Taman Asmoro
Catatan:
Pasar Wisata Belanja Tugu Malang, atau lebih
dikenal sebagai Pasar Minggu dan Pasar Pagi, dikelola oleh Dinas Pariwisata
Informasi dan Komunikasi (Disparinkom) Pemerintah Kota Malang. Dimulai sekitar
tahun 1997/1998, awalnya pasar ini berlokasi di pelataran parkir Stadion
Gajayana Malang. Tetapi ketika pembangunan Mal Olympic Garden dan renovasi
stadion pada tahun 2008, pasar ini direlokasi ke jalan Semeru di sisi utara
stadion. Kemudian sempat direlokasi ke Lapangan Rampal dan Jalan Simpang
Balapan. Tetapi akhirnya kembali ke jalan Semeru hingga sekarang. Pada akhir
2013 wacana relokasi Pasar Tugu ke Lapangan Rampal kembali muncul terkait
penetapan Jalan Ijen sebagai destinasi wisata. Akan tetapi sampai saat ini
belum ada keputusan terkait relokasi tersebut. Jika Anda mempunyai kesempatan
berkunjung ke Kota Malang, jangan lewatkan untuk mampir ke venue ini. :)

No comments:
Post a Comment