Saturday, March 15, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 07)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 7


Armstrong menceritakan kejadian yang dia alami sambil terus menyusuri sungai bersama Spy. Ternyata saat meluncur di atas banana boat, Armstrong melompat ke samping sesaat sebelum sampai di ujung spillway. Itu menghindarkannya dari tarikan arus air yang kuat, lalu berenang ke tepian. Setelah naik, dilihatnya banana boat kembali muncul ke permukaan, berputar-putar dan akhirnya hanyut ke arah hilir. Tiga orang lainnya tak tampak. Armstrong mengamati permukaan sungai untuk beberapa waktu sebelum memutuskan menyusuri sungai. Saat itulah dia melihat tanda di dinding.

"Pantas saja kau basah kuyup", ujar Spy setelah mendengar cerita Armstrong. "Semoga Saboteur baik-baik saja, dia kan tidak pandai berenang".

"Itu juga yang menjadi pikiranku", jawab Armstrong. Sekilas dia melihat sebuah bayangan di atas batu, segera disorotkannya lampu ke arah bayangan tersebut. Ternyata Saboteur sedang duduk, menggigil.

"Saboteur! Syukurlah kau selamat", seru Armstrong dengan lega. "Kau tampak kedinginan".

"Aku tidak kedinginan", kata Saboteur.

"Tapi kau menggigil", jawab Armstrong.

"Aku tidak menggigil, aku gemetar", kata Saboteur. "Tadi aku bertemu seseorang, atau lebih tepatnya... sesuatu", lanjutnya. Armstrong dan Spy hanya diam dan berpandangan satu sama lain.

"Sudahlah, yang penting kamu selamat. Ayo kita cari Explorer dan Ace", kata Armstrong sambil melangkah kembali menyusuri tepian sungai.

Baru beberapa menit berjalan, Spy melihat sinar senter berayun-ayun dari arah berlawanan. Dia segera mematikan senternya dan memberi kode pada Spy dan Saboteur untuk bersembunyi di balik pepohonan. Sosok yang membawa senter itu berjalan perlahan ke arah mereka. Saboteur dengan cepat melompat untuk menyergap sosok tersebut. Tetapi tanpa diduganya, sosok itu dengan sigap menghindar dan menjegalnya sampai terjerembab. Melihat Saboteur jatuh, Armstrong langsung menyerbu dengan ayunan tinjunya. Sosok itu dengan sigap menangkis, tetapi tetap saja terpental hingga beberapa meter.

"Tunggu!", seru sosok itu saat Armstrong kembali menyerbu. "Armstrong! Ini aku, Explorer".

"Explorer?", spontan dia menghentikan langkahnya, lalu menyorotkan senter kepada lawannya. Tampak Explorer yang sedang meringis memegangi tangannya.

"Tak ada yang bisa melontarkan aku sejauh ini selain kamu", ujarnya.

"Uwh, sori... Kukira musuh", kata Armstrong sambil membantu Explorer berdiri. "Dimana Ace? Kau tak bersamanya?".

"Dia tadi berjalan di belakangku. Untuk mengantisipasi jika aku diserang", jawab Explorer.

"Wow, untung saja dia tidak menembakku", ada sedikit kelegaan di nada bicara Armstrong. Lalu dilihatnya Ace sedang berdiri sambil menodongkan pistolnya ke arah Saboteur yang tergeletak.

"Ah, syukurlah kalian semua selamat", kata Ace sambil menyarungkan kembali pistolnya, lalu membantu Saboteur bangkit.

Explorer senang sekali dengan bergabungnya Spy. Tetapi tim Gamma telah kehilangan perlengkapan tempur saat terbawa arus tadi. Mereka harus menyusun ulang strategi.

"Nggg... Adakah yang membawa baterai cadangan?", tanya Spy kepada rekan-rekannya. "Aku harus menghubungi CB untuk melaporkan perkembangan situasi".

"Aku membawa satu", jawab Ace sambil merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah baterai yang masih terbungkus rapat dengan plastik. Spy segera menerima baterai itu dan memasangnya di ponsel. Setelah ponselnya menyala, dia langsung menghubungi CB.

* * * * *

Jendral Sodatoy tersenyum puas. Sejauh ini taktiknya berjalan mulus. Anak buahnya juga telah mengkonfirmasi bahwa surat ancaman beserta permintaan tebusan telah diterima pihak pemerintah provinsi Jawa Timur.

"Jendral", seru seorang prajurit tergesa-gesa memasuki ruangan.

"Ada apa?", hardik sang Jendral.

"Lapor, Jendral. Kami menemukan tiga unit motor yang terparkir di area wisata. Klakson motor terus menyala, sangat ribut. Saat kami periksa, terdapat logo Delta Force di ketiga motor tersebut", si prajurit mengakhiri laporannya dengan terengah-engah.

"Delta Force?", senyum sang Jendral langsung pudar. "Angkut motor-motor itu kemari!", perintahnya.

"Siap, laksanakan!", jawab si prajurit dengan sikap hormat, kemudian berlari keluar.

Jendral Sodatoy segera menuju peralatan komunikasi, meminta operator menghubungkannya dengan Mayor Bishop.

"Mayor, serahkan Sengguruh pada anak buahmu. Ada tugas untukmu di Sutami", perintah Jendral Sodatoy setelah tersambung.

"Siap", jawab Mayor Bishop singkat.

* * * * *

"Kolonel, Spy di saluran utama", kata CB dengan perasaan lega. Spy akhirnya bisa menghubungi markas.

"Spy, senang sekali mendengarmu. Ada perkembangan apa disana?", tanya Kolonel yang seolah menemukan kembali semangatnya.

Spy segera menjelaskan semua situasi di Karangkates. Juga tentang informasi yang dikirimkannya ternyata hanya umpan. Kolonel juga memberitahukan tentang permintaan tebusan 22 triliun yang diminta oleh Jendral Sodatoy dalam waktu 12 jam. Jika dalam waktu itu tuntutannya tak dikabulkan, maka dia akan meledakkan lima PLTA yang sekarang disandera. Jika hal itu terjadi, pemerintah tak hanya kehilangan lima PLTA, tetapi akan terjadi banjir bandang di sepanjang aliran sungai Brantas. Volume air di lima bendungan itu jika dilepaskan akan menghancurkan apapun yang dilewatinya. Kerugiannya ditaksir beberapa kali lipat dari jumlah tebusan yang diminta Jendral Sodatoy. Kolonel juga menginstruksikan tim Gamma untuk pergi ke tempat terdekat yang memiliki akses jalan umum. Kemudian perlengkapan akan dikirimkan ke lokasi itu.

"Baiklah, misi kita sudah jelas. Kita harus menentukan titik pertemuan, kemudian beristirahat dan menunggu paket dari Kolonel. Setelah itu kita beraksi", kata Explorer. Yang lain langsung menyetujui. Dengan bantuan perangkat GPS milik Spy, mereka kemudian berjalan ke utara.

* * * * *

Mayor Bishop hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk sampai di Karangkates. Dia segera menghadap kepada Jendral Sodatoy.

"Mayor, kita memiliki tikus disini", kata Jendral Sodatoy, lalu memberitahukan situasi pada bawahannya itu.

"Kita membutuhkan lebih banyak prajurit, Jendral", jawab Mayor Bishop.

"Aku tahu, aku telah memerintahkan Kapten Barker dan Ringo menuju kemari", kata Jendral Sodatoy, lalu menjelaskan rencananya. "Kau sanggup?", lanjutnya.

"Saya siap, Jendral", jawab Mayor Bishop. Dia memberikan hormat, kemudian meninggalkan ruangan.

* * * * *

Tim Gamma telah sampai di sebuah desa yang menurut GPS termasuk di wilayah Jugo. Mereka memilih untuk beristirahat di sebuah bangunan gudang yang tak terpakai. Spy kemudian mengirimkan lokasi mereka pada CB, mereka akan menunggu paket dari Kolonel di tempat itu. Mereka memutuskan untuk istirahat.

Sudah lewat tengah malam saat sebuah truk boks dengan logo Delta Force berhenti di samping gudang. Spy yang pertama kali bangun, kemudian dia membangunkan yang lainnya. Saboteur adalah yang paling sulit dibangunkan. Pengemudi truk itu turun dan menghampiri mereka. Explorer menemui Sersan Rohman, sang pengemudi.

"Yow, Explorer. Paketmu sudah sampai. Periksalah, setelah itu tanda tangan disini", kata Sersan Rohman dengan gayanya yang cengengesan.

"Yow, Rohman. Luruskan dulu punggungmu selagi aku memeriksanya", jawab Explorer sambil mengarahkan dua telunjuknya ke depan seperti gerakan menembak, meniru gaya Sersan Rohman. Dia segera menuju bagian belakang truk, lalu dibukanya pintu boks. Dengan sekali lompatan, Explorer telah naik dan masuk ke dalam boks. Diperiksanya paket yang dikirimkan oleh Kolonel. "Tepat seperti yang kita butuhkan", gumamnya dengan perasaan puas. "Armstrong! Kemarilah, aku butuh bantuanmu!".

"Aku datang", jawab Armstrong sambil berlari ke bagian belakang truk.

"Tolong turunkan semua muatan truk ini. Hanya kamu yang bisa", perintah Explorer sambil menepuk bahu Armstrong.

"Piece of cake", jawab Armstrong langsung memulai pekerjaannya. Dia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menurunkan seluruh muatan. Ada makanan kaleng yang bisa dikonsumsi setelah dipanaskan. Kemudian ada sebuah boks berisi senjata dan amunisi. Lalu ada empat buah motor yang sesuai dengan karakter masing-masing anggota, semuanya dengan logo Delta Force dan simbol Gamma di bawahnya.

Dagger Navi+ adalah motor untuk Explorer dan Ace, memiliki kecepatan dan tenaga yang besar. Demon SPD adalah motor yang dirancang khusus untuk bisa bermanuver lincah dalam kecepatan tinggi. Ini adalah motor untuk Spy. Dua motor lain, Chaser MaX dan Enduro LM, adalah motor untuk Saboteur dan Armstrong. Memiliki daya angkut dan tenaga yang besar. Khusus pada motor Enduro LM yang dikendarai Armstrong dilengkapi setang kemudi yang lebih panjang untuk menambah kestabilan. Semua motor itu dilengkapi dengan kunci elektronik, sehingga hanya anggota tim Gamma saja yang bisa menyalakan mesinnya.

"Bagus, peralatan kita sudah lengkap. Ayo kita makan dulu sebelum beraksi", kata Explorer.

"Nggg... Sebelum itu, bolehkah aku minta sedikit bantuan?", tanya Spy.

"Bantuan apa?", Armstrong menimpali.

"Anu... Adakah yang tahu bagaimana cara membangunkan Saboteur?", kata Spy. Semua segera menoleh ke arah Saboteur yang masih tertidur pulas.

* * * * *

No comments:

Post a Comment