Saturday, March 22, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 08)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 8


Pukul dua dini hari, Jendral Sodatoy terjaga dari tidurnya. Dia bangun, merapikan tempat tidur, lalu berdiri memperhatikan hasil kerjanya.

"Semua memang lebik baik jika tertata rapi", gumamnya. Kemudian menuju kamar mandi.

Setengah jam kemudian, Jendral Sodatoy memasuki ruang kontrol. Disana telah hadir Mayor Bishop, Kapten Barker dan Kapten Ringo.

"Bagaimana persiapan kalian?", tanya Jendral memulai briefing.

"Siap. Saya telah memasang jebakan, ranjau dan peledak lainnya di akses masuk fasilitas pembangkit. Nyamuk pun tak akan bisa masuk kemari", lapor Kapten Barker dengan bersemangat.

'PLAK!' Tiba-tiba saja Mayor Bishop menepukkan kedua telapak tangannya.

"Ah, maaf. Ada nyamuk yang lolos", kata Mayor Bishop datar. Kapten Barker menanggapinya dengan cibiran.

"Kapten Ringo?", tanya sang Jendral melanjutkan briefing.

"Siap! Saya sudah mengatur pasukan di ring dua dengan formasi bertahan 5-3-2. Walau musuh berhasil melewati jebakan Kapten Barker, mereka tak akan bisa menembus ring dua", kata Kapten Ringo. Kini cibiran Kapten Barker beralih padanya.

"Apakah kau juga menerapkan perangkap offside?", sindir Mayor Bishop datar.

"Ya, aku sendiri yang akan memimpin komando", Kapten Ringo menanggapi sindiran itu dengan santai.

"Mayor, bagaimana denganmu?", tanya Jendral Sodatoy sambil mengalihkan pandangannya kepada Mayor Bishop. Dua orang lainnya diam, mencari celah untuk balas menyindir.

"Ring tiga telah siap", jawab Mayor Bishop singkat. Singkatnya laporan Mayor Bishop membuat kedua kapten tak memiliki kesempatan membalas.

"Bagus, segera kembali ke pos kalian masing-masing", perintah sang Jendral. Kedua kapten meninggalkan ruang kontrol, sedangkan Mayor tetap tinggal.

"Jendral, aku telah membongkar komputer di ketiga motor Delta Force. Mereka memang memakan umpan yang kau berikan melalui Spy. Tetapi ada orang lain yang memberikan informasi sesungguhnya", kata Mayor.

"Maksudmu, ada tikus lain?", tanya Jendral sedikit terkejut.

"Benar. Kemungkinan ada orang kita yang membocorkan informasi. Aku tidak bisa melacaknya", secara tak langsung Mayor mengakui informan tersebut sangat pintar menyembunyikan keberadaannya.

"Temukan dia! Waktu kita hanya tersisa kurang dari enam jam", perintah sang Jendral.

"Siap!", kata Mayor sambil menghormat, lalu meninggalkan ruangan.

"Satu ekor tikus cerdik? Aku benci ini", gumam Jendral kesal.

* * * * *

CB baru saja terbangun dari tidurnya. Dia tak ingin tidur malam itu, tetapi kelelahan tubuh telah memaksanya untuk beristirahat. Dua jam tidur telah cukup membuat tubuhnya segar kembali. Dia meninggalkan ruang kendali untuk membasuh wajahnya.

CB baru saja kembali saat monitor berkedip. Buru-buru dia kembali ke tempat duduknya, ada sebuah pesan dari saluran rahasia:

'Barker, Ringo, Bishop, Sodatoy siaga di Karangkates'

CB memutuskan untuk memberitahu tim Gamma. Dia menghubungi Spy.

"Darimana kau dapatkan info tersebut? Bishop berada di Sengguruh, Barker dan Ringo ada di Blitar dan Tulungagung", sanggah Spy setelah CB memberitahukan pesan yang baru saja diterimanya.

"Aku tak tahu siapa yang mengirimkannya, tetapi pesan-pesannya selalu benar", jawab CB.

"Tetapi kami tak bisa mempercayai informasi dari sumber yang tak jelas", jawab Spy.

"Awalnya aku juga berpikir begitu, tetapi taktik yang dipakai Jendral Sodatoy memaksaku mengubah pendapat", kata-kata CB mengingatkan Spy akan informasi palsu yang dia dapatkan. Informasi dari dalam tak sepenuhnya benar.

"Tak bisakah kau melacak pengirimnya?", tanya Spy.

"Sementara gunakan pesan ini sebagai referensi. Sementara itu aku akan mencari tahu siapa sebenarnya pengirim pesan ini", kata CB kemudian mengakhiri pembicaraan.

Setelah itu CB segera keluar dari ruang kendali. Dia berjalan dengan cepat di sepanjang koridor dan baru berhenti setelah sampai di depan sebuah pintu di ujung koridor. Pintu itu bertuliskan 'Pemecah Sandi'. CB menggedor pintu itu, dia tahu, penghuni ruangan ini jarang pulang karena bisa menikmati akses internet di pangkalan sesuka hatinya.

"Sebentaaar...", terdengar suara malas dari balik pintu. Pintu terbuka dan muncullah Letnan Angus, masih mengenakan piyama, rambut acak-acakan dan mata merah yang setengah terpejam. "Ada apa CB?", katanya sambil menguap, sedangkan tangan kirinya menggaruk pinggang.

"Ikut aku", kata CB singkat sambil meraih lengan Letnan Angus, menyeretnya menuju ruang pusat kendali.

"Wooo... Tunggu... Paling tidak biarkan aku berganti pakaian dulu", protes Letnan Angus. Nyaris jatuh karena tersandung kakinya sendiri. "Atau paling tidak cuci muka", protesnya terus berlanjut. "Atau paling tidak menutup pintu", kata-katanya tak mendapat respon dari CB yang terus menariknya masuk ruang pusat kendali. "Atau paling tidak ciuman selamat pagi". Kali ini CB menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Letnan Angus.

"Duduk", kata CB dengan dingin sambil menunjuk kursi yang biasa ditempatinya. Letnan Angus tak bisa menebak kemauan CB, dia tetap berdiri di tempatnya. CB kembali menariknya ke arah kursi, lalu menekan bahunya, memaksanya duduk.

"Apa-apaan kau ini?", protes Letnan Angus.

"Maaf, Letnan. Akan kujelaskan nanti. Sekarang aku mau kau lacak pengirim pesan ini", kata CB sambil menunjukkan pesan-pesan yang diterimanya di saluran rahasia.

"Hanya karena ini kau membuyarkan mimpiku, lalu menyeretku dengan paksa?", protes Letnan Angus.

"Kita tak punya banyak waktu. Lacak pengirimnya, atau... Kita dipecat", kata CB dengan datar.

"Apa!?", Letnan Angus terkejut mendengarnya. "Hanya karena sebuah pesan kita bisa dipecat?". Terbayang olehnya, jika dipecat maka dia takkan bisa lagi menggunakan akses internet tak terbatas.

"Waktu terus berjalan, Letnan", kata CB.

"Yaaa... Baiklah. Yang aku butuhkan sekarang adalah ketenangan!", jawab Letnan Angus. Jemarinya langsung mengetikkan beberapa perintah, dia langsung bekerja.

"Baiklah, sementara kau bekerja aku akan menyeduh kopi. Kau mau?", tawaran CB tak mendapat jawaban. Letnan Angus telah tenggelam dalam kesibukannya.

* * * * *

Tim Gamma telah sampai di bendungan Lahor. Tampaknya mereka akan melakukan serangan fajar.

"Tunggu, berhenti!", kata Ace tiba-tiba saat melintasi gerbang area wisata Sutami.

"Ada apa?", tanya Explorer setelah menghentikan laju motor. Tiga motor yang lain berhenti di sampingnya.

"Motor kita hilang", kata Ace menunjuk area parkir dekat gerbang wisata Sutami.

"Pasti ada yang mencurinya. Kita parkir sembarangan sih", sahut Armstrong.

"Semoga saja begitu", kata Ace dengan ragu.

"Pasti begitu", kata Explorer sambil menjalankan motornya menuju area bendungan.

"Tetapi tidakkah kau merasa aneh? Tiga motor sekaligus hilang, lalu CB...", Ace menghentikan kalimatnya. Otaknya menyadari sesuatu. "Hentikan motor", katanya sambil menepuk bahu Explorer.

Explorer menginjak rem dengan spontan hingga Ace bergeser ke depan, menekan punggung Explorer. Sedangkan Spy dengan cekatan menghindar ke kanan, begitu juga Armstrong. Hanya Saboteur yang sedikit kaget dan menghindar ke kiri, langsung menuju pagar pembatas jalan dengan sudut 45 derajat. Secara reflek kaki kirinya menendang pagar itu hingga motor langsung berubah arah menjadi sejajar dengan pagar. Setelah berhenti, dia mengumpat tak jelas.

"Ada apa?", tanya Explorer dengan sedikit kesal. Ace tak menjawab, dia Turun dari motor dan menghampiri Spy.

"Hubungkan aku dengan CB", perintah Ace. Spy langsung melaksanakannya.

"CB, bisa kau lacak posisi motor kita yang pertama?", tanya Ace setelah tersambung.

"Sebentar", jawab CB. Kemudian terdengar suara jemarinya yang menekan-nekan keyboard. "Signal motor Explorer tak terdeteksi, akan kucoba mencari dua motor lainnya", kata CB.

"Mungkin pencurinya sudah membongkarnya, lalu menjualnya ke pasar loak", kata Armstrong.
"Motor kedua juga tak terdeteksi. Tetapi motor ketiga tetap berada di Karangkates", kata CB setelah selesai melacak. "Tapi tunggu dulu, motor itu tak lagi ada di tempat parkir, tetapi berpindah ke sisi barat bendungan. Dekat dengan instalasi pembangkit", lanjut CB memberitahukan lokasi motor.

"Rupanya pencuri itu adalah pasukan Jendral Sodatoy", kata Ace mengambil kesimpulan.
"Tidakkah kalian merasa aneh?".

"Aneh? Siapapun bisa mencuri motor yang diparkir sembarangan", kata Armstrong.

"Motor kita sekarang berada di markas pasukan pemberontak. Signal yang hilang mengindikasikan sistem elektronik motor telah dimatikan", ulas Ace. Yang lain memperhatikan.

"Lalu dimana keanehannya?", tanya Armstrong.

"Mereka telah membongkar motor kita, berarti mereka telah mengetahui semua data kita", Ace mengutarakan analisanya.

"Anehnya dimana?", tanya Armstrong lagi.

"Pesan yang disampaikan CB itu yang aneh", tukas Ace. Anggota lainnya cuma diam, berusaha mencari keanehan pesan itu.

"Tunggu, Ace. Maksudmu pasukan pemberontak yang mengirimkan pesan tersebut?", kata CB yang belum memutuskan komunikasi.

"Ya, begitulah maksudku", Ace tersenyum.

* * * * *

No comments:

Post a Comment