Friday, May 3, 2013

Secangkir Kopi dan Bayangmu

Ino, Artha dan Wawan turun dari panggung dengan senyum puas. Penampilan band ASK For More sangat sensasional malam ini. Di depan panggung, koor 'we want more, ask for more' terus berkumandang. Tetapi show spektakuler ini harus diakhiri. Ketiga personil sudah sangat lelah setelah membawakan total 14 lagu.
Artha duduk bersandar di ruang ganti, handuk basah menutup kepalanya. Dia masih tidak percaya bahwa lagu ciptaannya mendapat applaus luar biasa. Lagu ballad itu sebenarnya masih belum sempurna, tetapi karena materi lagu sudah habis akhirnya lagu itu ditampilkan dalam format akustik sebagai lagu pamungkas. Itu lagu pertama ciptaan Artha, lagu tentang kekasihnya.

* * * * *

Sudah lewat tengah malam saat Artha masuk ke rumah. Setelah mandi dia segera menyeduh kopi, minuman favoritnya, kopi murni dengan sedikit gula. Artha menyesapnya sedikit. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat pahit itu terasa di lidahnya. Rasa pahit itu yang mempertemukannya dengan Puspita. Berawal dari sebuah komplain Artha karena kopi yang dipesannya sangat pahit. Ternyata Puspita, pegawai part time yang menyeduh kopi itu, lupa menambahkan gula. Tetapi setelah Artha menjumpai pegawai tersebut, komplainnya berubah menjadi sebuah perkenalan. Sosok Puspita membuat Artha jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itulah Artha gemar mengkonsumsi kopi pahit.
Dipandangnya cangkir itu, disana tercetak simbol cinta berwarna merah hati. Empat tahun lalu Puspita membelinya untuk Artha. Tepat sebelum Puspita berangkat ke Papua. Ya, Puspita adalah seorang guru yang baru saja ditugaskan di daerah terpencil selama empat tahun. Sejak saat itu mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. Puspita hanya bisa menghubungi Artha lewat panggilan telepon saat dia pergi ke kota terdekat untuk mengambil gaji dan membeli kebutuhan lain. Walau disebut kota terdekat, tetapi membutuhkan lebih dari setengah hari perjalanan.
Tetapi semua kendala itu tak berarti karena mereka telah terikat pada komitmen untuk saling percaya. Bahkan mereka berencana menikah setelah masa tugas Puspita usai.
Empat tahun terasa cepat berlalu. Hari itu Puspita telah kembali dari Papua, empat hari lebih awal dari rencana semula. Di dalam gereja sudah penuh dengan keluarga, kerabat dan teman-teman terdekat. Semuanya mengikuti prosesi dengan khidmat. Artha hampir tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Tangan kanannya terkepal, menggenggam cincin pernikahan. Bulir keringat mulai bermunculan di wajahnya. Ino, sahabat Artha mengiringinya menuju altar. Puspita memakai gaun putih yang anggun, membuatnya tampak seperti bidadari. Sebuah senyuman tersungging di bibir mungilnya. Artha melangkah mendekati Puspita. Dia berlutut, diraihnya tangan Puspita, kemudian disematkannya cincin di jari manis Puspita. Tiba-tiba Artha merasa sesak dan pandangannya berangsur menjadi gelap. Dia mendengar jeritan panik dari orang-orang di sekitarnya. Setelah itu tak ada lagi yang bisa dirasakannya.

* * * * *

Artha menghabiskan kopinya. Pahit kopi selalu mengingatkan Artha pada senyuman Puspita setahun yang lalu itu. Ya... Hari ini genap setahun meninggalnya Puspita. Infeksi paru kronis telah membunuhnya empat hari sebelum masa tugasnya berakhir.

**pernah diposting di Facebook pada 3 Februari 2012**

No comments:

Post a Comment