Saturday, March 1, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 05)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 5


Spy masih tampak terkejut dengan terbongkarnya pernyamarannya, tetapi dia tetap waspada dan terus menodongkan senjatanya kearah Jendral Sodatoy.

"Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu", kata Jendral Sodatoy dengan tenang. Masih dengan senyum sinisnya.

"Terima kasih?", Spy tak mengerti maksud perkataan sang Jendral.

"Ya. Karena kau telah membantu kelancaran misi kami", kali ini senyumnya makin lebar.

"Membantu?", kata Spy makin tak paham.

"Kau telah mengalihkan perhatian Delta Force ke daerah Kediri dan sekitarnya sehingga kami bisa menguasai PLTA Sutami dan Sengguruh tanpa kesulitan", lanjut Jendral.

"Kami telah mengenalimu saat di camp Arjuno. Karena itulah kami sengaja membocorkan beberapa informasi palsu supaya bisa kau laporkan ke atasanmu".

"Jendral, tim Kapten Barker telah menguasai PLTA Wlingi dan Lodoyo. Divisi Tulungagung pimpinan Kapten Ringo juga telah menguasai PLTA Tulungagung", seru petugas komunikasi.

"Sukses besar, saatnya meringkusmu", ujar Jendral sambil melangkah maju.

"Berhenti atau kutembak kau", ancam Spy. Tetapi Jendral tetap tersenyum dan melangkah maju. Saat Jendral semakin mendekat, Spy mengarahkan pistolnya ke arah kaki sang Jendral dan menarik pelatuknya.

* * * * *

Explorer dan timnya mengurangi kecepatan setelah melintasi bendungan Lahor, mereka langsung mengarah ke bendungan Karangkates. Di boncengan, Ace masih terus berusaha menghubungi CB, sejauh ini belum berhasil. Mereka memarkir motor di dekat gerbang taman wisata Sutami, kemudian memasuki area wisata untuk menuju bendungan melalui sisi timur.

Mereka berhenti tak jauh dari pagar yang memisahkan area wisata dan area bendungan, kemudian Explorer mengamati situasi bendungan dengan teropong night vision. Di seberang pagar tampak enam orang dengan senjata lengkap menutup akses menuju bendungan dari utara, begitu pula di sisi selatan. Sebuah papan penghalang dengan tulisan 'PERAWATAN BENDUNGAN - DILARANG MELINTAS' terpasang di kedua ujung, menutup akses menuju bendungan.

"Hampir tak ada celah", gumam Explorer.

"Menurutku...", Saboteur tak meneruskan kalimatnya.

"Apa?", tanya Explorer penasaran.

"Anu... Kalau tidak salah gedung kendali PLTA ada di sisi lain  bendungan", lanjut Saboteur.

"Hmmm... Lalu bagaimana kita pergi kesana? Haruskah kita kembali dan mengambiil jalan memutar?", kata Explorer sambil memikirkan rencana selanjutnya.

"Ada jalan pintas tanpa harus naik ke bendungan. Tetapi letaknya di ujung selatan bendungan", kata Saboteur sambil menunjuk lokasi yang dimaksud.

"Jalan pintas?", tanya Ace keheranan. "Menembus bendungan?".

"Sebenarnya itu bukanlah jalan, tetapi sebuah saluran air", Saboteur mulai menjelaskan.

Saluran tersebut sebenarnya adalah sebuah spillway. Fungsinya adalah membuang kelebihan air saat ketinggian air waduk berada di atas batas normal. Saat ketinggian air normal, spillway tak berfungsi.

"Bagaimana kau tahu hal itu?", kali ini Explorer benar-benar terpana, begitu juga Ace dan Armstrong. Mereka tak menduga Saboteur mengetahui banyak hal tentang bendungan Karangkates.

"Dulu Joker pernah mengajakku kesini. Dia memberitahu aku tentang bagian-bagian bendungan dan fungsinya", jawab Saboteur lugas.

"Lalu... Bagaimana kita bisa mencapai saluran itu?", kali ini Ace yang bertanya.

"Berenang?", sahut Armstrong. Yang lain cuma menanggapinya dengan pandangan kurang setuju.

"Tidak perlu berenang", kata Saboteur sambil menunjuk sesuatu yang mengapung di pesisir waduk, tak jauh dari posisi mereka. Sebuah pelampung besar dan panjang, banana boat.

* * * * *

Di pusat kendali PLTA, Spy tak berdaya saat Jendral Sodatoy dengan mudah merampas pistolnya. Spy tak bisa menarik pelatuk pistolnya karena lupa melepas penguncinya, kini dia disekap di sebuah gudang, terikat di sebuah kursi. Tak habis pikir dia, kenapa tak memperhatikan pengunci pelatuk sebelumnya, dia memang selalu kikuk jika harus menggunakan senjata. Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menunggu, dan tak berharap akan datangnya bantuan.

* * * * *

"Letnan Suko!", panggil Kolonel Blues dengan lantang saat dia memasuki ruang generator. Ruangan besar itu remang-remang, hanya ada sedikit penerangan dari beberapa lampu darurat dan senter. Di tengah ruangan tampak sebuah bayangan hitam yang besar, sebuah generator besar yang mampu menyuplai kebutuhan listrik pangkalan Delta Force.

"Kenapa generator belum juga bekerja?".

"Siap, Kolonel", Letnan Suko yang berbadan tambun itu segera berdiri dan memberi hormat pada Kolonel. "Kami sedang memperbaikinya. Ada gangguan pada dinamo karena lama tak terpakai", lanjutnya menjelaskan kondisi kerusakan generator.

"Berapa lama?", tanya Kolonel lagi.

"Siap. Tujuh tahun tak terpakai sehingga komponen dinamo berkarat", jawab Letnan Suko.

"Maksudku berapa lama waktu untuk memperbaikinya?", tanya sang Kolonel gusar, nyaris berteriak.

"Siap. Dua puluh menit", jawab Letnan Suko.

"Selesaikan dalam sepuluh menit. Lanjutkan!", perintah Kolonel dengan keras.

"Siap. Laksanakan!", seru Letnan Suko sambil memberi hormat, lalu kembali pada pekerjaannya.

Kolonel berjalan mengitari ruang generator, mengawasi pekerjaan tim pimpinan Letnan Suko. Memastikan semua pekerjaan dilakukan dengan cepat dan benar. Di belakangnya, CB terus menguntit.

"Letnan, dinamo telah selesai dibersihkan", seru seorang prajurit yang mendapat tugas membersihkan karat dinamo.

"Bagus, segera pasang kembali", perintah Letnan Suko.

Para prajurit segera memasang dinamo besar itu ke tempatnya. Hanya butuh lima menit saja, dinamo itu telah siap digunakan. Tampak Kolonel tersenyum puas melihat efisiensi pekerjaan yang dilakukan tim Letnan Suko.

"Semua komponen telah terpasang!", seru seorang prajurit setelah melakukan pemeriksaan terhadap semua komponen generator.

"Bagus, nyalakan generatornya sekarang!", perintah Letnan Suko.

Seorang operator segera memutar kunci starter generator. Terdengar bunyi mendengung, lalu disusul bunyi bederak dan generator bergetar keras. Getaran berlangsung selama tiga detik, lalu generator itu diam. Sunyi. Operator mengulangi prosedur penyalaan generator kembali. Hasilnya sama, generator tak bisa menyala. Kecemasan mulai merebak di ruangan generator, Kolonel tampak semakin gusar.

"Letnan Suko", teriak seorang teknisi yang berdiri di samping generator. "Sepertinya saya menemukan penyebab generator tak mau menyala", lanjut teknisi tersebut.

"Apa penyebabnya? Apakah ada komponen yang terbakar atau rusak?", seru Letnan Suko. Dia khawatir kerusakan generator lebih parah dari dugaannya. Itu berarti membutuhkan waktu perbaikan yang lebih lama.

"Bukan, Letnan. Seluruh komponen dalam keadaan baik dan layak beroperasi", jawab teknisi itu.

"Lalu apa penyebabnya?", Letnan mulai heran. Semua komponen normal, lalu apa yang menyebabkan generator tak mau menyala?

"Anu... Bahan bakarnya habis", jawab teknisi dengan polos.

* * * * *

Di lokasi bendungan Karangkates, tampak empat orang melepaskan tali penambat banana boat. Mereka akan menaiki banana boat untuk mencapai spillway di ujung selatan bendungan, kemudian turun ke spillway dan menyusurinya sampai ke bawah di sisi barat bendungan. Dalam waktu singkat, banana boat itu telah mereka naiki. Menggunakan dayung plastik, mereka mengarahkan banana boat menuju spillway. Banana boat terus melaju, pelan dan tenang, hanya diterangi cahaya bulan yang temaram. Sekira sepuluh menit berselang, mereka telah mendekati lokasi spillway saat Explorer mendengar samar suara air yang bergejolak.

"Suara apa itu?", bisik Explorer pada rekan-rekannya. Yang lain cuma menggelengkan kepala. Explorer segera melihat keadaan sekitar dengan teropong night visionnya. Dia sedikit terkejut saat mengarahkan teropongnya ke ujung selatan bendungan, dimana spillway berada. "Tampaknya kita punya masalah", kata Explorer dengan nada khawatir.

"Masalah?", tanya Ace.

"Spillway dipenuhi air" , jawab Explorer singkat.

Tampaknya mereka tidak menyadari naiknya ketinggian air karena pintu air yang menuju tiga turbin telah ditutup. Permukaan air naik melebihi ambang normal, dan permukaannya telah melampaui bibir spillway. Karena air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, maka air itu membanjiri spillway. Dengan sudut kemiringan spillway yang mencapai 50 derajat, tak pelak air mengalir dengan sangat deras sejauh 200 meter menuju kaki bendungan di sisi barat.

"Berpegangan yang kuat, kita akan terbawa arus dan meluncur ke bawah dengan goncangan yang sangat keras", saran Explorer dengan tegang.

"Uwh... Mungkin aku telah mengajukan ide yang buruk", kata Saboteur sambil menggenggam tali pegangan banana boat dengan kuat.

Wajah mereka berempat semakin tegang saat banana boat bergerak semakin cepat, terbawa arus menuju spillway. Banana boat tiba-tiba menukik tajam ke bawah setelah memasuki spillway, dan meluncur ke bawah dengan sangat cepat. Teriakan mereka tertelan oleh kerasnya suara gemuruh air.

* * * * *

No comments:

Post a Comment