Ino, Artha dan Wawan turun dari panggung dengan senyum puas. Penampilan
band ASK For More sangat sensasional malam ini. Di depan panggung, koor
'we want more, ask for more' terus berkumandang. Tetapi show spektakuler
ini harus diakhiri. Ketiga personil sudah sangat lelah setelah
membawakan total 14 lagu.
Artha duduk bersandar di ruang ganti, handuk basah menutup kepalanya.
Dia masih tidak percaya bahwa lagu ciptaannya mendapat applaus luar
biasa. Lagu ballad itu sebenarnya masih belum sempurna, tetapi karena
materi lagu sudah habis akhirnya lagu itu ditampilkan dalam format
akustik sebagai lagu pamungkas. Itu lagu pertama ciptaan Artha, lagu
tentang kekasihnya.
* * * * *
Sudah lewat tengah malam saat Artha masuk ke rumah. Setelah mandi dia
segera menyeduh kopi, minuman favoritnya, kopi murni dengan sedikit
gula. Artha menyesapnya sedikit. Senyum tipis tersungging di bibirnya
saat pahit itu terasa di lidahnya. Rasa pahit itu yang mempertemukannya
dengan Puspita. Berawal dari sebuah komplain Artha karena kopi yang
dipesannya sangat pahit. Ternyata Puspita, pegawai part time yang
menyeduh kopi itu, lupa menambahkan gula. Tetapi setelah Artha menjumpai
pegawai tersebut, komplainnya berubah menjadi sebuah perkenalan. Sosok
Puspita membuat Artha jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak saat
itulah Artha gemar mengkonsumsi kopi pahit.
Dipandangnya cangkir itu, disana tercetak simbol cinta berwarna merah
hati. Empat tahun lalu Puspita membelinya untuk Artha. Tepat sebelum
Puspita berangkat ke Papua. Ya, Puspita adalah seorang guru yang baru
saja ditugaskan di daerah terpencil selama empat tahun. Sejak saat itu
mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. Puspita hanya bisa
menghubungi Artha lewat panggilan telepon saat dia pergi ke kota
terdekat untuk mengambil gaji dan membeli kebutuhan lain. Walau disebut
kota terdekat, tetapi membutuhkan lebih dari setengah hari perjalanan.
Tetapi semua kendala itu tak berarti karena mereka telah terikat pada
komitmen untuk saling percaya. Bahkan mereka berencana menikah setelah
masa tugas Puspita usai.
Empat tahun terasa cepat berlalu. Hari itu Puspita telah kembali dari
Papua, empat hari lebih awal dari rencana semula. Di dalam gereja sudah
penuh dengan keluarga, kerabat dan teman-teman terdekat. Semuanya
mengikuti prosesi dengan khidmat. Artha hampir tak bisa mengendalikan
perasaannya sendiri. Tangan kanannya terkepal, menggenggam cincin
pernikahan. Bulir keringat mulai bermunculan di wajahnya. Ino, sahabat
Artha mengiringinya menuju altar. Puspita memakai gaun putih yang
anggun, membuatnya tampak seperti bidadari. Sebuah senyuman tersungging
di bibir mungilnya. Artha melangkah mendekati Puspita. Dia berlutut,
diraihnya tangan Puspita, kemudian disematkannya cincin di jari manis
Puspita. Tiba-tiba Artha merasa sesak dan pandangannya berangsur menjadi
gelap. Dia mendengar jeritan panik dari orang-orang di sekitarnya.
Setelah itu tak ada lagi yang bisa dirasakannya.
* * * * *
Artha menghabiskan kopinya. Pahit kopi selalu mengingatkan Artha pada
senyuman Puspita setahun yang lalu itu. Ya... Hari ini genap setahun
meninggalnya Puspita. Infeksi paru kronis telah membunuhnya empat hari
sebelum masa tugasnya berakhir.
**pernah diposting di Facebook pada 3 Februari 2012**
No comments:
Post a Comment