"Artaaa...", teriakan Intan benar-benar membuyarkan lamunan Arta.
"Aaa... Aa... Ada apa Tan?", jawab Arta dengan kaget dan gelagapan.
"Kamu ngelamunin apa sih? Kok dipanggil diam saja?", tanya Intan. Teman
sekelas Arta ini memiliki wajah bulat dan jenaka. "Aku mau minta tolong
nih".
"Apaan?", sahut Arta singkat.
"Bantu aku kerjakan tugas Pak Joko", pinta Intan dengan sedikit memelas. "Kamu tahu kan aku paling enggak bisa menggambar".
"Hah? Tugas Pak Joko yang mana?", Arta balas bertanya. Pak Joko adalah guru bidang studi kesenian yang mengajar di kelas mereka.
"Tugas bikin desain furnitur dan perspektifnya", jawab Intan.
"Waduh... Baru ingat, aku juga belum bikin", seperti tersadar, Arta langsung mengeluarkan buku gambar ukuran A3 dari tasnya.
"Lhaaaaahh... Kamu blm kerjakan juga? Trus aku gimana nih Ta?", Intan
tampak makin kebingungan. "Mana jam istirahat cuma sisa 15 menit lagi
nih".
"15 menit juga udah cukup", jawab Arta singkat sembari tangannya lincah menggoreskan pensil di buku gambarnya.
"Trus punyaku gimana Ta? Minggu lalu kan kamu udah janji mau buatkan desain untukku?", pinta Intan lagi.
"Intan, kamu tenang dan diam ya. Aku pasti tepati janjiku", jawab Arta
kalem dan tenang. "Sekarang yang aku butuhkan cuma ketenangan. Oke?",
lanjut Arta sambil terus menggoreskan pensilnya. Intan cuma menjawab
dengan anggukan kepala.
Sesaat setelah bel tanda masuk berbunyi, Arta telah menyelesaikan dua
desain. Sebuah desain unik meja kayu di buku gambarnya dan desain kursi
kayu yang tak kalah unik di buku gambar Intan. Dua gambar desain itu
memiliki desain dan motif ukiran yang identik. Sepertinya meja dan kursi
itu memang dibuat berpasangan. Arta dan Intan sama-sama mendapatkan
nilai 'A'. Tetapi di bawah nilai Intan ada tulisan Pak Joko 'Lain kali
kerjakan tugasmu sendiri'. Arta cuma nyengir saat Intan menunjukkan
catatan itu.
* * * * *
Setelah jam sekolah usai, tampak Intan berlari kecil menyusul Arta yang meninggalkan kelas lebih dulu.
"Artaaa... Tunggu", seru Intan. Si empunya nama berhenti lalu menoleh ke
arah datangnya suara. "Ikut aku bentar ke kantin ya", lanjut Intan
setelah sampai di dekat Arta.
"Kamu dimana?", sahut Arta sambil berlagak seperti orang yang sedang
mencari sesuatu, sambil telapak tangannya diposisikan mendatar diatas
matanya. Candaan Arta dijawab Intan dengan memberikan sebuah cubitan
sambil tertawa. Memang tinggi Intan cuma sebahu Arta. "Tumben ajakin aku
ke kantin?", lanjut Arta sambil mengelus lengannya yang terasa panas
karena cubitan Intan.
"Kita makan siang bareng ya. Aku yang traktir", Intan menjawab dengan sebuah tawaran yang tak mungkin ditolak oleh Arta.
Sesampainya mereka di kantin, Arta melihat Wawan duduk sendirian di
pojok. Seminggu terakhir ini Wawan jarang sekali terlihat oleh Arta.
"Halo bro, kemana aja kok jarang nongol akhir-akhir ini?", sapa Arta
sambil menepuk bahu Wawan, kemudian duduk di sebelahnya. Wawan cuma
tersenyum, lalu diam.
"Arta, kamu mau makan apa?", tanya Intan memotong.
"Apa sajalah", jawab Arta sambil nyengir.
"Okeee...", sahut Intan sambil berlalu.
"Jadi, kamu sibuk apa akhir-akhir ini bro?", tanya Arta lagi pada Wawan.
"Nggak sibuk apa-apa", jawab Wawan singkat, dan kembali diam. Reaksi
Wawan yang tidak biasa ini memicu pertanyaan di benak Arta, 'Ada apa
dengan Wawan?'.
"Jangan-jangan masalah Lina ya bro?", kata Arta setelah beberapa saat
tadi otaknya bekerja keras mencari sebab diamnya Wawan. Tampaknya tepat
sasaran, karena Wawan langsung tersenyum getir. "Kamu pasti sudah tahu
ya?".
"Bukan cuma tahu, aku kecewa sama kamu Ta", jawab Wawan pelan. Kali ini
Arta yang diam. Dia tahu, berusaha membela diri seperti apapun takkan
berguna dalam situasi seperti sekarang ini.
Memang waktu itu Lina bersedia jalan dengan Wawan jika kalah adu free
throw. Tetapi apa keuntungan yang didapat Lina jika dia menang? Akhirnya
Lina mengajukan syarat yang tak diduga, jika dia menang maka Arta yang
harus jalan dengannya. Waktu itu Arta sempat menolak, tetapi di sisi
lain dia tak mau mengecewakan Wawan yang sudah benar-benar ngebet.
Ditambah lagi dengan keyakinan Wawan untuk memenangkan adu free throw.
Sebenarnya Arta bisa saja menjelaskan jika itu adalah kemauan Lina,
tetapi ujung-ujungnya dia juga yang menyetujui.
"Boleh aku ikut nimbrung?", tiba-tiba saja Intan memecah kesunyian di
antara mereka. Rupanya dia sudah cukup lama memperhatikan Arta dan
Wawan. Kemudian Intan duduk di depan mereka berdua. "Sebenarnya aku tahu
banyak kisah kalian dengan Lina", lanjut Intan. Reaksi dua orang di
depannya hampir sama, penasaran.
"Tahu darimana?", tanya Wawan.
"Lina sendiri yang cerita ke aku, kami teman akrab, duduk sebangku saat kelas satu", jawab Intan sambil tersenyum.
Kemudia Intan melanjutkan ceritanya, Lina itu selalu menyukai tantangan,
terlebih jika berhubungan dengan basket. Sebenarnya dia suka dengan
cara Wawan, yang menurutnya berbeda daripada cara cowok-cowok
sebelumnya. Tetapi dia juga kurang suka karena Wawan memakai perantara,
dalam hal ini Arta, untuk menyampaikan tantangannya. Ditambah lagi,
Wawan tidak memberikan keuntungan apapun jika Lina yang menang. Karena
itu Lina meminta Arta menjadi bagian dari tantangan. Bukan tanpa alasan
Lina memilih Arta, tetapi karena Lina sudah lama memperhatikan sosok
Arta. Dari cerita-cerita yang dia dengar, Lina menilai Arta adalah cowok
yang berkepribadian unik dan menarik. Karena itulah dia meminta Arta
jalan dengannya jika menang, walaupun dia juga telah siap untuk jalan
dengan Wawan jika kalah.
"Kamu dan Lina sudah berusaha yang terbaik dalam pertandingan yang
adil", kata Intan sambil memandang Wawan. "Kamu hanya kurang beruntung",
lanjutnya. Wawan hanya terdiam, lalu sebuah cengiran tergambar di
wajahnya, disusul dengan tawa pelan.
"Kalau dipikir lagi memang aku yang salah. Aku menempatkan diriku
sebagai pihak yang dirugikan. Kalau Lina memilih Arta, itu haknya",
kata-kata Wawan disertai cengiran khasnya. "Lagipula, terlalu muluk jika
aku berharap menang adu free throw melawan diva basket sekolah", kali
ini Wawan tertawa, menertawakan kebodohannya sendiri.
"Lain kali kamu harus berani maju sendiri ya", sahut Intan sambil tersenyum jenaka.
"Ya. Terima kasih untuk sarannya", Wawan tersenyum, lalu menoleh ke arah
Arta. "Sori bro, aku sudah termakan egoku sendiri", kemudian menjabat
erat tangan Arta, jabat tangan khas yang sering mereka lakukan.
Obrolan terhenti saat Bu Ria, pelayan kantin, mengantarkan tiga porsi gado-gado dan tiga gelas es kelapa muda.
"Lho, aku tidak pesan makanan", protes Wawan saat Bu Ria meletakkan sepiring gado-gado di hadapannya.
"Makan aja, aku yang traktir", sahut Intan. "Lagian tadi aku nanya Bu Ria, katanya kamu belum pesan apa-apa sejak kesini".
"Wow, traktiran dalam rangka apa nih?", selidik Wawan.
"Nggg... Apa ya?", Intan kebingungan, pipinya bersemu merah. "Dalam
rangka makan siang bareng kalian", lanjut Intan sekenanya, disambut tawa
oleh semuanya.
'Semuanya berjalan sesuai yang kuharapkan', batin Arta.
No comments:
Post a Comment