Hari sabtu ini cuaca cerah, sangat cerah malah. Tampak Arta dan Wawan sedang duduk di kantin sekolah. Jam pelajaran sudah usai, tetapi mereka berdua masih enggan pulang karena teriknya matahari. Wawan sedang meminum es teh, gelas keduanya. Sedangkan Arta sedang menyeruput kopi panas. Kopi panas di hari yang terik? Kombinasi yang aneh. Tetapi Wawan tampaknya sudah terbiasa dengan keanehan sahabatnya itu. Arta memang selalu menyukai kopi dalam kondisi apapun, kecuali jika memang tidak ada kopi sama sekali.
"Jadi, besok kencan pertamamu sama Lina ya?", tanya Wawan. Arta sedikit tersedak mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
"Bukan kencan sih, cuma jalan saja", jawab Arta setelah menyeka mulutnya.
"Apa bedanya? Sama saja kan?", sergah Wawan.
"Yaahh... Dibilang sama juga boleh lah", jawab Arta nyengir. Memang besok Arta akan keluar bareng Lina, cewek idola sekolah yang sebenarnya disukai Wawan. Tetapi karena sebuah tantangan, Wawan harus gigit jari karena Lina memilih Arta untuk jalan dengannya.
"Good luck ya, Ta", kata Wawan setelah menenggak habis minumannya.
"Thanks, mamen", jawab Arta singkat. Mereka kemudian melakukan tos diikuti jabat tangan erat. Wawan meninggalkan kantin untuk mengikuti latihan tim basket. Dia baru saja bergabung dengan tim basket putra sekolah atas saran Lina. Sedangkan Arta tetap tinggal di kantin, menghabiskan kopinya.
* * * * *
"Kita mau jalan kemana nih?", tanya Lina setelah Arta menjemputnya hari minggu pagi. Dia tampak antusias.
"Pertama, kita ke perpustakaan kota dulu", jawab Arta enteng
"Perpustakaan?", jawab Lina mengerenyitkan dahi. Perpustakaan bukanlah tempat yang lumrah untuk kencan.
"Udaaah... ikut saja", jawab Arta enteng.
"Baiklah", Lina masih saja tak habis pikir, kencan di perpustakaan? Dimana romantisnya? Tetapi dia menurut saja, siapa tahu Arta menyiapkan sebuah kejutan untuknya.
Dua puluh menit perjalanan naik mikrolet, mereka telah sampai di perpustakaan milik pemerintah kota. Ternyata di pelataran perpustakaan sedang diadakan bazaar buku. Arta segera mengajak Lina ke arena bazaar. Lina suka membaca, tetapi dia terlanjur berharap akan mendapat sebuat kencan yang romantis bersama Arta. Moodnya mendadak drop saat Arta memberinya sebuah kencan yang jauh berbeda dari apa yang diharapkannya. Apalagi saat dilihatnya Arta begitu bersemangat memilih buku-buku. Sebuah penilaian hadir di benak Lina, Arta adalah sosok yang egois.
"Halooo...", kata Arta sambil menggerakkan telapak tangan di depan wajah Lina. "Kok melamun saja?", tanya Arta sambil cengengesan seperti biasa.
"Hah? Oohh, enggak... Eh, iya... Melamun", jawab Lina gelagapan.
"Aku sudah selesai nih", kata Arta sambil mengangkat tas plastik berisi beberapa buku yang dibelinya tadi.
"Woww... Banyak sekali buku yang kau beli?", tanya Lina.
"Banyak buku bagus dan juga murah, jadi dapat banyak deh", sahut Arta dengan cengirannya. "Lanjut jalan yuk", diraihnya tangan Lina.
"Iya...", Lina sedikit kaget ketika tiba-tiba Arta menggandeng tangannya. Dia segera berjalan mengikuti Arta, menyeberang jalan menuju sebuah bangunan besar dengan beberapa alat perang terpajang di pelatarannya. 'Museum?' kata Lina dalam hati. Dia makin tak paham dengan definisi kencan yang ada dalam pikiran Arta.
Mereka berjalan sambil mengamati barang-barang yang dipamerkan dalam museum. Beberapa kali Lina menanyakan tentang barang yang belum pernah dilihatnya. Arta selalu menjawab dengan lancar, seolah dia adalah pemandu museum. Sesekali Arta menjelaskan dengan gaya yang lucu, dan itu bisa membuat Lina tertawa. 'Mungkin kencan dengan Arta tidak akan romantis, tetapi dia cukup menyenangkan', batin Lina kembali membuat penilaian. Dari situ dia memutuskan untuk menikmati saja saat-saat kencan mereka.
Setelah puas melihat barang-barang yang dipamerkan, Arta membeli dua es krim coklat dan membaginya dengan Lina.
"Kok tahu aku suka es krim coklat?", Lina menerima es krim itu dengan senang. Arta cuma menanggapinya dengan cengiran, lalu kembali diraihnya tangan Lina. Arta menariknya ke arah belakang museum. "Eh, mau kemana kita? Di belakang sana bukan area pameran kan?", Lina sedikit panik sekaligus penasaran. Arta tak menjawab, dia terus melangkah menuju pelataran belakang. Ternyata disana terdapat sebuah tangga menuju atap. Arta menarik Lina menaiki tangga itu. "Taaa... Kita enggak boleh ke atas, ada tanda larangan naik", kata Lina mencegah Arta, tetapi kakinya tetap melangkah mengikuti Arta. Dia mulai berpikir macam-macam. Panik, tetapi juga berharap tindakan Arta ini berujung pada suasana romantis seperti yang diharapkannya.
Di atap museum terdapat beberapa struktur bangunan yang berbentuk seperti payung raksasa. Arta mengajak Lina duduk di salah satu kursi panjang di bawahnya. Arta melepas gandengan tangannya, lalu merangkul pundak Lina.
"Lihat. Tidak setiap hari kamu bisa lihat pemandangan ini", kata Arta sambil menunjukkan pemandangan yang tampak di bawah mereka.
Tampak dengan jelas boulevard yang memanjang di tengah jalan Ijen. Lalu di seberang tampak bangunan perpustakaan kota berdiri dengan megah. Di tengah boulevard, tepat di depan museum, berdiri tegak monumen Melati Kadet Suropati. Tampak pula bangunan rumah bergaya kolonial berderet di tepi jalan Ijen. Benar-benar sebuah kombinasi lanscape yang sangat indah. Lina tak menyangka bisa melihat pemandangan indah ini. Dia sering melewati kawasan ini, tetapi baru kali ini dia melihatnya dari atas.
"Ta... Indah sekali...", hanya itu yang bisa dikatakan Lina.
"Jadi, lebih indah mana dengan makan berdua di kafe atau nonton bioskop?", tanya Arta sambil nyengir.
"Aaahhh...", tiba-tiba saja Lina merasa wajahnya panas. Dia tahu wajahnya pasti bersemu merah sekarang. Ternyata Arta bisa membaca pikirannya. "Ini jauh lebih indah", lanjut Lina sambil merapatkan tubuhnya dalam pelukan Arta. "Terima kasih untuk kencan terindah ini, Ta", bisik Lina pelan. Arta memberikan kecupan lembut di dahi Lina.
'Sesuai yang kuharapkan', batin Arta.
No comments:
Post a Comment