Thursday, January 23, 2014

Sebuah Cerita Pagi



"Arta, hari Minggu nanti kamu sibuk nggak?", tanya Lina setelah meminum es tehnya. Siang itu cuaca panas, penjual minuman dingin di kantin sekolah diserbu para siswa yang kehausan.

"Minggu? Aku sih fleksibel saja", jawab Arta sambil bersiap menyesap kopi hitamnya. Anak ini memang penggemar kopi hitam dan anti minuman dingin. Bahkan dalam cuaca sepanas inipun dia tetap setia meminum kopi hitam yang mengepulkan uap.

"Kita jalan yuk?", ajak Lina dengan senyum manisnya.

"Kemana?", tanya Arta lagi.

"Nggg... Aku pinginnya kamu yang pilih tempat", kali ini Lina menjawab sambil nyengir.

"Beneran nih? Ntar kamu kurang suka sama tempatnya?", goda Arta.

"Hehehe... Aku sih fleksibel saja", jawab Lina dengan nada manja.

"Eits... Itu kata-kataku", kata Arta sambil menyentil ujung hidung kekasihnya itu. Selanjutnya tawa renyah mereka membuat suasana terasa sejuk di sudut kantin sekolah itu.

* * * * *

"Eh, nak Arta. Tumben pagi-pagi sudah main kesini?", sambut Bu Sarah, ibunda Lina. Memang saat itu baru pukul enam pagi ketika Arta menjemput Lina.

"Iya, Tante. Saya ingin mengajak Lina jalan-jalan pagi", jawab Arta dengan sopan.

"Oh, pantas saja Lina minta dibangunkan lebih awal. Ada kencan pagi ternyata", goda Bu Sarah sambil tersenyum. Senyum manis yang menurun ke putrinya.

* * * * *

Jarum jam baru menunjukkan tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi ketika mereka berdua memasuki area Pasar Tugu. Pasar Tugu yang berada di area parkir Stadion Gajayana Malang ini awalnya hanya sekumpulan kecil pedagang kaki lima. Mereka berjualan disini karena minggu pagi selalu ramai oleh warga yang berolahraga.

Semakin lama, semakin banyak pedagang yang ikut mencari rejeki disini. Tak hanya makanan dan minuman, tetapi juga bermacam-macam barang dagangan digelar. Nama Pasar Tugu adalah singkatan dari "Sabtu Minggu". Disebut begitu karena para pedagang mulai mempersiapkan stan mereka hari Sabtu malam dan berdagang hari Minggu pagi sampai siang.

Suasana Pasar Tugu sangat ramai oleh pengunjung. Ada yang datang untuk tujuan olahraga pagi, tetapi banyak juga yang datang untuk menikmati wisata kuliner atau belanja murah meriah sekaligus menikmati sejuknya udara pagi kota Malang.

"Ta, bagus nggak?", tanya Lina sembari mencoba sebuah bando di stan perhiasan dan aksesori.

"Nggg...", Arta memperhatikan dengan raut serius, sedikit memiringkan kepalanya. "Bagus, tapi hiasan kumbang itu kurang cocok menurutku", pendapatnya.

"Masa? Padahal lucu lho", kata Lina sambil melepas bando, lalu memperhatikan hiasannya yang bebentuk kumbang merah hitam.

"Menurutku yang ini lebih cocok", kara Arta menyodorkan sebuah bando lebar berwarna putih dengan hiasan bola basket.

"Waaahh...", Lina dengan antusias menerima bando itu, dia langsung menyukainya. "Kok tadi aku enggak lihat ada bando ini ya?", lanjutnya masih terkagum-kagum.

"Cuma tersisa satu itu sepertinya", sahut Arta.

"Berapa harganya, Pak?", Lina langsung bertanya kepada penjual seraya mengeluarkan dompetnya.

"Maaf, Mbak. Itu bukan barang dagangan saya, tapi punya Mas itu", jawab si penjual sambil menunjuk Arta.

"Hah?", Lina mengerutkan dahi. Bingung. "Maksudnya?", lanjutnya masih kebingungan.

"Itu bando punya Mas ini", jelas si penjual. "Tadi dia mengeluarkan bando dari tasnya".

"Jadiii...", Lina memandang Arta lekat-lekat. Meminta penjelasan.

Arta tidak menjawab, hanya nyengir seperti yang biasa dia lakukan. Setelah itu dia meraih tangan Lina yang memegang bando.

"Ini bando edisi khusus", katanya sambil menekan hiasan bola basket.

"Waaahh...", Lina terperangah ketika hiasan bola basket itu terbuka. Di dalam hiasan itu tertulis namanya, dihiasi beberapa butir kristal imitasi berwarna biru. "Terima kasih, Ta", katanya sambil memberikan sebuah pelukan.

Lina merasa sangat bahagia. Dia selalu merasa senang dengan kejutan-kejutan kecil yang diberikan Arta. Hal-hal biasa, bahkan sepele, selalu bisa dijadikan sesuatu yang spesial olehnya. Lina bersyukur telah menjadi kekasih Arta.

* * * * *

"Eh, Lin... Tunggu disini sebentar ya. Tasku tertinggal di stan aksesori yang tadi", kata Arta setelah mereka berjalan tak jauh dari tempat tadi.

Lina hanya menjawab dengan anggukan, senyuman masih terkembang di wajahnya. Arta segera berlari kecil menuju stan aksesoris yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.

"Pak Jon, terima kasih banyak ya. Nanti malam kita ngopi sama-sama", kata Arta sambil tersenyum. Dia meraih tasnya.

"Oke, Ta", jawab si penjual yang bernama Pak Jon itu sambil mengacungkan ibu jari. Arta tersenyum puas, lalu segera kembali menuju Lina yang menunggunya.

* * * * *


Photo courtesy of Taman Asmoro

Catatan:
Pasar Wisata Belanja Tugu Malang, atau lebih dikenal sebagai Pasar Minggu dan Pasar Pagi, dikelola oleh Dinas Pariwisata Informasi dan Komunikasi (Disparinkom) Pemerintah Kota Malang. Dimulai sekitar tahun 1997/1998, awalnya pasar ini berlokasi di pelataran parkir Stadion Gajayana Malang. Tetapi ketika pembangunan Mal Olympic Garden dan renovasi stadion pada tahun 2008, pasar ini direlokasi ke jalan Semeru di sisi utara stadion. Kemudian sempat direlokasi ke Lapangan Rampal dan Jalan Simpang Balapan. Tetapi akhirnya kembali ke jalan Semeru hingga sekarang. Pada akhir 2013 wacana relokasi Pasar Tugu ke Lapangan Rampal kembali muncul terkait penetapan Jalan Ijen sebagai destinasi wisata. Akan tetapi sampai saat ini belum ada keputusan terkait relokasi tersebut. Jika Anda mempunyai kesempatan berkunjung ke Kota Malang, jangan lewatkan untuk mampir ke venue ini. :)

No comments:

Post a Comment