Gamma Rangers: Blackout
Chapter 1
Pukul
delapan pagi itu Explorer dengan tenang keluar dari gedung utama di pangkalan
militer rahasia Delta Force. Dia baru saja menerima perintah untuk melakukan
sebuah misi rahasia. Dia segera menuju ke sebuah bangunan kecil di sebelah
timur gedung utama. Bangunan ini adalah basecamp tim Gamma. Selain untuk
beristirahat, bangunan ini sering dipakai oleh anggota tim Gamma untuk
melakukan latihan ringan. Di bagian depan terdapat sebuah ruangan dengan
seperangkat furnitur berbahan kayu. Anggota tim Gamma sering menghabiskan waktu
bersama di ruangan ini untuk bercengkerama dan minum kopi, minuman favorit
mereka.
"Misi
kita kali ini adalah menggagalkan rencana pemberontakan Jendral Sodatoy,
pemimpin kelompok separatis di Indonesia", terang Explorer saat briefing
dengan anggota tim Gamma. Armstrong, Saboteur dan Ace mendengarkan setiap
penjelasan yang disampaikan pemimpin tim mereka.
Sebenarnya
misi ini sudah dimulai sejak seminggu sebelumnya, dijalankan oleh dua anggota
tim Gamma. CB dan Spy telah memperoleh tugas mengumpulkan informasi awal yang
sangat dibutuhkan oleh tim dalam mengatur strategi. CB bertugas mengumpulkan
informasi dari luar, sedangkan Spy bertugas menyusup ke dalam pasukan
pemberontak untuk mencari informasi dari dalam. Dari hasil penyusupan sementara
didapatkan informasi bahwa Jendral Sodatoy berencana melakukan kudeta di
wilayah Panjalu.
"Panjalu?
Dimana itu?", tanya Armstrong.
"Aku
juga tak pernah mendengar nama daerah itu. Mungkin ini adalah sebuah
kode", timpal Ace.
"Mau
Panjalu atau apapun itu namanya, pasti akan kuledakkan seperti kembang api
raksasa", kata-kata penuh semangat itu diucapkan oleh Saboteur.
"Panjalu
pernah benar-benar ada. Itu adalah nama kerajaan di Jawa. Pusat pemerintahannya
di Daha (baca: dhoho), atau Kediri di
masa sekarang", kembali Explorer menjelaskan.
"Wow...
Ternyata kamu punya pengetahuan sejarah yang bagus", puji Ace.
"Anu...
Aku juga baru tahu tadi pagi, CB yang memberitahuku", kata Explorer lagi.
"..........",
ketiga orang lainnya kompak diam.
"Oke,
persiapkan perlengkapan kalian. Kita berangkat dalam satu jam", perintah
Explorer yang langsung dipatuhi oleh yang lainnya.
* *
* * *
Hampir
tengah hari, tampak tiga motor berhenti di tepi pantai Pangi. Kecuali Ace yang
dibonceng oleh Explorer, dua personil lain mengendarai motor sendiri.
"Inikah
tempat persiapan pemberontakan Jendral Sodatoy?", Armstrong menatap kagum
keindahan pantai Pangi. "Sepertinya tempat ini terlalu terpencil untuk
pemberontakan", lanjutnya.
"Kupikir
juga begitu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan pasukan pemberontak disini. Ace,
kau yakin koordinat yang dikirim CB adalah tempat ini?", tanya Explorer.
"Aku
yakin telah memasukkan koordinat dengan benar. Atau... Nggg... Kita
tersesat", jawab Ace polos.
".........."
* *
* * *
Di
tempat lain, tampak Spy sedang berada di tengah pasukan pemberontak. Pasukan
sedang berada di tengah hutan, baru saja mereka selessai membongkar muatan dan
mendirikan beberapa tenda. Pasukan baru saja sampai di lokasi ini dua jam yang
lalu, lokasi keempat sejak Spy menyusup. Dia telah mengumpulkan banyak
informasi dari pasukan pemberontak, tetapi tetap saja belum dapat diketahui
secara pasti dimana dan bagaimana pemberontakan akan dilakukan.
Selepas
tengah hari, tampak sebuah jeep memasuki camp. Dua orang turun, Jendral Sodatoy
dan Mayor Bishop yang langsung disambut oleh Kapten Barker, komandan pasukan.
Mereka bertiga masuk dalam sebuah tenda, diikuti beberapa komandan regu.
Briefing taktik pemberontakan dimulai.
Spy
meraih ponselnya, bermaksud melaporkan perkembangan terbaru kepada CB.
"Hei, sedang apa kau?", tanya seorang prajurit saat melihat Spy mengeluarkan ponsel. Dia mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Ah,
cuma ingin menghubungi adikku di rumah", jawab Spy sekenanya.
"Aah,
tadi pagi aku juga menghubungi adikku. Dia sedang diet", kata prajurit
itu. Spy sepintas membaca nametag yang dipakai prajurit itu, 'Swastiko Kusumo
Nugroho'.
"Namamu
panjang sekali. Bagaimana aku memanggilmu?", tanya Spy.
"Panggil
saja Leo, aku penggemar Syahrini", jawabnya. Spy mengangkat sebelah
alisnya, keheranan. Kemudian dia melihat nametag Spy, 'Espeye'. "Wah,
namamu sedikit sulit diucapkan".
"Panggil
saja Es, ayahku pengemar berat Popeye", jawab Spy.
Mereka
berdua terlibat obrolan yang panjang. Di antara obrolan itu Spy terus berusaha
mengirimkan informasi pada CB, tetapi karena ada Leo di sampingnya, dia harus
berhati-hati. Sialnya, saat akan mengirimkan lokasi, baterai ponselnya habis,
akhirnya dia cuma termenung sambil mendengarkan ocehan Leo yang berlogat
Syahrini.
Benar-benar
sesuatu.
* *
* * *
Di
markas, CB menerima pesan yang dikirimkan Spy:
'Telur 2 butir, sedikit garam, tambahkan
irisan bawang merah dan daun seledri. Kocok sampai berbuih. Goreng dengan
sedikit margarin sampai berwarna keemasan'.
Kolonel
Blues, pimpinan Delta Force, sedang gelisah di ruangannya. Dia terpaku
memandang monitor didepannya yang menampilkan pesan dari Spy, tubuhnya yang
kekar itu tampak tenggelam di kursi besarnya.
"Kolonel",
Letnan Angus, anggota Delta Force yang menangani kode rahasia menghadap dan
memberi hormat. Sebelumnya dia juga menerima pesan yang sama dari CB.
"Bagaimana
Letnan? Kau bisa memecahkannya?", tanpa menunggu waktu lama Kolonel
langsung pada inti masalah.
"Saya
sudah memecahkan kode itu", jawab Sersan Angus yang berbadan kurus itu. "Omelet",
lanjutnya dengan mantap.
".........."
* *
* * *
No comments:
Post a Comment