Tuesday, January 21, 2014

Aku Hanya Ingin Mengenalmu



'GRRR...'

Suara geraman itu langsung membuatku merinding. Pelan aku menoleh ke sumber suara. Kulihat seekor pitbull hitam menyeringai dan terus menggeram. Matanya garang menatapku.

'GUK!'

Gonggongan pitbull itu seakan sebuah aba-aba lomba lari jarak pendek. Anjing itu berlari ke arahku, yang juga berlari di saat bersamaan. Dalam kepanikan, aku berlari jauh lebih cepat. Tetapi secepat apapun aku berlari, suara gonggongan pitbull itu terus terdengar di belakangku.

"Bleki! Berhenti!"

Aku mendengar suara lembut tapi tegas di belakangku. Suara merdu yang membuatku penasaran untuk melihat sosoknya. Tetapi gonggongan pitbull itu memaksaku terus berlari. Suara gonggongannya perlahan menjauh, dan akhirnya tak terdengar lagi setelah beberapa blok.

Aku berhenti setelah melewati satu blok berikutnya. Aku berusaha mengatur kembali nafasku, sambil sesekali mengusap keringat di wajah. Ini sudah kesekian kalinya aku dikejar anjing saat jogging sore. Entah sudah berapa kali aku mengubah rute jogging, tetapi hampir di setiap kesempatan selalu saja ada sesi sprint dikejar anjing.

* * *

Biasanya aku akan mengambil rute berbeda setelah bertemu seekor anjing di hari sebelumnya. Tetapi sore ini aku sengaja mengambil rute yang sama. Tak bisa kupungkiri, suara merdu itu benar-benar membangkitkan rasa penasaranku. Aku ingin tahu pemilik suara merdu, yang kuduga juga pemilik anjing pitbull tersebut.

Sore itu jogging berjalan aman tanpa ada sesi dikejar anjing. Ada rasa lega sekaligus kecewa. Entahlah, aku tak bisa menjelaskan perasaan itu. Hari kedua juga sama saja, situasi aman. Begitu pula hari ketiga, keempat dan selanjutnya. Aku mulai berpikir pemilik suara merdu itu bukanlah penduduk sekitar sini. Tak mendapat hasil, aku mulai melupakan keingintahuanku.

* * *

Dua minggu sudah aku jogging sore tanpa sekalipun bertemu anjing. Aku semakin menikmati sesi joggingku. Terlalu asyik, aku lupa sudah berapa lama berlari. Saat aku sadar, suasana sekitar sudah remang-remang. Kulihat langit, bulan purnama membuat malam tak segelap biasanya.

'GRRR...'

Aku langsung merinding mendengar geraman itu. Kulihat pitbull itu tepat di hadapanku. Anjing itu merendahkan badannya, siap menerkam kapan saja. Tak lupa dia memamerkan deretan gigi runcingnya.

'GUK!'

Aku tak sanggup berbalik dan berlari. Aku hany bisa menatap tajam ke arah anjing itu. Anjing itu terus menggonggong ke arahku, tetapi tidak menyerang. Dia mendekat maju beberapa langkah, kemudian melompat mundur sambil terus menggonggong.

"Bleki! Diam!"

Suara merdu itu kembali terdengar. Merdu  dan lembut, tetapi tegas. Pitbull itu terus menggonggong.

"Bleki! Diam"

Anjing itu tak lagi menggonggong, tetapi terus menggeram. Lalu muncullah sesosok bayangan berlari kecil menghampiri anjing itu. Inilah pertama kali aku melihat pemilik suara merdu itu. Seorang gadis cantik yang jauh lebih menarik dari bayanganku. Rambut hitamnya terurai sampai punggung, berkilau ditimpa sinar rembulan. Aku terpana.

Gadis itu membungkuk dan mengaitkan tali di kalung leher anjingnya yang terus saja menggeram. Setelah itu dia berdiri dan menatapku, lalu diam.

Yang terjadi berikutnya sangat cepat. Anjing itu berbalik dan berlari, menarik tuannya menjauh. Aku tersadar dan berlari mengejar mereka. Aku harus berkenalan dengan gadis itu!

Aku berteriak untuk memanggilnya.

Spontan saja aku berhenti. Diam.

Terkejut mendengar lolonganku sendiri.

* * *

No comments:

Post a Comment