Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 5
Spy
masih tampak terkejut dengan terbongkarnya pernyamarannya, tetapi dia tetap
waspada dan terus menodongkan senjatanya kearah Jendral Sodatoy.
"Aku
ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu", kata Jendral
Sodatoy dengan tenang. Masih dengan senyum sinisnya.
"Terima
kasih?", Spy tak mengerti maksud perkataan sang Jendral.
"Ya.
Karena kau telah membantu kelancaran misi kami", kali ini senyumnya makin
lebar.
"Membantu?",
kata Spy makin tak paham.
"Kau
telah mengalihkan perhatian Delta Force ke daerah Kediri dan sekitarnya
sehingga kami bisa menguasai PLTA Sutami dan Sengguruh tanpa kesulitan",
lanjut Jendral.
"Kami
telah mengenalimu saat di camp Arjuno. Karena itulah kami sengaja membocorkan
beberapa informasi palsu supaya bisa kau laporkan ke atasanmu".
"Jendral,
tim Kapten Barker telah menguasai PLTA Wlingi dan Lodoyo. Divisi Tulungagung
pimpinan Kapten Ringo juga telah menguasai PLTA Tulungagung", seru petugas
komunikasi.
"Sukses
besar, saatnya meringkusmu", ujar Jendral sambil melangkah maju.
"Berhenti
atau kutembak kau", ancam Spy. Tetapi Jendral tetap tersenyum dan
melangkah maju. Saat Jendral semakin mendekat, Spy mengarahkan pistolnya ke
arah kaki sang Jendral dan menarik pelatuknya.
* *
* * *
Explorer
dan timnya mengurangi kecepatan setelah melintasi bendungan Lahor, mereka
langsung mengarah ke bendungan Karangkates. Di boncengan, Ace masih terus
berusaha menghubungi CB, sejauh ini belum berhasil. Mereka memarkir motor di
dekat gerbang taman wisata Sutami, kemudian memasuki area wisata untuk menuju
bendungan melalui sisi timur.
Mereka
berhenti tak jauh dari pagar yang memisahkan area wisata dan area bendungan,
kemudian Explorer mengamati situasi bendungan dengan teropong night vision. Di
seberang pagar tampak enam orang dengan senjata lengkap menutup akses menuju
bendungan dari utara, begitu pula di sisi selatan. Sebuah papan penghalang dengan
tulisan 'PERAWATAN BENDUNGAN - DILARANG
MELINTAS' terpasang di kedua ujung, menutup akses menuju bendungan.
"Hampir
tak ada celah", gumam Explorer.
"Menurutku...",
Saboteur tak meneruskan kalimatnya.
"Apa?",
tanya Explorer penasaran.
"Anu...
Kalau tidak salah gedung kendali PLTA ada di sisi lain bendungan", lanjut Saboteur.
"Hmmm...
Lalu bagaimana kita pergi kesana? Haruskah kita kembali dan mengambiil jalan
memutar?", kata Explorer sambil memikirkan rencana selanjutnya.
"Ada
jalan pintas tanpa harus naik ke bendungan. Tetapi letaknya di ujung selatan
bendungan", kata Saboteur sambil menunjuk lokasi yang dimaksud.
"Jalan
pintas?", tanya Ace keheranan. "Menembus bendungan?".
"Sebenarnya
itu bukanlah jalan, tetapi sebuah saluran air", Saboteur mulai
menjelaskan.
Saluran
tersebut sebenarnya adalah sebuah spillway. Fungsinya adalah membuang kelebihan
air saat ketinggian air waduk berada di atas batas normal. Saat ketinggian air
normal, spillway tak berfungsi.
"Bagaimana
kau tahu hal itu?", kali ini Explorer benar-benar terpana, begitu juga Ace
dan Armstrong. Mereka tak menduga Saboteur mengetahui banyak hal tentang
bendungan Karangkates.
"Dulu
Joker pernah mengajakku kesini. Dia memberitahu aku tentang bagian-bagian
bendungan dan fungsinya", jawab Saboteur lugas.
"Lalu...
Bagaimana kita bisa mencapai saluran itu?", kali ini Ace yang bertanya.
"Berenang?",
sahut Armstrong. Yang lain cuma menanggapinya dengan pandangan kurang setuju.
"Tidak
perlu berenang", kata Saboteur sambil menunjuk sesuatu yang mengapung di
pesisir waduk, tak jauh dari posisi mereka. Sebuah pelampung besar dan panjang,
banana boat.
* *
* * *
Di
pusat kendali PLTA, Spy tak berdaya saat Jendral Sodatoy dengan mudah merampas
pistolnya. Spy tak bisa menarik pelatuk pistolnya karena lupa melepas penguncinya,
kini dia disekap di sebuah gudang, terikat di sebuah kursi. Tak habis pikir
dia, kenapa tak memperhatikan pengunci pelatuk sebelumnya, dia memang selalu
kikuk jika harus menggunakan senjata. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah
menunggu, dan tak berharap akan datangnya bantuan.
* *
* * *
"Letnan
Suko!", panggil Kolonel Blues dengan lantang saat dia memasuki ruang
generator. Ruangan besar itu remang-remang, hanya ada sedikit penerangan dari
beberapa lampu darurat dan senter. Di tengah ruangan tampak sebuah bayangan
hitam yang besar, sebuah generator besar yang mampu menyuplai kebutuhan listrik
pangkalan Delta Force.
"Kenapa
generator belum juga bekerja?".
"Siap,
Kolonel", Letnan Suko yang berbadan tambun itu segera berdiri dan memberi
hormat pada Kolonel. "Kami sedang memperbaikinya. Ada gangguan pada dinamo
karena lama tak terpakai", lanjutnya menjelaskan kondisi kerusakan
generator.
"Berapa
lama?", tanya Kolonel lagi.
"Siap.
Tujuh tahun tak terpakai sehingga komponen dinamo berkarat", jawab Letnan
Suko.
"Maksudku
berapa lama waktu untuk memperbaikinya?", tanya sang Kolonel gusar, nyaris
berteriak.
"Siap.
Dua puluh menit", jawab Letnan Suko.
"Selesaikan
dalam sepuluh menit. Lanjutkan!", perintah Kolonel dengan keras.
"Siap.
Laksanakan!", seru Letnan Suko sambil memberi hormat, lalu kembali pada
pekerjaannya.
Kolonel
berjalan mengitari ruang generator, mengawasi pekerjaan tim pimpinan Letnan
Suko. Memastikan semua pekerjaan dilakukan dengan cepat dan benar. Di
belakangnya, CB terus menguntit.
"Letnan,
dinamo telah selesai dibersihkan", seru seorang prajurit yang mendapat
tugas membersihkan karat dinamo.
"Bagus,
segera pasang kembali", perintah Letnan Suko.
Para
prajurit segera memasang dinamo besar itu ke tempatnya. Hanya butuh lima menit
saja, dinamo itu telah siap digunakan. Tampak Kolonel tersenyum puas melihat
efisiensi pekerjaan yang dilakukan tim Letnan Suko.
"Semua
komponen telah terpasang!", seru seorang prajurit setelah melakukan
pemeriksaan terhadap semua komponen generator.
"Bagus,
nyalakan generatornya sekarang!", perintah Letnan Suko.
Seorang
operator segera memutar kunci starter generator. Terdengar bunyi mendengung,
lalu disusul bunyi bederak dan generator bergetar keras. Getaran berlangsung
selama tiga detik, lalu generator itu diam. Sunyi. Operator mengulangi prosedur
penyalaan generator kembali. Hasilnya sama, generator tak bisa menyala.
Kecemasan mulai merebak di ruangan generator, Kolonel tampak semakin gusar.
"Letnan
Suko", teriak seorang teknisi yang berdiri di samping generator.
"Sepertinya saya menemukan penyebab generator tak mau menyala",
lanjut teknisi tersebut.
"Apa
penyebabnya? Apakah ada komponen yang terbakar atau rusak?", seru Letnan
Suko. Dia khawatir kerusakan generator lebih parah dari dugaannya. Itu berarti
membutuhkan waktu perbaikan yang lebih lama.
"Bukan,
Letnan. Seluruh komponen dalam keadaan baik dan layak beroperasi", jawab
teknisi itu.
"Lalu
apa penyebabnya?", Letnan mulai heran. Semua komponen normal, lalu apa
yang menyebabkan generator tak mau menyala?
"Anu...
Bahan bakarnya habis", jawab teknisi dengan polos.
* *
* * *
Di
lokasi bendungan Karangkates, tampak empat orang melepaskan tali penambat
banana boat. Mereka akan menaiki banana boat untuk mencapai spillway di ujung
selatan bendungan, kemudian turun ke spillway dan menyusurinya sampai ke bawah
di sisi barat bendungan. Dalam waktu singkat, banana boat itu telah mereka
naiki. Menggunakan dayung plastik, mereka mengarahkan banana boat menuju
spillway. Banana boat terus melaju, pelan dan tenang, hanya diterangi cahaya
bulan yang temaram. Sekira sepuluh menit berselang, mereka telah mendekati
lokasi spillway saat Explorer mendengar samar suara air yang bergejolak.
"Suara
apa itu?", bisik Explorer pada rekan-rekannya. Yang lain cuma
menggelengkan kepala. Explorer segera melihat keadaan sekitar dengan teropong
night visionnya. Dia sedikit terkejut saat mengarahkan teropongnya ke ujung
selatan bendungan, dimana spillway berada. "Tampaknya kita punya masalah",
kata Explorer dengan nada khawatir.
"Masalah?",
tanya Ace.
"Spillway
dipenuhi air" , jawab Explorer singkat.
Tampaknya
mereka tidak menyadari naiknya ketinggian air karena pintu air yang menuju tiga
turbin telah ditutup. Permukaan air naik melebihi ambang normal, dan
permukaannya telah melampaui bibir spillway. Karena air selalu mengalir ke
tempat yang lebih rendah, maka air itu membanjiri spillway. Dengan sudut
kemiringan spillway yang mencapai 50 derajat, tak pelak air mengalir dengan
sangat deras sejauh 200 meter menuju kaki bendungan di sisi barat.
"Berpegangan
yang kuat, kita akan terbawa arus dan meluncur ke bawah dengan goncangan yang
sangat keras", saran Explorer dengan tegang.
"Uwh...
Mungkin aku telah mengajukan ide yang buruk", kata Saboteur sambil
menggenggam tali pegangan banana boat dengan kuat.
Wajah
mereka berempat semakin tegang saat banana boat bergerak semakin cepat, terbawa
arus menuju spillway. Banana boat tiba-tiba menukik tajam ke bawah setelah
memasuki spillway, dan meluncur ke bawah dengan sangat cepat. Teriakan mereka
tertelan oleh kerasnya suara gemuruh air.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment