Aku tak tahu harus bagaimana. Langkahku terus membawaku menyusuri
trotoar. Pikiranku masih menerawang. Berbagai macam pikiran sesak
memenuhi otakku. Membuatku seperti boneka yang berjalan tak tentu arah.
Bangku semen berlapis keramik itu menjadi pemberhentianku. Panasnya
sengatan matahari telah membuat langkahku terhenti. Sebotol air mineral
dingin kudapatkan dari asongan dengan harga nyaris dua kali lipat.
Bukan. Bukan harga mahal itu yang kupikirkan. Tapi kejadian yang baru saja kualami.
Satu jam yang lalu aku masih duduk di belakang meja kantorku.
Mengerjakan semua tugasku dengan teliti. Ya, seperti biasanya, mengatur
dan memeriksa agenda boss hari ini.
Aku adalah asisten pribadi Pak Priyo, pimpinan perusahaan asuransi
berskala nasional. Jabatanku membuat banyak orang di perusahaan ini
mengangguk hormat setiap kali berpapasan denganku. Posisiku sangat
penting, selalu memberikan pertimbangan pada pimpinan. Secara tak
langsung, aku berperan penting dalam keputusan yang diambil oleh
pimpinan.
Aku adalah orang penting. Paling tidak sampai satu jam yang lalu!
Satu jam yang lalu, Pak Priyo memanggilku ke ruangannya. Aku bergegas
menuju ruangannya dengan santai. Sapaan hormat kulontarkan begitu dia
mempersilahkan aku masuk. Pimpinan tampak dingin saat itu. Tak banyak
bicara saat menyodorkan sebuah amplop besar padaku.
Sesak rasanya saat kubuka amplop itu. Dua gepok uang pecahan seratus
ribu. Dua puluh juta. Aku termenung. Bingung. Beberapa menit pikiranku
kosong. Tak bisa diajak berpikir dengan jernih.
Akhirnya kukeluarkan selembar kertas dari amplop yang sama. Kubaca,
hanya sekilas. Kububuhkan tanda tanganku di tempat yang telah
disediakan, dengan nama lengkapku di bawahnya. Kutinggalkan kertas itu
di mejanya, lalu kumasukkan uang itu dalam koperku. Detik berikutnya,
aku sudah berjalan meninggalkan kantor.
Lamunanku buyar saat sebuah nada panggilan telepon genggamku berbunyi.
Natasha. Ah, wanita itulah yang telah mengisi hatiku selama enam tahun
terakhir. Sosok wanita yang benar-benar sempurna. Sosok wanita yang
telah menawan cintaku.
"Halo", kataku singkat.
"Selamat pagi, Sayang", suara lembut itu terdengar sejuk di telingaku.
Suara yang selalu memberiku rasa nyaman. Suara yang membuatku merasa
berarti.
"Sayang, aku baru saja dipecat", kata-kataku meluncur begitu saja.
Lancar, tanpa beban. Hanya ada kesunyian setelah itu. "Pak Priyo tahu
aku telah menjalin affair dengan istrinya selama enam tahun", lanjutku.
No comments:
Post a Comment