Pertengkaran lewat telepon semalam memang lain dari pertengkaran kami
selama ini. Pertengkaran semalam jauh lebih dahsyat, super duper
dahsyat, kalau boleh pakai istilah hiperbolis. Terdahsyat selama 3 bulan
kita berpacaran. Seperti biasa, kamu lebih banyak diam mendengarkan
segala ocehan kemarahanku. Kemarahan karena cemburu. Ya, aku adalah
seorang pencemburu. Mendengar kamu dekat dengan seorang cewek selain aku
langsung memantik kecemburuanku.
Tapi sekarang berbeda. Kemarahanku kali ini berdasarkan fakta yang
sangat jelas. Jelas karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Kemarin sore aku hangout di mall bersama Chaty dan Cece. Biasanya sih
denganmu. Tapi seminggu sebelumnya kamu sudah berkata tidak bisa hangout
malam itu. Aku tak ingat dengan pasti alasanmu waktu itu, yang pasti
cukup masuk akal hingga aku mengiyakan dengan mudah.
Tetapi malam itu, aku yakin tidak salah lihat. Bahkan Chaty dan Cece
juga melihat apa yang kulihat. Kamu juga sedang hangout di mall itu,
bersama dengan seorang wanita. Wanita yang sangat anggun. Bahkan aku
sendiri sempat terpana. Wanita itu memiliki fisik yang sempurna. Apa
yang diimpikan tiap wanita ada padanya. Kagum, itulah perasaan pertama
yang terlintas di benakku.
Tapi tunggu, masalahnya wanita sempurna itu sedang bersamamu! Pacarku!
Cemburu. Itu perasaan berikutnya yang langsung menutup semua akal
sehatku. Apalagi ketika melihat kamu meraih tangannya, menggandengnya
dengan mesra. Kau juga tampak ceria, senyum seakan menjadi bagian
permanen dari wajahmu. Sesuatu yang, walaupun pernah, jarang ka
tunjukkan saat bersamaku.
Kemudian, aku lihat kamu membeli sebuah boneka beruang besar berwarna
putih untuknya. Hei, boneka itu adalah salah satu yang tercantum dalam
wishlist-ku! Seharusnya kamu membelinya untukku, pacarmu!
Kami terus mengikutimu dari kejauhan. Ya, kami bertiga menguntitmu sekarang.
Jewelry Shop. Kamu masuk kesana, bersama cewek sempurna itu. Sepasang
cincin! Kamu dan wanita itu memilih sepasang, lalu mencobanya. Kamu
menentukan pilihan dan membelinya.
Oh tidak... Aku tak sanggup lagi...
Aku muak!
Aku cemburu!
Aku menangis.
Aku menumpahkan air mata tanpa suara tangis. Chaty dan Cece menyeretku pulang. Bisa kudengar mereka mengutuki dirimu.
* * * * *
Hari ini kamu datang ke rumahku dengan senyum bahagiamu. Kali ini aku
yang diam. Lebih tepatnya tak bisa berkata-kata. Kau membawa boneka
beruang besar berwarna putih dan sepasang cincin yang kamu beli kemarin.
Wanita sempurna itu tersenyum penuh pesona. Dia duduk di sebelahmu.
Hari ini kamu melamarku.
Disaksikan oleh ibumu.
No comments:
Post a Comment