Saturday, April 27, 2013

Cemburu (tidak) Buta

Pertengkaran lewat telepon semalam memang lain dari pertengkaran kami selama ini. Pertengkaran semalam jauh lebih dahsyat, super duper dahsyat, kalau boleh pakai istilah hiperbolis. Terdahsyat selama 3 bulan kita berpacaran. Seperti biasa, kamu lebih banyak diam mendengarkan segala ocehan kemarahanku. Kemarahan karena cemburu. Ya, aku adalah seorang pencemburu. Mendengar kamu dekat dengan seorang cewek selain aku langsung memantik kecemburuanku.

Tapi sekarang berbeda. Kemarahanku kali ini berdasarkan fakta yang sangat jelas. Jelas karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Kemarin sore aku hangout di mall bersama Chaty dan Cece. Biasanya sih denganmu. Tapi seminggu sebelumnya kamu sudah berkata tidak bisa hangout malam itu. Aku tak ingat dengan pasti alasanmu waktu itu, yang pasti cukup masuk akal hingga aku mengiyakan dengan mudah.

Tetapi malam itu, aku yakin tidak salah lihat. Bahkan Chaty dan Cece juga melihat apa yang kulihat. Kamu juga sedang hangout di mall itu, bersama dengan seorang wanita. Wanita yang sangat anggun. Bahkan aku sendiri sempat terpana. Wanita itu memiliki fisik yang sempurna. Apa yang diimpikan tiap wanita ada padanya. Kagum, itulah perasaan pertama yang terlintas di benakku.

Tapi tunggu, masalahnya wanita sempurna itu sedang bersamamu! Pacarku!

Cemburu. Itu perasaan berikutnya yang langsung menutup semua akal sehatku. Apalagi ketika melihat kamu meraih tangannya, menggandengnya dengan mesra. Kau juga tampak ceria, senyum seakan menjadi bagian permanen dari wajahmu. Sesuatu yang, walaupun pernah, jarang ka tunjukkan saat bersamaku.

Kemudian, aku lihat kamu membeli sebuah boneka beruang besar berwarna putih untuknya. Hei, boneka itu adalah salah satu yang tercantum dalam wishlist-ku! Seharusnya kamu membelinya untukku, pacarmu!

Kami terus mengikutimu dari kejauhan. Ya, kami bertiga menguntitmu sekarang.

Jewelry Shop. Kamu masuk kesana, bersama cewek sempurna itu. Sepasang cincin! Kamu dan wanita itu memilih sepasang, lalu mencobanya. Kamu menentukan pilihan dan membelinya.

Oh tidak... Aku tak sanggup lagi...

Aku muak!

Aku cemburu!

Aku menangis.

Aku menumpahkan air mata tanpa suara tangis. Chaty dan Cece menyeretku pulang. Bisa kudengar mereka mengutuki dirimu.

* * * * *

Hari ini kamu datang ke rumahku dengan senyum bahagiamu. Kali ini aku yang diam. Lebih tepatnya tak bisa berkata-kata. Kau membawa boneka beruang besar berwarna putih dan sepasang cincin yang kamu beli kemarin.

Wanita sempurna itu tersenyum penuh pesona. Dia duduk di sebelahmu.

Hari ini kamu melamarku.

Disaksikan oleh ibumu.

No comments:

Post a Comment