Saturday, February 1, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 01)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 1


Pukul delapan pagi itu Explorer dengan tenang keluar dari gedung utama di pangkalan militer rahasia Delta Force. Dia baru saja menerima perintah untuk melakukan sebuah misi rahasia. Dia segera menuju ke sebuah bangunan kecil di sebelah timur gedung utama. Bangunan ini adalah basecamp tim Gamma. Selain untuk beristirahat, bangunan ini sering dipakai oleh anggota tim Gamma untuk melakukan latihan ringan. Di bagian depan terdapat sebuah ruangan dengan seperangkat furnitur berbahan kayu. Anggota tim Gamma sering menghabiskan waktu bersama di ruangan ini untuk bercengkerama dan minum kopi, minuman favorit mereka.

"Misi kita kali ini adalah menggagalkan rencana pemberontakan Jendral Sodatoy, pemimpin kelompok separatis di Indonesia", terang Explorer saat briefing dengan anggota tim Gamma. Armstrong, Saboteur dan Ace mendengarkan setiap penjelasan yang disampaikan pemimpin tim mereka.

Sebenarnya misi ini sudah dimulai sejak seminggu sebelumnya, dijalankan oleh dua anggota tim Gamma. CB dan Spy telah memperoleh tugas mengumpulkan informasi awal yang sangat dibutuhkan oleh tim dalam mengatur strategi. CB bertugas mengumpulkan informasi dari luar, sedangkan Spy bertugas menyusup ke dalam pasukan pemberontak untuk mencari informasi dari dalam. Dari hasil penyusupan sementara didapatkan informasi bahwa Jendral Sodatoy berencana melakukan kudeta di wilayah Panjalu.

"Panjalu? Dimana itu?", tanya Armstrong.

"Aku juga tak pernah mendengar nama daerah itu. Mungkin ini adalah sebuah kode", timpal Ace.

"Mau Panjalu atau apapun itu namanya, pasti akan kuledakkan seperti kembang api raksasa", kata-kata penuh semangat itu diucapkan oleh Saboteur.

"Panjalu pernah benar-benar ada. Itu adalah nama kerajaan di Jawa. Pusat pemerintahannya di Daha (baca: dhoho), atau Kediri di masa sekarang", kembali Explorer menjelaskan.

"Wow... Ternyata kamu punya pengetahuan sejarah yang bagus", puji Ace.

"Anu... Aku juga baru tahu tadi pagi, CB yang memberitahuku", kata Explorer lagi.

"..........", ketiga orang lainnya kompak diam.

"Oke, persiapkan perlengkapan kalian. Kita berangkat dalam satu jam", perintah Explorer yang langsung dipatuhi oleh yang lainnya.

* * * * *

Hampir tengah hari, tampak tiga motor berhenti di tepi pantai Pangi. Kecuali Ace yang dibonceng oleh Explorer, dua personil lain mengendarai motor sendiri.

"Inikah tempat persiapan pemberontakan Jendral Sodatoy?", Armstrong menatap kagum keindahan pantai Pangi. "Sepertinya tempat ini terlalu terpencil untuk pemberontakan", lanjutnya.

"Kupikir juga begitu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan pasukan pemberontak disini. Ace, kau yakin koordinat yang dikirim CB adalah tempat ini?", tanya Explorer.

"Aku yakin telah memasukkan koordinat dengan benar. Atau... Nggg... Kita tersesat", jawab Ace polos.

".........."

* * * * *

Di tempat lain, tampak Spy sedang berada di tengah pasukan pemberontak. Pasukan sedang berada di tengah hutan, baru saja mereka selessai membongkar muatan dan mendirikan beberapa tenda. Pasukan baru saja sampai di lokasi ini dua jam yang lalu, lokasi keempat sejak Spy menyusup. Dia telah mengumpulkan banyak informasi dari pasukan pemberontak, tetapi tetap saja belum dapat diketahui secara pasti dimana dan bagaimana pemberontakan akan dilakukan.

Selepas tengah hari, tampak sebuah jeep memasuki camp. Dua orang turun, Jendral Sodatoy dan Mayor Bishop yang langsung disambut oleh Kapten Barker, komandan pasukan. Mereka bertiga masuk dalam sebuah tenda, diikuti beberapa komandan regu. Briefing taktik pemberontakan dimulai.

Spy meraih ponselnya, bermaksud melaporkan perkembangan terbaru kepada CB.

"Hei, sedang apa kau?", tanya seorang prajurit saat melihat Spy mengeluarkan ponsel. Dia mendekat dan duduk di sebelahnya.

"Ah, cuma ingin menghubungi adikku di rumah", jawab Spy sekenanya.

"Aah, tadi pagi aku juga menghubungi adikku. Dia sedang diet", kata prajurit itu. Spy sepintas membaca nametag yang dipakai prajurit itu, 'Swastiko Kusumo Nugroho'.

"Namamu panjang sekali. Bagaimana aku memanggilmu?", tanya Spy.

"Panggil saja Leo, aku penggemar Syahrini", jawabnya. Spy mengangkat sebelah alisnya, keheranan. Kemudian dia melihat nametag Spy, 'Espeye'. "Wah, namamu sedikit sulit diucapkan".

"Panggil saja Es, ayahku pengemar berat Popeye", jawab Spy.

Mereka berdua terlibat obrolan yang panjang. Di antara obrolan itu Spy terus berusaha mengirimkan informasi pada CB, tetapi karena ada Leo di sampingnya, dia harus berhati-hati. Sialnya, saat akan mengirimkan lokasi, baterai ponselnya habis, akhirnya dia cuma termenung sambil mendengarkan ocehan Leo yang berlogat Syahrini.

Benar-benar sesuatu.

* * * * *

Di markas, CB menerima pesan yang dikirimkan Spy:
'Telur 2 butir, sedikit garam, tambahkan irisan bawang merah dan daun seledri. Kocok sampai berbuih. Goreng dengan sedikit margarin sampai berwarna keemasan'.

Kolonel Blues, pimpinan Delta Force, sedang gelisah di ruangannya. Dia terpaku memandang monitor didepannya yang menampilkan pesan dari Spy, tubuhnya yang kekar itu tampak tenggelam di kursi besarnya.

"Kolonel", Letnan Angus, anggota Delta Force yang menangani kode rahasia menghadap dan memberi hormat. Sebelumnya dia juga menerima pesan yang sama dari CB.

"Bagaimana Letnan? Kau bisa memecahkannya?", tanpa menunggu waktu lama Kolonel langsung pada inti masalah.

"Saya sudah memecahkan kode itu", jawab Sersan Angus yang berbadan kurus itu. "Omelet", lanjutnya dengan mantap.

".........."

* * * * *

No comments:

Post a Comment