'GRRR...'
Suara
geraman itu langsung membuatku merinding. Pelan aku menoleh ke sumber suara.
Kulihat seekor pitbull hitam menyeringai dan terus menggeram. Matanya garang
menatapku.
'GUK!'
Gonggongan
pitbull itu seakan sebuah aba-aba lomba lari jarak pendek. Anjing itu berlari
ke arahku, yang juga berlari di saat bersamaan. Dalam kepanikan, aku berlari
jauh lebih cepat. Tetapi secepat apapun aku berlari, suara gonggongan pitbull
itu terus terdengar di belakangku.
"Bleki!
Berhenti!"
Aku
mendengar suara lembut tapi tegas di belakangku. Suara merdu yang membuatku
penasaran untuk melihat sosoknya. Tetapi gonggongan pitbull itu memaksaku terus
berlari. Suara gonggongannya perlahan menjauh, dan akhirnya tak terdengar lagi
setelah beberapa blok.
Aku
berhenti setelah melewati satu blok berikutnya. Aku berusaha mengatur kembali
nafasku, sambil sesekali mengusap keringat di wajah. Ini sudah kesekian kalinya
aku dikejar anjing saat jogging sore. Entah sudah berapa kali aku mengubah rute
jogging, tetapi hampir di setiap kesempatan selalu saja ada sesi sprint dikejar
anjing.
* *
*
Biasanya
aku akan mengambil rute berbeda setelah bertemu seekor anjing di hari
sebelumnya. Tetapi sore ini aku sengaja mengambil rute yang sama. Tak bisa
kupungkiri, suara merdu itu benar-benar membangkitkan rasa penasaranku. Aku
ingin tahu pemilik suara merdu, yang kuduga juga pemilik anjing pitbull
tersebut.
Sore
itu jogging berjalan aman tanpa ada sesi dikejar anjing. Ada rasa lega
sekaligus kecewa. Entahlah, aku tak bisa menjelaskan perasaan itu. Hari kedua
juga sama saja, situasi aman. Begitu pula hari ketiga, keempat dan selanjutnya.
Aku mulai berpikir pemilik suara merdu itu bukanlah penduduk sekitar sini. Tak
mendapat hasil, aku mulai melupakan keingintahuanku.
* *
*
Dua
minggu sudah aku jogging sore tanpa sekalipun bertemu anjing. Aku semakin
menikmati sesi joggingku. Terlalu asyik, aku lupa sudah berapa lama berlari.
Saat aku sadar, suasana sekitar sudah remang-remang. Kulihat langit, bulan
purnama membuat malam tak segelap biasanya.
'GRRR...'
Aku
langsung merinding mendengar geraman itu. Kulihat pitbull itu tepat di
hadapanku. Anjing itu merendahkan badannya, siap menerkam kapan saja. Tak lupa
dia memamerkan deretan gigi runcingnya.
'GUK!'
Aku
tak sanggup berbalik dan berlari. Aku hany bisa menatap tajam ke arah anjing
itu. Anjing itu terus menggonggong ke arahku, tetapi tidak menyerang. Dia
mendekat maju beberapa langkah, kemudian melompat mundur sambil terus
menggonggong.
"Bleki!
Diam!"
Suara
merdu itu kembali terdengar. Merdu dan
lembut, tetapi tegas. Pitbull itu terus menggonggong.
"Bleki!
Diam"
Anjing
itu tak lagi menggonggong, tetapi terus menggeram. Lalu muncullah sesosok
bayangan berlari kecil menghampiri anjing itu. Inilah pertama kali aku melihat
pemilik suara merdu itu. Seorang gadis cantik yang jauh lebih menarik dari
bayanganku. Rambut hitamnya terurai sampai punggung, berkilau ditimpa sinar
rembulan. Aku terpana.
Gadis
itu membungkuk dan mengaitkan tali di kalung leher anjingnya yang terus saja
menggeram. Setelah itu dia berdiri dan menatapku, lalu diam.
Yang
terjadi berikutnya sangat cepat. Anjing itu berbalik dan berlari, menarik
tuannya menjauh. Aku tersadar dan berlari mengejar mereka. Aku harus berkenalan
dengan gadis itu!
Aku
berteriak untuk memanggilnya.
Spontan
saja aku berhenti. Diam.
Terkejut
mendengar lolonganku sendiri.
* *
*
No comments:
Post a Comment