Saturday, March 8, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 06)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 6


Sementara itu suplai listrik di Pangkalan Delta Force telah pulih setelah generator diisi bahan bakar. Seluruh penerangan dan sistem elektronik telah pulih. Pangkalan bisa beroperasi normal kembali. Kolonel Blues dan CB telah kembali ke ruang pusat komando.

"Dimana posisi tim sekarang?", tanya Kolonel. CB segera melacak lokasi tim dan menampilkan di layar utama. Tampak tiga titik berjajar di area parkir wisata Sutami.

"Mereka telah sampai di Karangkates seperti perintah Anda", jawab CB.

"Hubungkan", perintah Kolonel.

"Siap", sahut CB. Kemudian memasukkan perintah untuk menghubungi Explorer.

Setelah berkali-kali mencoba dan tak mendapat respon dari tim, CB mengaktifkan sistem kendali jarak jauh untuk membunyikan klakson motor. Akan tetapi setelah beberapa waktu tetap tak ada respon dari tim. CB memandang Kolonel, mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.

"Kenapa selalu saja susah dihubungi?", Kolonel tampak uring-uringan.

"Jangan-jangan mereka mengalami konflik dengan pasukan pemberontak?", CB menyampaikan kemungkinan yang terpikir olehnya.

"Apakah kau memiliki kemungkinan yang lebih baik?", tanya Kolonel, menginginkan sebuah kemungkinan yang baik.

"Nggg... Sedang hunting foto mungkin?", jawab CB sedikit tak yakin.

"Itu lebih baik", jawab Kolonel setelah menghela nafas panjang.

* * * * *

"Simpul kupu-kupu memang paling mudah dilepaskan", gumam Spy setelah berhasil melepaskan ikatan yang membelenggunya.

Kemudian dia mengamati sekitarnya, gudang itu hanya memiliki satu pintu yang terkunci dan sebuah jendela kecil berteralis. Dia memeriksa teralis tersebut apakah bisa dilepas atau tidak. Ternyata teralis itu terpasang dengan kuat ke bingkai jendela. Sekuat apapun dia berusaha, tak akan mampu melepasnya dengan tangan kosong. Mungkin beda ceritanya kalau Armstrong yang berada di posisi Spy. Dari jendela itu dia bisa melihat bayangan hitam yang menjulang tinggi. Dia juga bisa mendengar gemuruh air yang mengalir, dekat dengan posisinya.

Spy menjauh dari jendela, mencari cara lain untuk keluar. Tak banyak yang dia temukan, hanya beberapa peralatan kebersihan dan beberapa peralatan lain. Tak ada yang bisa digunakan untuk membantunya keluar.

Putus asa, Spy kembali duduk dan menunggu perkembangan situasi. Samar-samar didengarnya suara gesekan di luar. Spy bergegas menuju jendela dan melihat keluar. Tetapi hanya kegelapan saja yang dilihatnya. Dia terus melihat keluar sampai beberapa menit kemudian, lalu kembali duduk di dekat pintu.

Kembali teringat kesalahannya tadi, bagaimana dia bisa lupa melepas pengunci pelatuk pistol? Padahal itu adalah prosedur standar penggunaan senjata api. Memang Spy sangat lemah dalam penggunaan senjata. Selama ini kelemahannya itu selalu tertutup dengan kemampuan spionasenya, ahli menyusup dan mengumpulkan informasi. Tetapi kali ini kelebihannya tersebut telah dimanfaatkan dengan baik oleh Jendral Sodatoy.

Sebuah ketukan di jendela membuyarkan lamunan Spy, dia melihat bayangan seseorang di luar jendela. Perlahan Spy berjalan mendekati jendela, masih tak jelas siapa sosok tersebut. Spy sangat terkejut dan melompat mundur saat kaca jendela tiba-tiba dipecahkan dari luar.

Kemudian dua telapak tangan muncul dan mencengkeram teralis jendela, tangan tersebut menghentakkan teralis hingga baut-bautnya berderak. Pada hentakan kedua, bagian bawah teralis terlepas dari bingkai jendela. Hentakan berikutnya benar-benar melepaskan teralis tersebut.

"Yo Spy, waktunya keluar", terdengar suara dari luar. Spy segera mendekati jendela dan melongok keluar.

"Armstrong!", serunya saat melihat rekannya berdiri di luar. Dia segera keluar melalui jendela itu. "Bagaimana kau tahu aku ada di ruangan itu?", tanya Spy setelah berada di luar.

"Kau memberikan tanda yang sangat jelas", jawab Armstrong.

"Tanda?", tanya Spy tak paham.

"Tuh", Armstrong menunjuk ke arah jendela yang baru saja dijebolnya. Spy segera membalikkan badannya dan melihat tulisan besar di dinding 'HELP! SPY' dengan tanda simbol gamma dan anak panah yang menunjuk ke jendela.

"Hah? Siapa yang menulis itu?", gumam Spy sambil melongo keheranan.

"Hey Spy, ayo kita pergi", panggil Armstrong yang sudah berada di pinggir sungai, berjalan ke arah barat menyusuri aliran sungai yang deras. Spy segera menyusulnya.

"Mau kemana? Jendral sodatoy berada di bangunan tadi", protes Spy.

"Lebih penting untuk mencari anggota tim Gamma yang lain. Setelah itu baru kita urus si Jendral", jawab Armstrong sambil terus memperhatikan tepian sungai yang dia lewati dengan bantuan senter.

"Mencari? Memangnya mereka kenapa?", tanya Spy lagi. Armstrong pun menceritakan kejadian yang mereka alami sambil terus menyusuri sungai.

* * * * *

"Kolonel, mungkin kita perlu mengirim bantuan?", usul CB setelah mempertimbangkan situasi yang mungkin terjadi.

"Tidak ada bala bantuan", jawab Kolonel singkat. "Saat ini hanya ada tim Alpha. Mereka tak memenuhi syarat untuk operasi di lapangan".

"Tim Alpha?", tanya CB sambil menaikkan alisnya.

"Aku, Letnan Angus dan Letnan Suko", jawab Kolonel.

"Oh, ya. Memang tidak cocok", gumam CB sambil mengangguk-angguk pelan.

Gumaman CB rupanya terdengar oleh Kolonel sehingga langsung melayangkan lirikan kesal. CB cuma nyengir menanggapinya. Monitor berkedip, ada sebuah panggilan di saluran utama. CB segera menerimanya. Ternyata panggilan itu dari Zuger, Gubernur Jawa Timur.

"Kolonel Blues, aku baru saja menerima sebuah surat ancaman. Pasukan pemberontak pimpinan Jendral Sodatoy telah merebut lima PLTA. Mereka meminta tebusan sebesar 22 triliun", kata-kata Gubernur Zuger sangat datar tanpa emosi, tetapi penuh dengan tekanan.

"Apakah mereka memberikan tenggang waktu?", tanya Kolonel.

"12 jam, terhitung mulai pukul delapan malam tadi. Jika tuntutan mereka tak dipenuhi, mereka akan meledakkan kelima bendungan itu", nada bicara Zuger masih datar. Sebelumnya Zuger adalah anggota militer sebelum terjun ke kancah politik. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel.

"Baiklah, lalu bagaimana rencana Anda?", tanya Kolonel Blues.

"Aku meminta bantuan Delta Force untuk membereskan masalah ini", katanya. "Pemerintah provinsi bisa saja mengusahakan uang 22 triliun, tetapi akan lebih baik jika tidak mengeluarkan biaya sama sekali", lanjut Gubernur Zuger. Dia memang dikenal sebagai seorang yang selalu memperhitungkan untung rugi.

"Baiklah, kalau begitu segera siapkan 22 triliun itu, dan berikan pada mereka", sahut Kolonel dengan tenang.

"Apa maksudmu? Kau tak bersedia membantu?", tukas sang Gubernur, masih dengan nada datar.

"Kami mau membantu. Tetapi...", kata Kolonel, kemudian diam.

"Apa?", Gubernur tampak tak sabar.

"Kami tidak memiliki cadangan dana operasional untuk misi khusus seperti ini", jelas Kolonel dengan sangat tenang.

"..........", Gubernur hanya diam. Sepertinya dia tahu kalau Kolonel Blues tidak bersedia bekerja dengan gratis. "Baiklah, berapa yang kauminta?", akhirnya kata-kata itu diucapkan juga oleh Gubernur.

"Tidak banyak. 600 juta, dibayar di muka", jawab sang Kolonel. CB yang mendengarnya juga terkejut, raut mukanya tampak tak percaya jika biaya operasional sebuah misi bisa sebesar itu.

"Ini pemerasan!", Gubernur tampak marah.

"Bukan pemerasan, hanya dana operasional", Kolonel masih menanggapi dengan tenang.

"Tapi jika sebanyak itu...", Gubernur tak meneruskan kalimatnya.

"Jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan tuntutan Jendral Sodatoy", kata Kolonel dengan tenang.

"Tidak! Lebih baik aku mengirimkan negosiatorku", kata Gubernur Zuger.

"Silahkan, kami tak akan menghalangi. Tapi kurasa negosiatormu hanya akan meledakkan bendungan lebih cepat", kata-kata Kolonel mengandung sebuah tantangan.

"Aaaahhh...", Gubernur mengerang kesal. "Baiklah, 600 juta dan aku mau semuanya beres!", lanjutnya.

"Kami akan segera bergerak setelah kami menerimanya", kata Kolonel.

"Dasar kau pemeras licik! Aku akan mengirimkannya sekarang juga!", Gubernur nyaris menjerit, kemudian memutuskan pembicaraan. Kolonel tersenyum puas.

"Nggg... Kolonel, kenapa tak kau beritahukan jika kita telah menjalankan misi itu? Lagipula, apakah biaya operasional satu misi bisa sebesar itu?", tanya CB.

"Inilah yang dinamakan improvisasi", jawab Kolonel dengan senyumnya.

* * * * *

No comments:

Post a Comment