Ada pepatah Jawa yang berbunyi "witing tresna jalaran saka kulina",
cinta datang karena telah terbiasa. Pepatah itu benar, menurutku. Karena
aku mengalaminya sendiri. Setelah empat tahun sebelumnya aku bekerja di
tempat yang sama denganmu. Cinta itu muncul, karena terbiasa bersama.
Akupun tak terlalu terkejut saat kau merasakan hal yang sama. Kita resmi
berpacaran.
Dua tahun kita lewati dengan berbagai hal. Semuanya terasa baru bagiku.
Apa yang biasa kulakukan sendiri, sekarang dilakukan berdua. Sangat
menyenangkan mempunyai pengalaman baru.
Denganmu.
Hari itu, dua tahun lewat tiga bulan sejak kita berpacaran, aku mendapat
pengalaman yang baru. Bukan perasaan yang menyenangkan. Jenuh. Entah
kenapa perasaan itu hadir di tengah hubungan kita yang menurutku sangat
sempurna. Sekali lagi, aku tak terlalu terkejut saat kau menyatakan
perasaan yang sama.
Berpisah. Itu keputusan yang kita sepakati. Ada perasaan lega dan
semangat baru dalam diriku. Tetapi juga ada perasaan kehilangan dalam
hatiku. Aku yakin, kau juga merasakan hal yang sama.
Dua minggu sudah sejak kita berpisah. Perasaan lega berangsur hilang
terhapus oleh rasa kehilangan yang semakin menjadi. Aku telah terbiasa
melakukan banyak hal bersamamu. Kini aku merasakan sebuah kemunduran.
Kembali melakukan segala hal sendirian.
Tanpamu.
Mengulangi kebersamaan untuk sekali lagi. Mungkin itu satu-satunya jalan
untuk kembali melangkah maju. Aku yakin kau juga merasakan hal yang
sama. Aku sangat yakin.
Hari itu kau datang dengan wajah riang. Senyuman gembira seakan tak
lepas dari wajahmu. Kau menyapaku dengan lambaian yang bersemangat. Aku
membalas lambaianmu dengan hampa saat kulihat cincin berlian di jari
manismu.
Aku yakin, kau tidak merasakan hal yang sama.
No comments:
Post a Comment