Dhani the Sniper, begitulah para penggemar basket menyebutku. Bahkan
teman-teman sekolahku mulai ikut-ikutan memanggilku Sniper. Panggilan
itu bermula dari kecintaanku pada permainan basket, dimana aku gemar
sekali melakukan melakukan tembakan tiga angka. Menurut pelatih aku
memiliki akurasi umpan dan tembakan yang sangat baik. Terutama pada
statistik tembakan tiga angka. Ah, sejujurnya aku tak peduli dengan data
statistik tersebut, aku hanya suka bermain basket dan menikmati
permainannya, tidak lebih.
Pada sebuah kejuaraan basket daerah, tim basket SMU kami menjadi runner
up setelah dikalahkan tim juara bertahan di pertandingan final. Kecewa
memang, tapi aku sangat menikmati pertandingan tersebut. Lagipula di
kejuaraan itu aku mendapat penghargaan sebagai The Best Three Points
Shooter.
Setelah kejuaraan tersebut, jumlah penonton bertambah pada setiap
latihan maupun pertandingan. Sebagian besar penonton cewek selalu
meneriakkan namaku. Rekanku bilang, aku telah menjadi idola baru di
sekolah. Ah, bukan hal penting selama aku masih bisa bermain basket.
Jago tembakan tiga angka apakah juga jago menembak cewek?
Untuk masalah yang satu ini aku memang belum berani melakukannya.
Sebenarnya banyak sekali cewek yang mendekati aku. Hampir tiap hari
selalu ada cewek berkenalan, sms, telepon, atau hanya sekedar menyapa
saat berpapasan. Semua itu aku tanggapi dengan senang hati karena aku
selalu berusaha baik kepada semua orang. Dari semua cewek itu tidak
satupun berkenan di hatiku. Bukannya aku tidak tertarik dengan cewek,
tetapi karena sudah ada seorang cewek yang kusukai.
Wina, adalah teman akrabku di bangku SMP. Wina adalah pemain basket
andalan SMP kami. Dia juga yang pertama kali mencekoki aku dengan segala
sesuatu tentang basket. Dia pula yang mengajarkan cara bermain basket
padaku. Kami tetap menjaga hubungan kami walau kemudian harus
melanjutkan studi di SMU yang berbeda.
Wina, adalah cinta pertamaku. Namun aku tak memiliki keberanian untuk menyatakan cintaku padanya. Cinta yang tak tersampaikan.
Selepas SMU, aku mendapatkan kontrak sebagai pemain magang di klub
peserta liga basket nasional. Setahun kemudian aku telah menjadi pemain
reguler di klub tersebut. Sejak menjadi pemain reguler, popularitasku
meningkat drastis seiring dengan prestasi yang kucapai. Pemain basket
masa depan Indonesia, legenda basket baru Indonesia, begitulah
media-media olah raga menyebutku. Sebutkan saja julukan yang kalian mau,
aku tak ambil pusing selama masih bisa bermain basket.
Bergabung dengan tim besar dan menjalani musim yang ketat telah mengasah
mentalku menjadi lebih baik. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk
menyatakan perasaanku pada Wina yang telah bertahun-tahun kupendam.
Dengan membawa trofi NBL Rookie of the Year yang baru saja kuterima, aku
bergegas ke rumah Wina.
* * * * *
Erwinaningtyas Sasongko, itu nama yang diberikan orang tuaku. Tetapi aku biasa dipanggil Wina.
Pernah ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa siaran televisi
bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Penelitian itu tidak salah,
setidaknya aku telah mengalaminya sendiri. Awalnya ayah berlangganan
siaran televisi berbayar saat aku berumur sebelas tahun. Ayah sering
memilih chanel film animasi untukku. Tetapi sepulang sekolah saat ayah
masih bekerja, aku suka mencari chanel lain yang lebih seru. Suatu
ketika aku terpaku saat melihat siaran pertandingan NBA yang cukup seru.
Entah kenapa, waktu itu aku sangat tertarik dengan permainan bola
basket yang kulihat. Sejak hari itu aku selalu mencari tahu segala
sesuatu tentang basket. Ayah yang mengetahui minatku memberikan hadiah
bola basket dan keranjangnya saat ulang tahunku yang kedua belas.
Saat masuk SMP, aku segera mendaftarkan diri di klub basket sekolah.
Siapa sangka, aku menjadi andalan tim hanya tiga bulan setelah resmi
bergabung. Aku cewek tomboy, kata mereka. Hmmm... Mungkin 'sporty' lebih
tepat untukku.
Di awal-awal masuk sekolah aku berkenalan dengan cowok yang lumayan
tinggi, tapi agak pendiam, Dhani Tri Wardoyo namanya. Aku sempat mengira
dia adalah pemain basket melihat postur tubuhnya. Tapi ternyata dia
lebih menyukai atletik.
Kami akhirnya menjadi teman dekat. Dhani termasuk tipe pendengar setia,
aku sering menceritakan tentang basket dan impianku menjadi pemain tim
basket putri Indonesia. Lambat laun minat Dhani terhadap basket mulai
muncul. Aku mulai mengajarkan basket padanya, dia tampak menyukainya.
Aku bisa merasakan dari sorot matanya saat berlatih. Fisiknya yang sudah
biasa berlatih atletik memudahkan Dhani berlatih basket. Bahkan dia
sempat beberapa kali ikut latihan di klub basket sekolah. Walaupun dia
masih pemula, tapi kemampuan shootingnya istimewa.
Tim basket putri SMP kami meraih juara daerah sekali. Aku sangat bangga
menjadi bagian tim juara saat itu. Jalan untuk mewujudkan mimpiku
menjadi pemain basket nasional mulai terbuka. Aku menjadi lebih
termotivasi dan terus berlatih untuk meningkatkan kemampuanku.
Impianku pupus.
Ketika sedang bertanding, aku berbenturan dengan pemain lawan di tengah
perebutan bola. Aku jatuh dengan tumpuan yang salah. Rasa nyeri
mencengkeram engkel kaki kananku. Aku tak bisa meneruskan pertandingan.
Aku mengira kakiku cuma terkilir, dan akan pulih dengan perawatan biasa.
Tetapi hasil pemeriksaan lanjutan membuatku menangis. Achilles tendon
rupture, begitulah diagnosa dokter. Putusnya tendon achilles adalah
cedera yang paling fatal untuk seorang olahragawan. Tendon tertarik
karena terkilir, kurangnya pemanasan atau keletihan otot karena terlalu
diforsir menjadi pemicu cedera ini. Operasi pemulihan hanya bisa
dilakukan di rumah sakit di luar negeri, tentunya dengan biaya besar,
hal yang mustahil dipenuhi keluargaku.
Sejak saat itu aku memiliki anggota tubuh baru, penyangga kaki. Tanpa
penyangga tersebut kaki kananku tak akan bisa menyangga tubuhku. Aku
berhenti total bermain basket. Berhenti mengejar impianku.
Lulus SMP, aku bersekolah di sebuah SMU yang dekat tempat tinggalku,
supaya ibu bisa mengantar dan menjemputku setiap hari. Temanku Dhani
meneruskan studi di sebuah SMU yang terkenal karena memiliki klub basket
kuat. Sesuai janjinya saat wisuda kelulusan SMP. Dia dengan mantap
berkata padaku, dia akan mengambil alih impianku menjadi pemain basket
nasional.
Janji Dhani ternyata bukanlah sebuah omong kosong. Dia telah menjelma
menjadi pemain basket andalan sekolahnya. Popularitasnya meningkat
drastis di kalangan penggemar bola basket. Beberapa teman cewek
sekelasku bahkan terang-terangan mengidolakan Dhani. Mereka selalu
membicarakan Dhani sebagai sosok idola yang membumi. Aku tidak akan
heran, aku tahu Dhani orang yang bisa akrab dengan siapa saja. Diam-diam
aku juga menjadi penggemarnya. Aku kagum dengan sepak terjangnya hingga
menjadi ikon basket di tingkat SMU.
Aku terus mengikuti perkembangan Dhani di dunia basket melalui surat
kabar dan media lainnya. Saat dia mendapat penghargaan sebagai pendatang
terbaik liga basket nasional, aku meneteskan air mataku. Dhani telah
memenuhi janjinya. Impianku telah diteruskan olehnya, dan sekarang telah
terwujud. Sosok yang dulunya pendiam itu sekarang telah menjadi seorang
superstar yang aku kagumi.
Setelah acara anugerah penghargaan basket yang disiarkan televisi itu
usai, aku masih merasakan euforia. Orang tuaku, yang juga telah mengenal
Dhani, turut bangga akan apa yang sudah diraihnya. Sudah lebih dari
pukul sepuluh malam, kami bertiga masih membicarakan Dhani, saat
seseorang membunyikan bel rumah kami.
Dhani! Baru sore tadi dia ada di acara yang disiarkan langsung di
televisi, dan sekarang dia ada disini. Di tempat tinggalku. Dia
memberikan trofinya padaku. Aku kembali menangis. Terharu.
Aku menjawab 'YA' saat Dhani membuka sebuah kotak berisi sepasang cincin dan melamarku.
**Special Thanks:
Resha, Yektiningayu, ple____, venuzzy, ch4ty_, bebysky, ce_jupiter
No comments:
Post a Comment