Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 6
Sementara
itu suplai listrik di Pangkalan Delta Force telah pulih setelah generator diisi
bahan bakar. Seluruh penerangan dan sistem elektronik telah pulih. Pangkalan
bisa beroperasi normal kembali. Kolonel Blues dan CB telah kembali ke ruang
pusat komando.
"Dimana
posisi tim sekarang?", tanya Kolonel. CB segera melacak lokasi tim dan
menampilkan di layar utama. Tampak tiga titik berjajar di area parkir wisata
Sutami.
"Mereka
telah sampai di Karangkates seperti perintah Anda", jawab CB.
"Hubungkan",
perintah Kolonel.
"Siap",
sahut CB. Kemudian memasukkan perintah untuk menghubungi Explorer.
Setelah
berkali-kali mencoba dan tak mendapat respon dari tim, CB mengaktifkan sistem
kendali jarak jauh untuk membunyikan klakson motor. Akan tetapi setelah
beberapa waktu tetap tak ada respon dari tim. CB memandang Kolonel, mengangkat
bahu dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa
selalu saja susah dihubungi?", Kolonel tampak uring-uringan.
"Jangan-jangan
mereka mengalami konflik dengan pasukan pemberontak?", CB menyampaikan
kemungkinan yang terpikir olehnya.
"Apakah
kau memiliki kemungkinan yang lebih baik?", tanya Kolonel, menginginkan
sebuah kemungkinan yang baik.
"Nggg...
Sedang hunting foto mungkin?", jawab CB sedikit tak yakin.
"Itu
lebih baik", jawab Kolonel setelah menghela nafas panjang.
* *
* * *
"Simpul
kupu-kupu memang paling mudah dilepaskan", gumam Spy setelah berhasil melepaskan
ikatan yang membelenggunya.
Kemudian
dia mengamati sekitarnya, gudang itu hanya memiliki satu pintu yang terkunci
dan sebuah jendela kecil berteralis. Dia memeriksa teralis tersebut apakah bisa
dilepas atau tidak. Ternyata teralis itu terpasang dengan kuat ke bingkai
jendela. Sekuat apapun dia berusaha, tak akan mampu melepasnya dengan tangan
kosong. Mungkin beda ceritanya kalau Armstrong yang berada di posisi Spy. Dari
jendela itu dia bisa melihat bayangan hitam yang menjulang tinggi. Dia juga bisa
mendengar gemuruh air yang mengalir, dekat dengan posisinya.
Spy
menjauh dari jendela, mencari cara lain untuk keluar. Tak banyak yang dia
temukan, hanya beberapa peralatan kebersihan dan beberapa peralatan lain. Tak
ada yang bisa digunakan untuk membantunya keluar.
Putus
asa, Spy kembali duduk dan menunggu perkembangan situasi. Samar-samar
didengarnya suara gesekan di luar. Spy bergegas menuju jendela dan melihat
keluar. Tetapi hanya kegelapan saja yang dilihatnya. Dia terus melihat keluar
sampai beberapa menit kemudian, lalu kembali duduk di dekat pintu.
Kembali
teringat kesalahannya tadi, bagaimana dia bisa lupa melepas pengunci pelatuk
pistol? Padahal itu adalah prosedur standar penggunaan senjata api. Memang Spy
sangat lemah dalam penggunaan senjata. Selama ini kelemahannya itu selalu
tertutup dengan kemampuan spionasenya, ahli menyusup dan mengumpulkan
informasi. Tetapi kali ini kelebihannya tersebut telah dimanfaatkan dengan baik
oleh Jendral Sodatoy.
Sebuah
ketukan di jendela membuyarkan lamunan Spy, dia melihat bayangan seseorang di
luar jendela. Perlahan Spy berjalan mendekati jendela, masih tak jelas siapa
sosok tersebut. Spy sangat terkejut dan melompat mundur saat kaca jendela
tiba-tiba dipecahkan dari luar.
Kemudian
dua telapak tangan muncul dan mencengkeram teralis jendela, tangan tersebut
menghentakkan teralis hingga baut-bautnya berderak. Pada hentakan kedua, bagian
bawah teralis terlepas dari bingkai jendela. Hentakan berikutnya benar-benar
melepaskan teralis tersebut.
"Yo
Spy, waktunya keluar", terdengar suara dari luar. Spy segera mendekati
jendela dan melongok keluar.
"Armstrong!",
serunya saat melihat rekannya berdiri di luar. Dia segera keluar melalui
jendela itu. "Bagaimana kau tahu aku ada di ruangan itu?", tanya Spy
setelah berada di luar.
"Kau
memberikan tanda yang sangat jelas", jawab Armstrong.
"Tanda?",
tanya Spy tak paham.
"Tuh",
Armstrong menunjuk ke arah jendela yang baru saja dijebolnya. Spy segera
membalikkan badannya dan melihat tulisan besar di dinding 'HELP! SPY' dengan tanda simbol gamma dan anak panah yang menunjuk
ke jendela.
"Hah?
Siapa yang menulis itu?", gumam Spy sambil melongo keheranan.
"Hey
Spy, ayo kita pergi", panggil Armstrong yang sudah berada di pinggir
sungai, berjalan ke arah barat menyusuri aliran sungai yang deras. Spy segera
menyusulnya.
"Mau
kemana? Jendral sodatoy berada di bangunan tadi", protes Spy.
"Lebih
penting untuk mencari anggota tim Gamma yang lain. Setelah itu baru kita urus
si Jendral", jawab Armstrong sambil terus memperhatikan tepian sungai yang
dia lewati dengan bantuan senter.
"Mencari?
Memangnya mereka kenapa?", tanya Spy lagi. Armstrong pun menceritakan
kejadian yang mereka alami sambil terus menyusuri sungai.
* *
* * *
"Kolonel,
mungkin kita perlu mengirim bantuan?", usul CB setelah mempertimbangkan
situasi yang mungkin terjadi.
"Tidak
ada bala bantuan", jawab Kolonel singkat. "Saat ini hanya ada tim
Alpha. Mereka tak memenuhi syarat untuk operasi di lapangan".
"Tim
Alpha?", tanya CB sambil menaikkan alisnya.
"Aku,
Letnan Angus dan Letnan Suko", jawab Kolonel.
"Oh,
ya. Memang tidak cocok", gumam CB sambil mengangguk-angguk pelan.
Gumaman
CB rupanya terdengar oleh Kolonel sehingga langsung melayangkan lirikan kesal.
CB cuma nyengir menanggapinya. Monitor berkedip, ada sebuah panggilan di
saluran utama. CB segera menerimanya. Ternyata panggilan itu dari Zuger,
Gubernur Jawa Timur.
"Kolonel
Blues, aku baru saja menerima sebuah surat ancaman. Pasukan pemberontak
pimpinan Jendral Sodatoy telah merebut lima PLTA. Mereka meminta tebusan
sebesar 22 triliun", kata-kata Gubernur Zuger sangat datar tanpa emosi,
tetapi penuh dengan tekanan.
"Apakah
mereka memberikan tenggang waktu?", tanya Kolonel.
"12
jam, terhitung mulai pukul delapan malam tadi. Jika tuntutan mereka tak
dipenuhi, mereka akan meledakkan kelima bendungan itu", nada bicara Zuger
masih datar. Sebelumnya Zuger adalah anggota militer sebelum terjun ke kancah
politik. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel.
"Baiklah,
lalu bagaimana rencana Anda?", tanya Kolonel Blues.
"Aku
meminta bantuan Delta Force untuk membereskan masalah ini", katanya.
"Pemerintah provinsi bisa saja mengusahakan uang 22 triliun, tetapi akan
lebih baik jika tidak mengeluarkan biaya sama sekali", lanjut Gubernur
Zuger. Dia memang dikenal sebagai seorang yang selalu memperhitungkan untung
rugi.
"Baiklah,
kalau begitu segera siapkan 22 triliun itu, dan berikan pada mereka",
sahut Kolonel dengan tenang.
"Apa
maksudmu? Kau tak bersedia membantu?", tukas sang Gubernur, masih dengan
nada datar.
"Kami
mau membantu. Tetapi...", kata Kolonel, kemudian diam.
"Apa?",
Gubernur tampak tak sabar.
"Kami
tidak memiliki cadangan dana operasional untuk misi khusus seperti ini",
jelas Kolonel dengan sangat tenang.
"..........",
Gubernur hanya diam. Sepertinya dia tahu kalau Kolonel Blues tidak bersedia
bekerja dengan gratis. "Baiklah, berapa yang kauminta?", akhirnya
kata-kata itu diucapkan juga oleh Gubernur.
"Tidak
banyak. 600 juta, dibayar di muka", jawab sang Kolonel. CB yang
mendengarnya juga terkejut, raut mukanya tampak tak percaya jika biaya
operasional sebuah misi bisa sebesar itu.
"Ini
pemerasan!", Gubernur tampak marah.
"Bukan
pemerasan, hanya dana operasional", Kolonel masih menanggapi dengan
tenang.
"Tapi
jika sebanyak itu...", Gubernur tak meneruskan kalimatnya.
"Jumlah
itu sangat kecil jika dibandingkan dengan tuntutan Jendral Sodatoy", kata
Kolonel dengan tenang.
"Tidak!
Lebih baik aku mengirimkan negosiatorku", kata Gubernur Zuger.
"Silahkan,
kami tak akan menghalangi. Tapi kurasa negosiatormu hanya akan meledakkan
bendungan lebih cepat", kata-kata Kolonel mengandung sebuah tantangan.
"Aaaahhh...",
Gubernur mengerang kesal. "Baiklah, 600 juta dan aku mau semuanya
beres!", lanjutnya.
"Kami
akan segera bergerak setelah kami menerimanya", kata Kolonel.
"Dasar
kau pemeras licik! Aku akan mengirimkannya sekarang juga!", Gubernur
nyaris menjerit, kemudian memutuskan pembicaraan. Kolonel tersenyum puas.
"Nggg...
Kolonel, kenapa tak kau beritahukan jika kita telah menjalankan misi itu?
Lagipula, apakah biaya operasional satu misi bisa sebesar itu?", tanya CB.
"Inilah
yang dinamakan improvisasi", jawab Kolonel dengan senyumnya.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment