"Ta, ntar pulang sekolah aku tunggu di kantin ya", kata Wawan saat bel
sekolah berbunyi, menandakan jam istirahat telah berakhir.
"OK brooo...", sahut Arta sambil melangkah masuk ke kelasnya. Wawan dan
Arta adalah siswa kelas dua di SMU Negeri 4 Malang. Mereka teman akrab
walau baru berkenalan saat kelas satu, dimana mereka berada dalam kelas
yang sama. Kesamaan minat pada musik dan sepakbola membuat mereka cepat
sekali menjadi akrab.
Sepulang sekolah Wawan langsung menuju kantin yang letaknya dekat dengan lapangan basket.
"Lama banget sih kamu, dari mana aja?", tanya Wawan sedikit kesal saat Arta baru muncul lima belas menit kemudian.
"Sori bro, hari ini giliranku piket. Jadi beres-beres kelas dulu", jawab
Arta sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Wawan. "Jadi? Ada
kepentingan apa hari ini?", lanjut Arta. Wawan tidak menjawab, dia hanya
memberi isyarat dengan dagunya ke arah lapangan basket.
Siang ini di lapangan basket sekolah ada latihan. Klub basket cewek
sedang mempersiapkan tim untuk pertandingan final tiga hari kemudian.
Dari semua anggota klub yang berlatih, tampak dua cewek yang terlihat
paling menonjol. Mereka adalah Ayu dan Lina, keduanya adalah pemain
andalan tim. Mereka juga dianugerahi fisik yang sempurnya. Duet bidadari
basket, begitulah mereka dijuluki.
"Jadi, mana yang kamu incar?", tanya Arta tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan.
"Eh? Incar?", Wawan tampak sedikit gelagapan dengan pertanyaan Arta. "Incar gimana maksudmu?"
"Hahaha... Kamu mudah sekali terbaca, bro", Arta tersenyum lebar. "Jadi, yang mana?"
Wajah Wawan langsung memerah, dia menunduk malu. Malu karena maksudnya
sudah diketahui Arta sebelum dia mengatakannya. "Lina", jawabnya pelan.
"I suggest a gamble", kata Arta setelah diam beberapa saat.
"Hah?", kali ini Wawan benar-benar tak paham dengan maksud Arta. Memang
Arta sering bicara ngelantur, tapi kali ini ucapannya tadi lebih dari
sekedar ngelantur bagi Wawan. Apa hubungannya cewek incaran sama judi?
Arta masih diam, rupanya dia menunggu apakah Wawan memahami maksud
ucapannya tadi atau tidak. Tetapi raut wajah Wawan menunjukkan bahwa
otaknya sedang menemui jalan buntu dalam usahanya menemukan korelasi
antara cewek incaran dan judi.
"Lina itu...", akhirnya Arta bicara. "Dia mencintai basket, dan tidak
ada yang meragukan itu. Banyak cowok yang ingin menjadikan dia kekasih.
Tetapi sejauh ini Lina sudah menolak semuanya", lanjut Arta. Kali ini
Wawan mendengarkan dengan serius.
"Lalu apa hubungannya dengan judi?", tanya Wawan, serius.
"Selain penggila basket, Lina itu cewek yang fair dan suka tantangan.
Dia juga selalu menepati janji yang dia buat", Arta melanjutkan dengan
wajah serius.
"Hubungannya dengan judi?", kali ini Wawan makin penasaran. Penasaran
dengan korelasi antara Lina dan judi, juga penasaran darimana Arta bisa
mengetahui info detail tentang Lina.
"Kamu tantang dia, buat dia berjanji", tukas Arta.
"Lalu... Apa hubungannya dengan judi?", tanya Wawan lagi. Kali ini dengan muka bloon.
**GUBRAAKK** (sound effect nih critanya)
"Maksudku, kamu tantangin dia dan buat perjanjian kalau kamu menang dia jadi pacarmu", lanjut Arta.
"Oooo... Begitu toh maksudmu. Bilang dong dari tadi", senyum lebar menghiasi wajah Wawan sekarang. "Eh, tapi tantangan apa ya?"
"Kamu bisa basket gak?", tanya Arta.
"Hohoho... Jangan anggap enteng. Aku jago basket saat SMP", jawab Wawan, masih tersenyum lebar.
"Baguslah kalau begitu, tantangin Lina main basket dan menanglah", lanjut Arta dengan enteng.
"Eh eh, tunggu dulu. Aku tanding sama Lina? Secara fisik enggak imbang dong. Mana mau dia?", jawab Wawan.
"Pikir lagi dong bro... Kalau adu free throw gak perlu adu fisik kan", kata Arta sambil memukul pelan lengan Wawan.
Latihan tim basket putri berakhir dua jam kemudian. Tetapi Ayu dan Lina
seperti biasa selalu berlatih sendiri setelah latihan bersama tim.
Mungkin karena latihan tambahan ini mereka berdua memiliki kemampuan di
atas rata-rata pemain yang lain.
"Ini kesempatanmu bro. Kamu yakin mau melakukannya?", tanya Arta.
"Yup. Sangat yakin", jawab Wawan singkat.
"Kamu siap jika kalah?", tanya Arta lagi.
"Jangan meremehkan kemampuanku. Aku menantang bukan untuk kalah", balas Wawan dengan percaya diri.
"Oke, pergilah kesana", tukas Arta.
"...", tiba-tiba Wawan terdiam.
"Kenapa?", tanya Arta sedikit heran.
"Ta, bisa minta tolong sekali lagi?", tanya Wawan setelah terdiam.
"Apaan?", tanya Arta penasaran.
"Anu... Tolong omongin ke Lina kalau aku mau nantangin dia adu free
throw. Kalau aku menang dia harus jadi pacarku", kata Wawan sambil
nyengir.
"Hadeeeeewww... Sebenernya yang mau nantangin dia itu aku atau kamu sih!", kali ini Arta yang gusar.
"Kamu kan jago negosiasi, Ta. Hehehe...", cengiran Wawan makin lebar saja.
"Haaaaaahh...", Arta menghela nafas panjang. "Okelah. Doain saja Lina
mau terima tantangan ini", kata Arta sambil beranjak menuju lapangan.
Wawan sedikit nervous juga saat melihat Arta berbicara dengan Lina dan
Ayu di tengah lapangan. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka
bicarakan, tetapi dia tahu mereka sedang membicarakan tantangan adu free
throw. Beberapa kali Lina memandang ke arahnya sekilas. Wawan semakin
yakin Lina menerima tantangannya. Dan secara tidak langsung juga
bersedia menjadi pacarnya. Kalau Wawan menang tentu saja. Sepuluh menit
terlama bagi Wawan berakhir saat Arta berjalan kembali ke arah kantin.
"Bagaimana Ta?", sergap Wawan.
"Dia mau bro", jawab Arta singkat. Tapi raut mukanya menampakkan ekspresi gelisah.
"Sip! Here I come!", kata Wawan penuh semangat sambil beranjak menuju
lapangan. Tapi langsung terhenti saat Arta menahan pundaknya. "Ada apa
Ta?"
"Bro, kamu serius mau lakukan ini?", tanya Arta sedikit pelan. Raut mukanya sedikit tegang.
"Dari awal aku sudah sangat serius, Ta", jawab Wawan. Arta masih terdiam.
"Oke. Tapi kamu harus menang", kata Arta dengan pelan.
"Jangan khawatir, bro. Lina akan jadi pacarku setelah ini", kata Wawan yakin dan meninggalkan Arta di kantin.
Di lapangan tampak Wawan dan Lina bersiap-siap beradu free throw dengan
Ayu sebagai wasitnya. Mereka akan melakukan masing-masing lima lemparan,
yang memasukkan paling banyak adalah pemenangnya. Lina mendapat
kesempatan pertama setelah melakukan suit. Tembakan pertama Lina masuk
ring dengan tepat. Giliran Wawan, tak disangka, tembakannya juga
meluncur masuk dengan mulus. Tembakan kedua dan ketiga mereka sama-sama
masuk. Kedudukan sama, 3-3.
Ring basket tiba-tiba bergetar saat tembakan keempat Lina membentur sisi
ring dan bolanya terpental ke samping. Tampak ekspresi Lina sangat
kecewa. Sedangkan Wawan tampak makin bersemangat. Bola lemparannya
membentur papan tepat di tengah dan memantul tepat masuk ke ring.
Kedudukan 3-4 untuk keunggulan Wawan.
Pada lemparan terakhir, Lina tak mengulangi kesalahan. Bolanya masuk
ring dengan tepat. Giliran Wawan melakukan lemparan penentuan, sebelum
melempar dia menoleh sebentar ke arah Lina.
"Lemparan ini akan menjadikan kamu pacarku", kata Wawan penuh keyakinan.
Lina cuma membalasnya dengan senyuman manisnya. Tetapi lemparan Wawan
seedikit terlalu kuat sehingga bolanya terlalu tinggi. Bola membentur
bagian belakang ring dan langsung memantul keluar. Wawan hampir tak
percaya dengan kegagalannya, dia memegang kepalanya dengan dua tangan
sambil meringis. Kedudukan kembali imbang 4-4.
"Masih belum berakhir", kata Lina dengan senyumannya. Karena kedudukan
masih imbang, mereka akan melakukan lemparan sudden death sampai ada
pihak yang menang.
Pada lemparan keenam, Lina tak menemui kesulitan. Bola lemparannya masuk
dengan mulus. Wawan tampak mulai tertekan sejak kegagalannya tadi. Dia
tak mau melakukan kesalahan yang sama, kali ini dia sedikit mengurangi
tenaga lemparannya. Bolanya melambung terarah menuju ring.
DUENG!
Bola lemparan Wawan membentur bagian depan ring, lalu memantul ke atas.
Bola kemudian turun tepat membentur sisi ring bagian depan, lalu
memantul dua kali di tempat yang sama. Wawan menahan nafasnya, berharap
bola akan jatuh ke sisi dalam ring. Dia mendadak merasa lemas saat bola
dengan pelan bergulir ke arah luar.
Kedudukan akhir 5-4 untuk kemenangan Lina. Sang pemenang menghampiri Wawan dan menjabat tangannya.
"Sepertinya kamu harus bergabung ke klub basket cowok. Lemparanmu bagus", ucap Lina, masih dengan senyum manisnya.
"Akan kupikirkan", jawab Wawan sambil tersenyum kecut.
Di kantin, Arta tampak gelisah. Dia melihat Wawan berjalan gontai ke
arahnya. Arta menjadi bingung harus bagaimana bersikap setelah kekalahan
Wawan. Dilihatnya juga Lina yang tersenyum puas dan mengarahkan jari
telunjuknya ke arah Arta seperti gerakan menembak. Arta membalasnya
dengan senyuman tipis. Kembali teringat ucapan Lina saat dia
menyampaikan tantangan Wawan tadi: "Aku terima tantangan Wawan, tapi
kalau aku yang menang kamu harus jalan sama aku".
No comments:
Post a Comment