Saturday, February 22, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 04)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 4


Pasukan pemberontak telah sampai di wilayah pembangkit listrik Karangkates. Petugas keamanan di pos jaga dilumpuhkan dengan mudah, hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk meringkus semua petugas keamanan di kompleks pembangkit tersebut. Dalam waktu singkat, mereka telah menyandera seluruh kompleks beserta seluruh staf pembangkit. PLTA Sutami telah dikuasai.

Jendral Sodatoy tampak sumringah melihat kerja pasukannya yang cepat dan efisien. Dia berdiri menghadap panel utama yang mengontrol kinerja PLTA Sutami.

"Tutup pintu air yang menuju turbin", perintah Jendral Sodatoy kepada para operator panel.

"Tidak! Jika turbin dihentikan, sebagian kota Malang, Blitar dan Tulungagung akan kehilangan suplai listrik", protes kepala operator.

"Laksanakan, atau kau tak akan bisa protes untuk selamanya", kata sang Jendral dengan tenang sambil mengarahkan pistolnya ke pelipis kepala operator.

Operator itu mau tak mau harus menjalankan perintah Sodatoy. Lima belas menit kemudian, PLTA Sutami berhenti beroperasi. Kegelapan meliputi wilayah bendungan Karangkates, lalu meluas hingga kota Malang, Blitar dan Tulungagung. Generator di kompleks pembangkit secara otomatis menyala untuk menyuplai listrik gedung pengendali pembangkit.

Jendral Sodatoy menyeringai puas. PLTA Sutami telah berhasil dikuasai.

* * * * *

Saat akan memasuki jalur jalan kembar Ngreco, Explorer menghentikan timnya karena tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulita.

"Sepertinya kita terlambat", kata Ace.

"Kita memang terlambat. Tak ada hubungannya dengan pemadaman", sahut Explorer. Tim Gamma memang sudah ngebut habis-habisan di perjalanan, tetapi tetap saja mereka membutuhkan hampir dua jam untuk sampai di lokasi mereka sekarang. Masih beberapa kilometer lagi menuju bendungan Karangkates.

"Ini perkiraanku. Kalian pikir kenapa Kolonel meminta kita menuju Karangkates dalam satu jam?", kata Ace serius. Tiga orang lainnya kompak menggelengkan kepala. "Pasti ada hubungannya dengan pemberontakan Jendral Sodatoy".

"Hmmm...", tiga orang lainnya memperhatikan dengan serius.

"Mungkin Jendral Sodatoy berada disana dan berencana menyabotase PLTA", urai Ace. "Tapi sepertinya kita sudah terlambat, pemadaman luas ini mungkin saja karena sabotase Jendral Sodatoy".

"Aku tadi juga berpikir begitu", sahut Saboteur.

"Berpikir apa?", tanya Armstrong.

"Sabotase. Boom... Kembang api raksasa", jawab Saboteur bersemangat.

"Jika mereka meledakkan bendungan, seharusnya dari sini kita bisa melihat cahaya ledakannya. Atau paling tidak merasakan getarannya", bantah Ace.

"Akan kucoba menghubungi CB", kata Explorer singkat, lalu menyalakan perangkat komunikasi di motornya.

* * * * *

Pangkalan Delta Force senja itu dilingkupi kegelapan. Di tengah kegelapan itu tampak kesibukan, atau lebih tepatnya kepanikan. Tak ada tenaga listrik, semua perangkat elektronik mati. Hal itu telah melumpuhkan aktivitas pangkalan.

"Sepertinya teorimu salah", kata Kolonel. "Padamnya listrik ini mungkin karena ulah Jendral Sodatoy", Kolonel mengatakan itu dengan cemas.

"Jadi, pesan misterius di saluran rahasia itu memberitahukan hal yang benar?", kali ini nada bicara CB sedikit pelan. Teorinya telah dimentahkan.

Tanpa diduga, ternyata Jendral Sodatoy bergerak menuju target di luar daftar. Padahal semua target di dalam daftar itu didapatkan oleh Spy, informasi dari dalam pasukan pemberontak. CB tak habis pikir, apakah Spy memberikan informasi yang salah? Lalu siapa yang mengirimkan pesan di saluran rahasia?

"Sudah lebih dari lima menit, kenapa generator masih belum menyala?", tampak Kolonel sangat gusar. "Aku akan cari tahu", lanjut Kolonel sambil berjalan menuju pintu.

"Kolonel, tunggu", sergah CB.

"Ada apa lagi?", Kolonel menghentikan langkahnya.

"Jangan tinggalkan aku, aku takut gelap", pinta CB dengan nada memelas.

* * * * *

"Markas tak bisa dihubungi", ujar Explorer setelah tak berhasil menghubungi pangkalan.
"Pasti sistem komunikasi mereka mati karena tak mendapat suplai listrik".

"Bukannya pangkalan memiliki generator? Apa generatornya juga tak bekerja?", tanya Ace.

"Aku tidak tahu, generator itu sudah bertahun-tahun tak dipakai. Mungkin rusak", tebak Explorer.

"Kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita ke Karangkates. Kita jumpai Spy disana untuk menentukan langkah selanjutnya", usul Ace.

"Baiklah. Siapkan perlengkapan kalian. Ada kemungkinan kita harus bertempur di Karangkates", perintah Explorer tegas.

"Siap", sahut Ace, Armstrong dan Saboteur bersamaan. Kemudian mereka sibuk mempersiapkan perlengkapan tempur mereka.

* * * * *

Di gedung pengendali PLTA Sutami, Spy tampak bingung. Dia tidak pernah menduga Jendral Sodatoy akan melakukan sabotase PLTA. Tetapi tampaknya bukan hanya ini rencana Jendral Sodatoy.

"Jendral, saya telah menerima berita dari Mayor Bishop. PLTA Sengguruh berhasil dikuasai", lapor seorang bawahan yang bertugas di bagian komunikasi.

"Bagus, tinggal menunggu laporan dari tim barat", jawab Jendral tersenyum puas. "Sementara itu aku akan memberi salam pada teman baik kita", lanjutnya sambil melangkah tegap menuju pintu.

Spy yang berjaga di pintu melangkah minggir untuk memberi jalan bagi Jendral Sodatoy. Tetapi tanpa diduga, sang Jendral berhenti di depannya.

"Salam prajurit Espeye, atau perlu kupanggil Sersan Dua Spy?", kata Jendral dengan senyum sinisnya. Spy sangat terkejut penyamarannya terbongkar. Dengan cepat dia melompat mundur sambil meraih pistol yang tergantung di pinggangnya, kemudian menodongkan ke arah kepala sang Jendral. Benar-benar sebuah reaksi yang cepat dari Spy.

* * * * *

No comments:

Post a Comment