Minggu pagi ini tidak seperti biasanya, setelah bangun dari tidurnya
Ajeng langsung menuju kamar mandi. Padahal hari minggu pagi selalu
dimanfaatkan Ajeng untuk memuaskan hasrat tidurnya. Ibunya tampak heran
dengan kelakuan putri tunggalnya itu.
"Tumben baru jam enam sudah mandi?", tanya Ibu setelah Ajeng keluar dari kamar mandi. "Ada acara penting ya?", lanjut sang Ibu.
"Iya, Bu. Diajak Sukoco main ke pantai", jawab Ajeng sambil tersenyum.
"Oooh, Sukoco pacar kamu itu. Hati-hati di jalan nanti, dan jangan
pulang terlalu malam", kata Ibu sambil tersenyum. Ibu Sri memang tidak
pernah terlalu mengekang Ajeng. Bahkan setelah lulus dari SMU, Ibu Sri
membebaskan anaknya untuk melakukan apapun yang dia suka. Bebas dalam
batas-batas wajar tentu saja. Karena Ibu menganggap Ajeng sudah cukup
dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Dan Ajeng menerima kepercayaan
Ibu Sri dengan penuh tanggung jawab.
"Aaahh Ibu... Sukoco itu teman Ajeng, bukan pacar", jawab Ajeng dengan nada sedikit manja.
Memang Ajeng dan Sukoco adalah sepasang sahabat. Mereka teman sekelas
sejak bangku SMP sampai SMA. Persahabatan mereka terus berlanjut walau
harus terpisah jarak. Sukoco meneruskan pendidikan kuliah di Surabaya,
sedangkan Ajeng bekerja di sebuah percetakan milik seorang familinya.
Kedekatan mereka membuat banyak orang mengira mereka adalah sepasang
kekasih. Termasuk Ibunya. Memang jika diperhatikan, mereka pasangan yang
serasi. Dan sejujurnya, Ajeng tak akan keberatan menjadi pacar Sukoco.
Dia telah menyimpan rasa cintanya cukup lama. Tetapi dia tak berani
mengatakannya dan memilih untuk menunggu dan terus menunggu.
Sukoco datang menjemput tepat waktu. Sementara Ajeng berdandan, Ibu Sri
menemani Sukoco berbasa-basi di ruang depan. Segera setelah siap dan
berpamitan, mereka berboncengan menuju pantai.
Setelah tiga jam perjalanan, sampailah mereka di pantai Bale Kambang,
pantai eksotis di pesisir selatan kota Malang. Mereka menghabiskan waktu
dengan bermain ombak, membuat istana pasir dan memuaskan hasrat narsis.
"Ajeng, misalnya persahabatan kita ini di upgrade ke tingkatan yang
lebih dekat kamu mau tidak?", tanya Sukoco saat mereka beristirahat
setelah makan siang.
"Hah? Maksudnya gimana?", Ajeng balik bertanya. Gelagapan.
"Aku mau hubungan kita lebih dari sahabat", kata Sukoco lagi.
"Lebih dari sahabat?", Ajeng terpana. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak
lebih cepat dari sebelumnya. Sukoco meraih telapak tangannya,
menggenggamnya erat.
"Aku mau kamu jadi pasangan hidupku", lanjut Sukoco, langsung to the point.
"Ah...", Ajeng masih gelagapan.
"Kamu tak perlu jawab sekarang, pikirkanlah dulu baik-baik", kata Sukoco tersenyum.
"Aku mau!", jawab Ajeng sedikit berteriak. Sukoco membalasnya dengan sebuah ciuman di kening Ajeng.
Penantian panjang Ajeng berakhir di sini. Sejak lama dia telah
mempersiapkan hatinya untuk Sukoco, dan sekarang Sukoco benar-benar
hadir untuk menempati hatinya.
* * * * *
Keesokan harinya, Ajeng terbangun dan merasakan sakit di sekujur
tubuhnya. Ibunya duduk di samping ranjang dan memegang erat tangannya.
Tiba-tiba saja Ajeng menangis. Sukoco hanya singgah di hatinya untuk
waktu yang teramat singkat. Sepulang dari pantai mereka mengalami
kecelakaan, Sukoco tewas di tempat setelah terlindas truk. Kepergian
Sukoco telah meninggalkan sebuah ruang hampa di hati Ajeng.
**pernah diposting di Facebook pada 10 Februari 2012**
No comments:
Post a Comment