"Kamu pria terbodoh yang pernah kutemui. Selama ini aku cuma
mempermainkanmu! Tak kusangka, bahkan kau lebih penurut dibandingkan
Bleki. Sekarang enyahlah, jangan pernah muncul di hadapanku!", jawaban
Anita begitu dalam menusuk perasaannya. Setelah Anita menyelesaikan
kalimatnya, Hari segera pergi meninggalkan kafe itu, diikuti pandangan
bingung Gito. Baru beberapa langkah meninggalkan kafe, hujan turun
dengan derasnya, disusul oleh derasnya air mata Hari. Sebenarnya Hari
bukanlah pria cengeng. Tetapi malam ini dia benar-benar menangis, walau
tersamar oleh derasnya hujan.
* * * * *
Setahun yang lalu Hari mengenal Anita secara tak sengaja. Ketika itu dia
mengantarkan Janu, sahabatnya, mencari tempat tinggal teman ceweknya.
Rumah Ria, nama teman Janu, ternyata berada di daerah perkampungan padat
dengan jalan-jalan sempit yang rumit. Di sebelah paling barat
perkampungan tersebut terdapat sebidang tanah lapang yang biasa
digunakan sebagai sarana hiburan dan olahraga warga perkampungan. Letak
rumah Ria tepat di sisi timur lapangan, sedangkan sisi barat lapangan
dibatasi dengan selokan yang cukup lebar. Di sebelah barat selokan,
kontur tanah menanjak seperti tebing yang cukup tinggi. Kemiringannya
cukup beresiko untuk longsor, walau begitu ada lima rumah yang berdiri
di lereng tersebut.
Di ruang tamu rumah Ria, Hari lebih banyak diam dan mendengarkan
sahabatnya yang bercengkrama akrab dengan tuan rumah, hanya sesekali
saja dia ikut menimpali. Sesaat perhatian Hari tersita oleh sosok yang
lewat di depan rumah Ria. Sosok cewek yang sangat anggun. Cewek tersebut
kemudian melintasi lapangan menuju ke salah satu rumah di lereng barat
lapangan. Tanpa sadar, pandangan Hari terus mengikuti sosok cewek itu.
Bahkan sampai cewek itu masuk ke rumah, pandangan Hari masih terfokus ke
pintu rumah cewek tadi.
"Cewek tadi namanya Anita, baru saja lulus SMU", kata Ria sambil menepuk
bahu Hari, dan membuatnya terbangun dari lamunan. Tak pelak Hari
gelagapan juga, wajahnya sedikit bersemu merah. "Mau dikenalin?", lanjut
Ria sambil tersenyum, atau lebih tepatnya nyengir. Sembari mengetikkan
pesan di handphone-nya. Tak butuh waktu lama, tampak Anita melintasi
lapangan menuju rumah Ria.
Sosok Anita tampak anggun di mata Hari saat itu. Wajah oval yang mulus,
lesung pipit muncul di kedua pipi saat bibirnya yang sensual
menyunggingkan senyum, mata yang berbinar, dan tangannya yang lembut
saat berjabat tangan. Semuanya benar-benar natural tanpa ada polesan
make up yang berlebih.
Sore itu, Hari mengalami yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dua bulan kemudian, Hari menyatakan cintanya pada Anita. Dia benar-benar ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Anita.
"Aku akan jawab setelah aku yakin kamu benar-benar serius. Aku butuh
bukti nyata, bukan cuma kata-kata", jawaban Anita melambungkan harapan
Hari. Memacunya untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius.
Momen Valentine tak dilewatkan oleh Hari. Sebatang coklat, sekuntum
mawar dan sebuah kartu ucapan hasil desainnya sendiri telah
dipersiapkan. Tetapi sayang, Hari tak bisa menemui Anita karena sedang
menghadiri acara keluarga. Akhirnya bingkisan kecil itu dititipkan pada
Ria. Ria bersedia menyampaikannya pada Anita, dengan imbalan sebatang
coklat tentunya. Keesokan paginya Hari mendapat dua pesan pendek. Yang
pertama dari Ria, mengabarkan bingkisannya telah disampaikan pada Anita.
Yang kedua dari Anita, hanya sebuah pesan singkat 'Terima kasih'.
Waktu terus berlalu, beberapa kali Hari kembali menyatakan cintanya,
tetapi jawaban Anita selalu sama. Padahal Hari selalu saja berusaha
memberikan bukti akan keseriusannya. Banyak sekali yang telah
dikorbankan Hari, tak hanya materi, tetapi juga waktu. Hari bahkan rela
meninggalkan pekerjaannya hanya karena pesan singkat Anita 'Jemput aku
di tempat x' atau 'Antar aku ke tempat x'. Beberapa kali pula atasannya
menegur Hari karenanya. Untunglah prestasi Hari di tempat kerjanya
sangat bagus sehingga dia masih diberikan sedikit kelonggaran, walaupun
ada juga sanksi berupa potong gaji.
Delapan bulan sudah Hari berjuang membuktikan betapa serius cintanya
pada Anita. Tubuhnya menjadi lebih kurus dan tampak kurang sehat. Selama
ini dia selalu menggunakan uang gajinya untuk 'perjuangan cinta' hingga
mengabaikan kebutuhannya sendiri. Beberapa kali dia bahkan meminjam
uang kepada Janu, sahabatnya yang selalu membantu tanpa pamrih. Tak
dipungkiri, Janu sangat prihatin dengan kondisi sahabatnya itu.
"Mending kamu cari yang lain saja deh Har, sepertinya kamu cuma
dipermainkan saja sama Anita. Bukannya sok tahu, tapi aku prihatin
dengan kondisimu yang seperti ini", saran Janu saat Hari menemuinya
untuk meminjam uang lagi. Biasanya Hari selalu menerima saran sahabatnya
itu, tetapi untuk yang ini dia tetap bersikeras untuk terus berjuang
sampai Anita memberikan jawaban langsung kepadanya, baik itu menerima
ataupun menolak.
"Hari, maaf kalau aku harus bilang gini. Tapi sebaiknya kamu enggak usah
lanjutin kejar Anita deh, dia sudah bukan Anita yang dulu", kali ini
saran itu datang dari Ria. Hari membalas saran Ria dengan senyuman, tapi
dia tetaap kokoh pada pendiriannya. "Kamu cowok baik, Anita enggak
cocok buat kamu. Kamu terlalu baik", tambah Ria lagi. Sekali lagi, hanya
senyuman Hari yang membalas saran Ria.
Sebenarnya cinta Hari pada Anita benar benar tulus dan tak terlalu
banyak menuntut harus ini atau harus itu. Satu-satunya yang diinginkan
Hari saat ini hanyalah tanggapan dari Anita atas pernyataan cintanya,
sebuah kepastian. Hari hanya ingin mendengarkan kepastian itu langsung
dari Anita, bukan dari orang lain. Walau akhir-akhir ini dia semakin
sering mendengar rumor minor tentang Anita, dia selalu mengabaikannya
jika dia tak melihatnya sendiri.
'If there's a beginning, there must be an end', kalimat itu dibaca oleh
Hari di internet saat mencari tambahan data untuk pekerjaannya. Mau tak
mau kalimat itu membuatnya berpikir keras tentang perjuangan cintanya
selama ini. Kembali terlintas di pikirannya saran dari Janu dan Ria.
Lalu isu-isu miring tentang Anita satu persatu kembali hadir di otaknya.
Perlahan otaknya menyusun semua informasi menjadi sebuah gambaran yang
tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Hari tahu apa yang harus dilakukan,
memastikannya.
Masih pukul sepuluh malam, Hari tampak berjalan meninggalkan rumahnya.
Dia tetap berangkat walau motornya sedang dipakai kakaknya untuk sebuah
keperluan. Hari berjalan menuju tempat kerja Anita di sebuah kafe yang
cukup terkenal dan selalu ramai pengunjung. Cafe itu buka pada sore hari
dan tutup selepas tengah malam. Terkadang Anita meminta Hari untuk
mengantarnya pulang, tetapi lebih sering dia pulang diantar oleh
rekannya walau Hari bersedia untuk antar-jemput setiap malam. Jarak yang
lumayan jauh tak menyurutkan langkah Hari.
Sesampai di dekat kafe bertingkat dua tersebut Hari sempat bimbang juga.
Dia takut kehadirannya akan mengganggu pekerjaan Anita. Sebelumnya Janu
juga sempat meneleponnya untuk hangout bersama. Janu sangat kaget
ketika tahu Hari sedang menuju tempat kerja Anita, dia sempat meminta
Hari mengurungkan niatnya walau dia tahu permintaannya itu tak akan
digubris. Saat langkahnya sampai di gerbang depan, Hari dihentikan oleh
seorang petugas keamanan kafe. Petugas itu mengenal Hari, ternyata dia
Gito, teman sekelas Hari di SMU dulu. Saat Gito menanyakan keperluannya,
Hari menjawab dia tertarik dengan kafe ini karena selalu ramai
pengunjung dan ingin tahu apa yang membuatnya ramai.
"Kafe Royal Romance ini termasuk kafe elit. Selain menu makanan,
pelayanan disini oke banget bro. Waitress-nya pun seksi semua, itu yang
bikin rame", promo si Gito. "Asal kamu tahu, sebenarnya bukan cuma itu
yang bikin rame", lanjut Gito dengan sedikit berbisik. "Tapi ada satu
special service yang cuma diketahui kalangan tertentu". Lalu Gito
menceritakan jika di bagian basement kafe ini adalah tempat karaoke,
dimana banyak sekali hostess yang tak kalah seksi dengan para waitress
kafe. Bedanya dengan hostess di tempat karaoke keluarga yang lain,
hostess di tempat ini bersedia menjual tubuhnya untuk kepuasan klien.
"Mau lihat-lihat di dalam? Aku kasih tur kilat di arena atraksi malam
yang hot banget bro", ajak Gito. Hari menurut saja saat Gito mengajaknya
melintasi area parkir menuju bagian belakang kafe. Kemudian menuruni
tangga menuju basement. Pintu di ujung tangga dijaga seorang petugas
keamanan lainnya, tetapi petugas tersebut mempersilahkan mereka masuk
setelah Gito memberikan isyarat.
Ternyata Gito mengajak Hari memasuki basement dari service area. "Inilah
daya tarik sebenarnya dari kafe ini bro", sambil berjalan Gito terus
menjelaskan selayaknya seorang guide. Mereka terus menyusuri lorong
temaram dengan pintu-pintu di kedua sisinya. kemudian Gito berhenti di
dekat sebuah pintu di ujung lorong. "Dan inilah ruang dimana daya tarik
utama tempat ini berada", kata Gito sambil mempersilahkan Hari mengintip
ke dalam ruangan melalui jendela kecil yang terpasang di pintu.
Raut muka Hari berubah menjadi tegang setelah melihat suasana di dalam
bilik karaoke tersebut. Sebuah meja di tengah ruangan dipenuhi
botol-botol minuman keras yang sebagian besar telah kosong. Ada tiga
orang pria tanpa busana disana, sedang mencumbu seorang wanita yang
terbaring di sofa, juga tanpa busana. Hari semakin tegang saat salah
satu pria menarik wanita itu untuk berdiri, terlihat dengan jelas
sesosok wanita yang tampak bahagia dan sangat menikmati cumbuan ketiga
pria tersebut.
"Anita belum genap tahun bekerja disini, tapi dia telah menjadi sang
primadona karena servisnya yang sangat memuaskan", ujar Gito berpromosi.
Cengiran Gito sirna saat Hari menggebrak pintu itu dengan kepalan
tangannya. Cukup keras untuk membuat aktivitas keempat orang di dalam
bilik terhenti. "Apa yang kamu lakukan?", bentak Gito sambil
mencengkeram lengan Hari, kemudian berusaha menyeretnya keluar.
Bersamaan dengan itu pintu bilik terbuka, Anita keluar tanpa berusaha
menutup tubuh telanjangnya. Dia sedikit terkejut saat melihat Hari
berada disitu.
"Heh! Mau apa kamu disini?", tanya Anita dengan nada culas. Hari
menghentakkan lengannya hingga terlepas dari cengkeraman Gito. Tanpa
diduga, Hari menatap Anita dengan tersenyum, kemudian kembali menyatakan
cintanya.
* * * * *
No comments:
Post a Comment