Thursday, May 9, 2013

Three Points

Dhani the Sniper, begitulah para penggemar basket menyebutku. Bahkan teman-teman sekolahku mulai ikut-ikutan memanggilku Sniper. Panggilan itu bermula dari kecintaanku pada permainan basket, dimana aku gemar sekali melakukan melakukan tembakan tiga angka. Menurut pelatih aku memiliki akurasi umpan dan tembakan yang sangat baik. Terutama pada statistik tembakan tiga angka. Ah, sejujurnya aku tak peduli dengan data statistik tersebut, aku hanya suka bermain basket dan menikmati permainannya, tidak lebih.

Pada sebuah kejuaraan basket daerah, tim basket SMU kami menjadi runner up setelah dikalahkan tim juara bertahan di pertandingan final. Kecewa memang, tapi aku sangat menikmati pertandingan tersebut. Lagipula di kejuaraan itu aku mendapat penghargaan sebagai The Best Three Points Shooter.
Setelah kejuaraan tersebut, jumlah penonton bertambah pada setiap latihan maupun pertandingan. Sebagian besar penonton cewek selalu meneriakkan namaku. Rekanku bilang, aku telah menjadi idola baru di sekolah. Ah, bukan hal penting selama aku masih bisa bermain basket.

Jago tembakan tiga angka apakah juga jago menembak cewek?

Untuk masalah yang satu ini aku memang belum berani melakukannya. Sebenarnya banyak sekali cewek yang mendekati aku. Hampir tiap hari selalu ada cewek berkenalan, sms, telepon, atau hanya sekedar menyapa saat berpapasan. Semua itu aku tanggapi dengan senang hati karena aku selalu berusaha baik kepada semua orang. Dari semua cewek itu tidak satupun berkenan di hatiku. Bukannya aku tidak tertarik dengan cewek, tetapi karena sudah ada seorang cewek yang kusukai.

Wina, adalah teman akrabku di bangku SMP. Wina adalah pemain basket andalan SMP kami. Dia juga yang pertama kali mencekoki aku dengan segala sesuatu tentang basket. Dia pula yang mengajarkan cara bermain basket padaku. Kami tetap menjaga hubungan kami walau kemudian harus melanjutkan studi di SMU yang berbeda.

Wina, adalah cinta pertamaku. Namun aku tak memiliki keberanian untuk menyatakan cintaku padanya. Cinta yang tak tersampaikan.

Selepas SMU, aku mendapatkan kontrak sebagai pemain magang di klub peserta liga basket nasional. Setahun kemudian aku telah menjadi pemain reguler di klub tersebut. Sejak menjadi pemain reguler, popularitasku meningkat drastis seiring dengan prestasi yang kucapai. Pemain basket masa depan Indonesia, legenda basket baru Indonesia, begitulah media-media olah raga menyebutku. Sebutkan saja julukan yang kalian mau, aku tak ambil pusing selama masih bisa bermain basket.

Bergabung dengan tim besar dan menjalani musim yang ketat telah mengasah mentalku menjadi lebih baik. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk menyatakan perasaanku pada Wina yang telah bertahun-tahun kupendam. Dengan membawa trofi NBL Rookie of the Year yang baru saja kuterima, aku bergegas ke rumah Wina.

* * * * *

Erwinaningtyas Sasongko, itu nama yang diberikan orang tuaku. Tetapi aku biasa dipanggil Wina.

Pernah ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa siaran televisi bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Penelitian itu tidak salah, setidaknya aku telah mengalaminya sendiri. Awalnya ayah berlangganan siaran televisi berbayar saat aku berumur sebelas tahun. Ayah sering memilih chanel film animasi untukku. Tetapi sepulang sekolah saat ayah masih bekerja, aku suka mencari chanel lain yang lebih seru. Suatu ketika aku terpaku saat melihat siaran pertandingan NBA yang cukup seru. Entah kenapa, waktu itu aku sangat tertarik dengan permainan bola basket yang kulihat. Sejak hari itu aku selalu mencari tahu segala sesuatu tentang basket. Ayah yang mengetahui minatku memberikan hadiah bola basket dan keranjangnya saat ulang tahunku yang kedua belas.

Saat masuk SMP, aku segera mendaftarkan diri di klub basket sekolah. Siapa sangka, aku menjadi andalan tim hanya tiga bulan setelah resmi bergabung. Aku cewek tomboy, kata mereka. Hmmm... Mungkin 'sporty' lebih tepat untukku.

Di awal-awal masuk sekolah aku berkenalan dengan cowok yang lumayan tinggi, tapi agak pendiam, Dhani Tri Wardoyo namanya. Aku sempat mengira dia adalah pemain basket melihat postur tubuhnya. Tapi ternyata dia lebih menyukai atletik.

Kami akhirnya menjadi teman dekat. Dhani termasuk tipe pendengar setia, aku sering menceritakan tentang basket dan impianku menjadi pemain tim basket putri Indonesia. Lambat laun minat Dhani terhadap basket mulai muncul. Aku mulai mengajarkan basket padanya, dia tampak menyukainya. Aku bisa merasakan dari sorot matanya saat berlatih. Fisiknya yang sudah biasa berlatih atletik memudahkan Dhani berlatih basket. Bahkan dia sempat beberapa kali ikut latihan di klub basket sekolah. Walaupun dia masih pemula, tapi kemampuan shootingnya istimewa.

Tim basket putri SMP kami meraih juara daerah sekali. Aku sangat bangga menjadi bagian tim juara saat itu. Jalan untuk mewujudkan mimpiku menjadi pemain basket nasional mulai terbuka. Aku menjadi lebih termotivasi dan terus berlatih untuk meningkatkan kemampuanku.

Impianku pupus.

Ketika sedang bertanding, aku berbenturan dengan pemain lawan di tengah perebutan bola. Aku jatuh dengan tumpuan yang salah. Rasa nyeri mencengkeram engkel kaki kananku. Aku tak bisa meneruskan pertandingan. Aku mengira kakiku cuma terkilir, dan akan pulih dengan perawatan biasa.

Tetapi hasil pemeriksaan lanjutan membuatku menangis. Achilles tendon rupture, begitulah diagnosa dokter. Putusnya tendon achilles adalah cedera yang paling fatal untuk seorang olahragawan. Tendon tertarik karena terkilir, kurangnya pemanasan atau keletihan otot karena terlalu diforsir menjadi pemicu cedera ini. Operasi pemulihan hanya bisa dilakukan di rumah sakit di luar negeri, tentunya dengan biaya besar, hal yang mustahil dipenuhi keluargaku.

Sejak saat itu aku memiliki anggota tubuh baru, penyangga kaki. Tanpa penyangga tersebut kaki kananku tak akan bisa menyangga tubuhku. Aku berhenti total bermain basket. Berhenti mengejar impianku.

Lulus SMP, aku bersekolah di sebuah SMU yang dekat tempat tinggalku, supaya ibu bisa mengantar dan menjemputku setiap hari. Temanku Dhani meneruskan studi di sebuah SMU yang terkenal karena memiliki klub basket kuat. Sesuai janjinya saat wisuda kelulusan SMP. Dia dengan mantap berkata padaku, dia akan mengambil alih impianku menjadi pemain basket nasional.

Janji Dhani ternyata bukanlah sebuah omong kosong. Dia telah menjelma menjadi pemain basket andalan sekolahnya. Popularitasnya meningkat drastis di kalangan penggemar bola basket. Beberapa teman cewek sekelasku bahkan terang-terangan mengidolakan Dhani. Mereka selalu membicarakan Dhani sebagai sosok idola yang membumi. Aku tidak akan heran, aku tahu Dhani orang yang bisa akrab dengan siapa saja. Diam-diam aku juga menjadi penggemarnya. Aku kagum dengan sepak terjangnya hingga menjadi ikon basket di tingkat SMU.

Aku terus mengikuti perkembangan Dhani di dunia basket melalui surat kabar dan media lainnya. Saat dia mendapat penghargaan sebagai pendatang terbaik liga basket nasional, aku meneteskan air mataku. Dhani telah memenuhi janjinya. Impianku telah diteruskan olehnya, dan sekarang telah terwujud. Sosok yang dulunya pendiam itu sekarang telah menjadi seorang superstar yang aku kagumi.

Setelah acara anugerah penghargaan basket yang disiarkan televisi itu usai, aku masih merasakan euforia. Orang tuaku, yang juga telah mengenal Dhani, turut bangga akan apa yang sudah diraihnya. Sudah lebih dari pukul sepuluh malam, kami bertiga masih membicarakan Dhani, saat seseorang membunyikan bel rumah kami.

Dhani! Baru sore tadi dia ada di acara yang disiarkan langsung di televisi, dan sekarang dia ada disini. Di tempat tinggalku. Dia memberikan trofinya padaku. Aku kembali menangis. Terharu.

Aku menjawab 'YA' saat Dhani membuka sebuah kotak berisi sepasang cincin dan melamarku.


**Special Thanks:
Resha, Yektiningayu, ple____, venuzzy, ch4ty_, bebysky, ce_jupiter

No comments:

Post a Comment