Sunday, May 5, 2013

Ruang Hati

Minggu pagi ini tidak seperti biasanya, setelah bangun dari tidurnya Ajeng langsung menuju kamar mandi. Padahal hari minggu pagi selalu dimanfaatkan Ajeng untuk memuaskan hasrat tidurnya. Ibunya tampak heran dengan kelakuan putri tunggalnya itu.
"Tumben baru jam enam sudah mandi?", tanya Ibu setelah Ajeng keluar dari kamar mandi. "Ada acara penting ya?", lanjut sang Ibu.
"Iya, Bu. Diajak Sukoco main ke pantai", jawab Ajeng sambil tersenyum.
"Oooh, Sukoco pacar kamu itu. Hati-hati di jalan nanti, dan jangan pulang terlalu malam", kata Ibu sambil tersenyum. Ibu Sri memang tidak pernah terlalu mengekang Ajeng. Bahkan setelah lulus dari SMU, Ibu Sri membebaskan anaknya untuk melakukan apapun yang dia suka. Bebas dalam batas-batas wajar tentu saja. Karena Ibu menganggap Ajeng sudah cukup dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Dan Ajeng menerima kepercayaan Ibu Sri dengan penuh tanggung jawab.
"Aaahh Ibu... Sukoco itu teman Ajeng, bukan pacar", jawab Ajeng dengan nada sedikit manja.

Memang Ajeng dan Sukoco adalah sepasang sahabat. Mereka teman sekelas sejak bangku SMP sampai SMA. Persahabatan mereka terus berlanjut walau harus terpisah jarak. Sukoco meneruskan pendidikan kuliah di Surabaya, sedangkan Ajeng bekerja di sebuah percetakan milik seorang familinya. Kedekatan mereka membuat banyak orang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Termasuk Ibunya. Memang jika diperhatikan, mereka pasangan yang serasi. Dan sejujurnya, Ajeng tak akan keberatan menjadi pacar Sukoco. Dia telah menyimpan rasa cintanya cukup lama. Tetapi dia tak berani mengatakannya dan memilih untuk menunggu dan terus menunggu.

Sukoco datang menjemput tepat waktu. Sementara Ajeng berdandan, Ibu Sri menemani Sukoco berbasa-basi di ruang depan. Segera setelah siap dan berpamitan, mereka berboncengan menuju pantai.

Setelah tiga jam perjalanan, sampailah mereka di pantai Bale Kambang, pantai eksotis di pesisir selatan kota Malang. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain ombak, membuat istana pasir dan memuaskan hasrat narsis.

"Ajeng, misalnya persahabatan kita ini di upgrade ke tingkatan yang lebih dekat kamu mau tidak?", tanya Sukoco saat mereka beristirahat setelah makan siang.
"Hah? Maksudnya gimana?", Ajeng balik bertanya. Gelagapan.
"Aku mau hubungan kita lebih dari sahabat", kata Sukoco lagi.
"Lebih dari sahabat?", Ajeng terpana. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Sukoco meraih telapak tangannya, menggenggamnya erat.
"Aku mau kamu jadi pasangan hidupku", lanjut Sukoco, langsung to the point.
"Ah...", Ajeng masih gelagapan.
"Kamu tak perlu jawab sekarang, pikirkanlah dulu baik-baik", kata Sukoco tersenyum.
"Aku mau!", jawab Ajeng sedikit berteriak. Sukoco membalasnya dengan sebuah ciuman di kening Ajeng.

Penantian panjang Ajeng berakhir di sini. Sejak lama dia telah mempersiapkan hatinya untuk Sukoco, dan sekarang Sukoco benar-benar hadir untuk menempati hatinya.

* * * * *

Keesokan harinya, Ajeng terbangun dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ibunya duduk di samping ranjang dan memegang erat tangannya. Tiba-tiba saja Ajeng menangis. Sukoco hanya singgah di hatinya untuk waktu yang teramat singkat. Sepulang dari pantai mereka mengalami kecelakaan, Sukoco tewas di tempat setelah terlindas truk. Kepergian Sukoco telah meninggalkan sebuah ruang hampa di hati Ajeng.

**pernah diposting di Facebook pada 10 Februari 2012**

No comments:

Post a Comment