Wednesday, May 15, 2013

Sebuah Balada Tanpa Nyanyian

"Kamu pria terbodoh yang pernah kutemui. Selama ini aku cuma mempermainkanmu! Tak kusangka, bahkan kau lebih penurut dibandingkan Bleki. Sekarang enyahlah, jangan pernah muncul di hadapanku!", jawaban Anita begitu dalam menusuk perasaannya. Setelah Anita menyelesaikan kalimatnya, Hari segera pergi meninggalkan kafe itu, diikuti pandangan bingung Gito. Baru beberapa langkah meninggalkan kafe, hujan turun dengan derasnya, disusul oleh derasnya air mata Hari. Sebenarnya Hari bukanlah pria cengeng. Tetapi malam ini dia benar-benar menangis, walau tersamar oleh derasnya hujan.

* * * * *

Setahun yang lalu Hari mengenal Anita secara tak sengaja. Ketika itu dia mengantarkan Janu, sahabatnya, mencari tempat tinggal teman ceweknya. Rumah Ria, nama teman Janu, ternyata berada di daerah perkampungan padat dengan jalan-jalan sempit yang rumit. Di sebelah paling barat perkampungan tersebut terdapat sebidang tanah lapang yang biasa digunakan sebagai sarana hiburan dan olahraga warga perkampungan. Letak rumah Ria tepat di sisi timur lapangan, sedangkan sisi barat lapangan dibatasi dengan selokan yang cukup lebar. Di sebelah barat selokan, kontur tanah menanjak seperti tebing yang cukup tinggi. Kemiringannya cukup beresiko untuk longsor, walau begitu ada lima rumah yang berdiri di lereng tersebut.

Di ruang tamu rumah Ria, Hari lebih banyak diam dan mendengarkan sahabatnya yang bercengkrama akrab dengan tuan rumah, hanya sesekali saja dia ikut menimpali. Sesaat perhatian Hari tersita oleh sosok yang lewat di depan rumah Ria. Sosok cewek yang sangat anggun. Cewek tersebut kemudian melintasi lapangan menuju ke salah satu rumah di lereng barat lapangan. Tanpa sadar, pandangan Hari terus mengikuti sosok cewek itu. Bahkan sampai cewek itu masuk ke rumah, pandangan Hari masih terfokus ke pintu rumah cewek tadi.

"Cewek tadi namanya Anita, baru saja lulus SMU", kata Ria sambil menepuk bahu Hari, dan membuatnya terbangun dari lamunan. Tak pelak Hari gelagapan juga, wajahnya sedikit bersemu merah. "Mau dikenalin?", lanjut Ria sambil tersenyum, atau lebih tepatnya nyengir. Sembari mengetikkan pesan di handphone-nya. Tak butuh waktu lama, tampak Anita melintasi lapangan menuju rumah Ria.

Sosok Anita tampak anggun di mata Hari saat itu. Wajah oval yang mulus, lesung pipit muncul di kedua pipi saat bibirnya yang sensual menyunggingkan senyum, mata yang berbinar, dan tangannya yang lembut saat berjabat tangan. Semuanya benar-benar natural tanpa ada polesan make up yang berlebih.

Sore itu, Hari mengalami yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dua bulan kemudian, Hari menyatakan cintanya pada Anita. Dia benar-benar ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Anita.

"Aku akan jawab setelah aku yakin kamu benar-benar serius. Aku butuh bukti nyata, bukan cuma kata-kata", jawaban Anita melambungkan harapan Hari. Memacunya untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius.

Momen Valentine tak dilewatkan oleh Hari. Sebatang coklat, sekuntum mawar dan sebuah kartu ucapan hasil desainnya sendiri telah dipersiapkan. Tetapi sayang, Hari tak bisa menemui Anita karena sedang menghadiri acara keluarga. Akhirnya bingkisan kecil itu dititipkan pada Ria. Ria bersedia menyampaikannya pada Anita, dengan imbalan sebatang coklat tentunya. Keesokan paginya Hari mendapat dua pesan pendek. Yang pertama dari Ria, mengabarkan bingkisannya telah disampaikan pada Anita. Yang kedua dari Anita, hanya sebuah pesan singkat 'Terima kasih'.

Waktu terus berlalu, beberapa kali Hari kembali menyatakan cintanya, tetapi jawaban Anita selalu sama. Padahal Hari selalu saja berusaha memberikan bukti akan keseriusannya. Banyak sekali yang telah dikorbankan Hari, tak hanya materi, tetapi juga waktu. Hari bahkan rela meninggalkan pekerjaannya hanya karena pesan singkat Anita 'Jemput aku di tempat x' atau 'Antar aku ke tempat x'. Beberapa kali pula atasannya menegur Hari karenanya. Untunglah prestasi Hari di tempat kerjanya sangat bagus sehingga dia masih diberikan sedikit kelonggaran, walaupun ada juga sanksi berupa potong gaji.

Delapan bulan sudah Hari berjuang membuktikan betapa serius cintanya pada Anita. Tubuhnya menjadi lebih kurus dan tampak kurang sehat. Selama ini dia selalu menggunakan uang gajinya untuk 'perjuangan cinta' hingga mengabaikan kebutuhannya sendiri. Beberapa kali dia bahkan meminjam uang kepada Janu, sahabatnya yang selalu membantu tanpa pamrih. Tak dipungkiri, Janu sangat prihatin dengan kondisi sahabatnya itu.

"Mending kamu cari yang lain saja deh Har, sepertinya kamu cuma dipermainkan saja sama Anita. Bukannya sok tahu, tapi aku prihatin dengan kondisimu yang seperti ini", saran Janu saat Hari menemuinya untuk meminjam uang lagi. Biasanya Hari selalu menerima saran sahabatnya itu, tetapi untuk yang ini dia tetap bersikeras untuk terus berjuang sampai Anita memberikan jawaban langsung kepadanya, baik itu menerima ataupun menolak.

"Hari, maaf kalau aku harus bilang gini. Tapi sebaiknya kamu enggak usah lanjutin kejar Anita deh, dia sudah bukan Anita yang dulu", kali ini saran itu datang dari Ria. Hari membalas saran Ria dengan senyuman, tapi dia tetaap kokoh pada pendiriannya. "Kamu cowok baik, Anita enggak cocok buat kamu. Kamu terlalu baik", tambah Ria lagi. Sekali lagi, hanya senyuman Hari yang membalas saran Ria.

Sebenarnya cinta Hari pada Anita benar benar tulus dan tak terlalu banyak menuntut harus ini atau harus itu. Satu-satunya yang diinginkan Hari saat ini hanyalah tanggapan dari Anita atas pernyataan cintanya, sebuah kepastian. Hari hanya ingin mendengarkan kepastian itu langsung dari Anita, bukan dari orang lain. Walau akhir-akhir ini dia semakin sering mendengar rumor minor tentang Anita, dia selalu mengabaikannya jika dia tak melihatnya sendiri.

'If there's a beginning, there must be an end', kalimat itu dibaca oleh Hari di internet saat mencari tambahan data untuk pekerjaannya. Mau tak mau kalimat itu membuatnya berpikir keras tentang perjuangan cintanya selama ini. Kembali terlintas di pikirannya saran dari Janu dan Ria. Lalu isu-isu miring tentang Anita satu persatu kembali hadir di otaknya. Perlahan otaknya menyusun semua informasi menjadi sebuah gambaran yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Hari tahu apa yang harus dilakukan, memastikannya.

Masih pukul sepuluh malam, Hari tampak berjalan meninggalkan rumahnya. Dia tetap berangkat walau motornya sedang dipakai kakaknya untuk sebuah keperluan. Hari berjalan menuju tempat kerja Anita di sebuah kafe yang cukup terkenal dan selalu ramai pengunjung. Cafe itu buka pada sore hari dan tutup selepas tengah malam. Terkadang Anita meminta Hari untuk mengantarnya pulang, tetapi lebih sering dia pulang diantar oleh rekannya walau Hari bersedia untuk antar-jemput setiap malam. Jarak yang lumayan jauh tak menyurutkan langkah Hari.

Sesampai di dekat kafe bertingkat dua tersebut Hari sempat bimbang juga. Dia takut kehadirannya akan mengganggu pekerjaan Anita. Sebelumnya Janu juga sempat meneleponnya untuk hangout bersama. Janu sangat kaget ketika tahu Hari sedang menuju tempat kerja Anita, dia sempat meminta Hari mengurungkan niatnya walau dia tahu permintaannya itu tak akan digubris. Saat langkahnya sampai di gerbang depan, Hari dihentikan oleh seorang petugas keamanan kafe. Petugas itu mengenal Hari, ternyata dia Gito, teman sekelas Hari di SMU dulu. Saat Gito menanyakan keperluannya, Hari menjawab dia tertarik dengan kafe ini karena selalu ramai pengunjung dan ingin tahu apa yang membuatnya ramai.

"Kafe Royal Romance ini termasuk kafe elit. Selain menu makanan, pelayanan disini oke banget bro. Waitress-nya pun seksi semua, itu yang bikin rame", promo si Gito. "Asal kamu tahu, sebenarnya bukan cuma itu yang bikin rame", lanjut Gito dengan sedikit berbisik. "Tapi ada satu special service yang cuma diketahui kalangan tertentu". Lalu Gito menceritakan jika di bagian basement kafe ini adalah tempat karaoke, dimana banyak sekali hostess yang tak kalah seksi dengan para waitress kafe. Bedanya dengan hostess di tempat karaoke keluarga yang lain, hostess di tempat ini bersedia menjual tubuhnya untuk kepuasan klien.

"Mau lihat-lihat di dalam? Aku kasih tur kilat di arena atraksi malam yang hot banget bro", ajak Gito. Hari menurut saja saat Gito mengajaknya melintasi area parkir menuju bagian belakang kafe. Kemudian menuruni tangga menuju basement. Pintu di ujung tangga dijaga seorang petugas keamanan lainnya, tetapi petugas tersebut mempersilahkan mereka masuk setelah Gito memberikan isyarat.

Ternyata Gito mengajak Hari memasuki basement dari service area. "Inilah daya tarik sebenarnya dari kafe ini bro", sambil berjalan Gito terus menjelaskan selayaknya seorang guide. Mereka terus menyusuri lorong temaram dengan pintu-pintu di kedua sisinya. kemudian Gito berhenti di dekat sebuah pintu di ujung lorong. "Dan inilah ruang dimana daya tarik utama tempat ini berada", kata Gito sambil mempersilahkan Hari mengintip ke dalam ruangan melalui jendela kecil yang terpasang di pintu.

Raut muka Hari berubah menjadi tegang setelah melihat suasana di dalam bilik karaoke tersebut. Sebuah meja di tengah ruangan dipenuhi botol-botol minuman keras yang sebagian besar telah kosong. Ada tiga orang pria tanpa busana disana, sedang mencumbu seorang wanita yang terbaring di sofa, juga tanpa busana. Hari semakin tegang saat salah satu pria menarik wanita itu untuk berdiri, terlihat dengan jelas sesosok wanita yang tampak bahagia dan sangat menikmati cumbuan ketiga pria tersebut.

"Anita belum genap tahun bekerja disini, tapi dia telah menjadi sang primadona karena servisnya yang sangat memuaskan", ujar Gito berpromosi. Cengiran Gito sirna saat Hari menggebrak pintu itu dengan kepalan tangannya. Cukup keras untuk membuat aktivitas keempat orang di dalam bilik terhenti. "Apa yang kamu lakukan?", bentak Gito sambil mencengkeram lengan Hari, kemudian berusaha menyeretnya keluar. Bersamaan dengan itu pintu bilik terbuka, Anita keluar tanpa berusaha menutup tubuh telanjangnya. Dia sedikit terkejut saat melihat Hari berada disitu.

"Heh! Mau apa kamu disini?", tanya Anita dengan nada culas. Hari menghentakkan lengannya hingga terlepas dari cengkeraman Gito. Tanpa diduga, Hari menatap Anita dengan tersenyum, kemudian kembali menyatakan cintanya.

* * * * *

No comments:

Post a Comment