Sunday, May 19, 2013

Akhirnya

Aku tak tahu harus bagaimana. Langkahku terus membawaku menyusuri trotoar. Pikiranku masih menerawang. Berbagai macam pikiran sesak memenuhi otakku. Membuatku seperti boneka yang berjalan tak tentu arah.

Bangku semen berlapis keramik itu menjadi pemberhentianku. Panasnya sengatan matahari telah membuat langkahku terhenti. Sebotol air mineral dingin kudapatkan dari asongan dengan harga nyaris dua kali lipat.

Bukan. Bukan harga mahal itu yang kupikirkan. Tapi kejadian yang baru saja kualami.

Satu jam yang lalu aku masih duduk di belakang meja kantorku. Mengerjakan semua tugasku dengan teliti. Ya, seperti biasanya, mengatur dan memeriksa agenda boss hari ini.

Aku adalah asisten pribadi Pak Priyo, pimpinan perusahaan asuransi berskala nasional. Jabatanku membuat banyak orang di perusahaan ini mengangguk hormat setiap kali berpapasan denganku. Posisiku sangat penting, selalu memberikan pertimbangan pada pimpinan. Secara tak langsung, aku berperan penting dalam keputusan yang diambil oleh pimpinan.

Aku adalah orang penting. Paling tidak sampai satu jam yang lalu!

Satu jam yang lalu, Pak Priyo memanggilku ke ruangannya. Aku bergegas menuju ruangannya dengan santai. Sapaan hormat kulontarkan begitu dia mempersilahkan aku masuk. Pimpinan tampak dingin saat itu. Tak banyak bicara saat menyodorkan sebuah amplop besar padaku.

Sesak rasanya saat kubuka amplop itu. Dua gepok uang pecahan seratus ribu. Dua puluh juta. Aku termenung. Bingung. Beberapa menit pikiranku kosong. Tak bisa diajak berpikir dengan jernih.

Akhirnya kukeluarkan selembar kertas dari amplop yang sama. Kubaca, hanya sekilas. Kububuhkan tanda tanganku di tempat yang telah disediakan, dengan nama lengkapku di bawahnya. Kutinggalkan kertas itu di mejanya, lalu kumasukkan uang itu dalam koperku. Detik berikutnya, aku sudah berjalan meninggalkan kantor.

Lamunanku buyar saat sebuah nada panggilan telepon genggamku berbunyi. Natasha. Ah, wanita itulah yang telah mengisi hatiku selama enam tahun terakhir. Sosok wanita yang benar-benar sempurna. Sosok wanita yang telah menawan cintaku.

"Halo", kataku singkat.
"Selamat pagi, Sayang", suara lembut itu terdengar sejuk di telingaku. Suara yang selalu memberiku rasa nyaman. Suara yang membuatku merasa berarti.
"Sayang, aku baru saja dipecat", kata-kataku meluncur begitu saja. Lancar, tanpa beban. Hanya ada kesunyian setelah itu. "Pak Priyo tahu aku telah menjalin affair dengan istrinya selama enam tahun", lanjutku.

No comments:

Post a Comment