Nama Daniel sudah tersohor sebagai playboy kelas atas. Sangat sering dia
berganti teman kencan. Bahkan cewek-cewek yang sudah mengetahui
reputasinya pun bisa dia taklukkan. Benar-benar sosok yang pesonanya
nyaris tak bisa ditolak oleh wanita.
Tetapi ada seorang wanita yang selalu mencintainya. Dia adalah Suci,
seorang wanita yang mencintai Daniel dengan tulus. Awalnya adalah janji
setia yang mereka ucapkan saat berusia sepuluh tahun. Sekarang pun Suci
tetap memegang teguh janji tersebut setelah dua belas tahun berlalu.
Kehidupan bebas Daniel semakin menjadi sejak dia tinggal sendiri. Kedua
orang tuanya tinggal di Singapura, negara dimana ayahnya bekerja sebagai
staff KBRI. Tanpa kesulitan, dia bisa membawa pulang pasangan kencannya
di rumah.
Suci bukannya tidak mengetahui hal ini, tetapi dia tidak bisa berbuat
apa-apa untuk mengubah kelakuan Daniel. Kata-kata nasihat darinya hanya
akan menjadi angin lalu bagi Daniel.
* * * * *
"Kau ini mengganggu saja", semprot Daniel. Dia sedang bercumbu dengan teman kencannya saat Suci membunyikan bel rumahnya.
"Aku cuma mau mengantarkan makan malammu. Kamu belum makan bukan?", jawab Suci. Tersenyum.
Sejak orang tua Daniel tinggal di Singapura, Suci selalu membuatkan
makanan untuk Daniel. Dan bukan hanya sekali ini Suci mendapati Daniel
sedang berasyik masyuk dengan teman kencannya.
Daniel tak mendebat lagi, aroma sedap masakan Suci telah membuat dia menyadari sesuatu, dirinya kelaparan!
* * * * *
Lapar.
Itu yang dirasakan Daniel malam ini. Tak seperti biasa, kali ini dia
sangat menantikan kedatangan Suci. Dua jam berlalu. Sedari tadi SMS dan
teleponnya tidak mendapatkan respon. Dia mencoba menelepon kembali,
sekarang malah nomor Suci tidak aktif.
"Ah... Mungkin dia sudah sangat kesal hingga tak mau lagi bertemu
denganku", pikir Daniel cuek. Tapi mau tak mau dia tetap merasakan
sebuah kekosongan dalam hatinya. Di tengah gusarnya, Daniel dikejutkan
dengan suara bel rumahnya.
Suci! Itu pikiran pertama yang terlintas di benak Daniel. Dibukanya
pintu dan dia terkejut mendapati Shinta, sepupu Suci, berdiri di depan
pintu dengan raut gelisah. Dia membawa kabar bahwa Suci mengalami
kecelakaan saat mengantar makanan untuk Daniel.
* * * * *
Dokter mengatakan Suci mengalami trauma benturan yang sangat berat di
kepala. Daniel merasa khawatir sekarang. Sebuah perasaan yang sangat
lama tak pernah dia rasakan. Digenggamnya tangan Suci.
"Suci, maafkan aku yang selalu mengesampingkan keberadaanmu. Selama ini
aku selalu berusaha mencari sesuatu yang ternyata aku sudah memilikinya.
Itu kamu. Kamu selalu ada untukku. Kamu harus kembali karena rumahku,
itu kamu. Bertahanlah!", kata-kata tulus itu meluncur begitu saja dari
bibir Daniel.
Dirasakannya jemari Suci perlahan balas meremas tangannya. Hanya sesaat...
Tangan Suci mendadak lemas bersamaan dengan bunyi 'bip' panjang dari monitor EKG. Air mata Daniel membanjir tak tertahan lagi.
* * * * *
Setahun kemudian Daniel berdiri di altar gereja untuk menjalani prosesi
pertobatan. Dia telah berniat meninggalkan kehidupan lamanya dan
menjalani sisa hidupnya sebagai seorang manusia baru. Setelah itu
dilanjutkan dengan prosesi pemberkatan nikah.
Pendeta memanggil mempelai wanita untuk menuju altar. Shinta telah siap
di pintu gereja. Dia berjalan pelan menuju altar diiringi musik
pernikahan. Daniel menunggu di altar dengan tersenyum. Setelah sampai di
altar, Shinta mengunci roda dan kembali melangkah menuruni altar.
Rupanya Shinta mendorong kursi roda, dimana Suci duduk sambil memegang
erat karangan bunga.
**pernah diposting di Facebook pada 11 Februari 2012**
No comments:
Post a Comment