Tuesday, May 7, 2013

Rumahku, Itu Kamu

Nama Daniel sudah tersohor sebagai playboy kelas atas. Sangat sering dia berganti teman kencan. Bahkan cewek-cewek yang sudah mengetahui reputasinya pun bisa dia taklukkan. Benar-benar sosok yang pesonanya nyaris tak bisa ditolak oleh wanita.

Tetapi ada seorang wanita yang selalu mencintainya. Dia adalah Suci, seorang wanita yang mencintai Daniel dengan tulus. Awalnya adalah janji setia yang mereka ucapkan saat berusia sepuluh tahun. Sekarang pun Suci tetap memegang teguh janji tersebut setelah dua belas tahun berlalu.

Kehidupan bebas Daniel semakin menjadi sejak dia tinggal sendiri. Kedua orang tuanya tinggal di Singapura, negara dimana ayahnya bekerja sebagai staff KBRI. Tanpa kesulitan, dia bisa membawa pulang pasangan kencannya di rumah.

Suci bukannya tidak mengetahui hal ini, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah kelakuan Daniel. Kata-kata nasihat darinya hanya akan menjadi angin lalu bagi Daniel.

* * * * *

"Kau ini mengganggu saja", semprot Daniel. Dia sedang bercumbu dengan teman kencannya saat Suci membunyikan bel rumahnya.
"Aku cuma mau mengantarkan makan malammu. Kamu belum makan bukan?", jawab Suci. Tersenyum.

Sejak orang tua Daniel tinggal di Singapura, Suci selalu membuatkan makanan untuk Daniel. Dan bukan hanya sekali ini Suci mendapati Daniel sedang berasyik masyuk dengan teman kencannya.

Daniel tak mendebat lagi, aroma sedap masakan Suci telah membuat dia menyadari sesuatu, dirinya kelaparan!

* * * * *

Lapar.

Itu yang dirasakan Daniel malam ini. Tak seperti biasa, kali ini dia sangat menantikan kedatangan Suci. Dua jam berlalu. Sedari tadi SMS dan teleponnya tidak mendapatkan respon. Dia mencoba menelepon kembali, sekarang malah nomor Suci tidak aktif.

"Ah... Mungkin dia sudah sangat kesal hingga tak mau lagi bertemu denganku", pikir Daniel cuek. Tapi mau tak mau dia tetap merasakan sebuah kekosongan dalam hatinya. Di tengah gusarnya, Daniel dikejutkan dengan suara bel rumahnya.

Suci! Itu pikiran pertama yang terlintas di benak Daniel. Dibukanya pintu dan dia terkejut mendapati Shinta, sepupu Suci, berdiri di depan pintu dengan raut gelisah. Dia membawa kabar bahwa Suci mengalami kecelakaan saat mengantar makanan untuk Daniel.

* * * * *

Dokter mengatakan Suci mengalami trauma benturan yang sangat berat di kepala. Daniel merasa khawatir sekarang. Sebuah perasaan yang sangat lama tak pernah dia rasakan. Digenggamnya tangan Suci.

"Suci, maafkan aku yang selalu mengesampingkan keberadaanmu. Selama ini aku selalu berusaha mencari sesuatu yang ternyata aku sudah memilikinya. Itu kamu. Kamu selalu ada untukku. Kamu harus kembali karena rumahku, itu kamu. Bertahanlah!", kata-kata tulus itu meluncur begitu saja dari bibir Daniel.

Dirasakannya jemari Suci perlahan balas meremas tangannya. Hanya sesaat...

Tangan Suci mendadak lemas bersamaan dengan bunyi 'bip' panjang dari monitor EKG. Air mata Daniel membanjir tak tertahan lagi.

* * * * *

Setahun kemudian Daniel berdiri di altar gereja untuk menjalani prosesi pertobatan. Dia telah berniat meninggalkan kehidupan lamanya dan menjalani sisa hidupnya sebagai seorang manusia baru. Setelah itu dilanjutkan dengan prosesi pemberkatan nikah.

Pendeta memanggil mempelai wanita untuk menuju altar. Shinta telah siap di pintu gereja. Dia berjalan pelan menuju altar diiringi musik pernikahan. Daniel menunggu di altar dengan tersenyum. Setelah sampai di altar, Shinta mengunci roda dan kembali melangkah menuruni altar. Rupanya Shinta mendorong kursi roda, dimana Suci duduk sambil memegang erat karangan bunga.

**pernah diposting di Facebook pada 11 Februari 2012**

No comments:

Post a Comment