Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 8
Pukul
dua dini hari, Jendral Sodatoy terjaga dari tidurnya. Dia bangun, merapikan
tempat tidur, lalu berdiri memperhatikan hasil kerjanya.
"Semua
memang lebik baik jika tertata rapi", gumamnya. Kemudian menuju kamar
mandi.
Setengah
jam kemudian, Jendral Sodatoy memasuki ruang kontrol. Disana telah hadir Mayor
Bishop, Kapten Barker dan Kapten Ringo.
"Bagaimana
persiapan kalian?", tanya Jendral memulai briefing.
"Siap.
Saya telah memasang jebakan, ranjau dan peledak lainnya di akses masuk
fasilitas pembangkit. Nyamuk pun tak akan bisa masuk kemari", lapor Kapten
Barker dengan bersemangat.
'PLAK!' Tiba-tiba saja Mayor Bishop
menepukkan kedua telapak tangannya.
"Ah,
maaf. Ada nyamuk yang lolos", kata Mayor Bishop datar. Kapten Barker
menanggapinya dengan cibiran.
"Kapten
Ringo?", tanya sang Jendral melanjutkan briefing.
"Siap!
Saya sudah mengatur pasukan di ring dua dengan formasi bertahan 5-3-2. Walau
musuh berhasil melewati jebakan Kapten Barker, mereka tak akan bisa menembus
ring dua", kata Kapten Ringo. Kini cibiran Kapten Barker beralih padanya.
"Apakah
kau juga menerapkan perangkap offside?", sindir Mayor Bishop datar.
"Ya,
aku sendiri yang akan memimpin komando", Kapten Ringo menanggapi sindiran
itu dengan santai.
"Mayor,
bagaimana denganmu?", tanya Jendral Sodatoy sambil mengalihkan
pandangannya kepada Mayor Bishop. Dua orang lainnya diam, mencari celah untuk
balas menyindir.
"Ring
tiga telah siap", jawab Mayor Bishop singkat. Singkatnya laporan Mayor
Bishop membuat kedua kapten tak memiliki kesempatan membalas.
"Bagus,
segera kembali ke pos kalian masing-masing", perintah sang Jendral. Kedua
kapten meninggalkan ruang kontrol, sedangkan Mayor tetap tinggal.
"Jendral,
aku telah membongkar komputer di ketiga motor Delta Force. Mereka memang
memakan umpan yang kau berikan melalui Spy. Tetapi ada orang lain yang
memberikan informasi sesungguhnya", kata Mayor.
"Maksudmu,
ada tikus lain?", tanya Jendral sedikit terkejut.
"Benar.
Kemungkinan ada orang kita yang membocorkan informasi. Aku tidak bisa
melacaknya", secara tak langsung Mayor mengakui informan tersebut sangat
pintar menyembunyikan keberadaannya.
"Temukan
dia! Waktu kita hanya tersisa kurang dari enam jam", perintah sang
Jendral.
"Siap!",
kata Mayor sambil menghormat, lalu meninggalkan ruangan.
"Satu
ekor tikus cerdik? Aku benci ini", gumam Jendral kesal.
* *
* * *
CB
baru saja terbangun dari tidurnya. Dia tak ingin tidur malam itu, tetapi
kelelahan tubuh telah memaksanya untuk beristirahat. Dua jam tidur telah cukup
membuat tubuhnya segar kembali. Dia meninggalkan ruang kendali untuk membasuh
wajahnya.
CB
baru saja kembali saat monitor berkedip. Buru-buru dia kembali ke tempat
duduknya, ada sebuah pesan dari saluran rahasia:
'Barker, Ringo, Bishop, Sodatoy siaga di
Karangkates'
CB
memutuskan untuk memberitahu tim Gamma. Dia menghubungi Spy.
"Darimana
kau dapatkan info tersebut? Bishop berada di Sengguruh, Barker dan Ringo ada di
Blitar dan Tulungagung", sanggah Spy setelah CB memberitahukan pesan yang
baru saja diterimanya.
"Aku
tak tahu siapa yang mengirimkannya, tetapi pesan-pesannya selalu benar",
jawab CB.
"Tetapi
kami tak bisa mempercayai informasi dari sumber yang tak jelas", jawab
Spy.
"Awalnya
aku juga berpikir begitu, tetapi taktik yang dipakai Jendral Sodatoy memaksaku
mengubah pendapat", kata-kata CB mengingatkan Spy akan informasi palsu
yang dia dapatkan. Informasi dari dalam tak sepenuhnya benar.
"Tak
bisakah kau melacak pengirimnya?", tanya Spy.
"Sementara
gunakan pesan ini sebagai referensi. Sementara itu aku akan mencari tahu siapa
sebenarnya pengirim pesan ini", kata CB kemudian mengakhiri pembicaraan.
Setelah
itu CB segera keluar dari ruang kendali. Dia berjalan dengan cepat di sepanjang
koridor dan baru berhenti setelah sampai di depan sebuah pintu di ujung
koridor. Pintu itu bertuliskan 'Pemecah Sandi'. CB menggedor pintu itu, dia
tahu, penghuni ruangan ini jarang pulang karena bisa menikmati akses internet
di pangkalan sesuka hatinya.
"Sebentaaar...",
terdengar suara malas dari balik pintu. Pintu terbuka dan muncullah Letnan
Angus, masih mengenakan piyama, rambut acak-acakan dan mata merah yang setengah
terpejam. "Ada apa CB?", katanya sambil menguap, sedangkan tangan
kirinya menggaruk pinggang.
"Ikut
aku", kata CB singkat sambil meraih lengan Letnan Angus, menyeretnya
menuju ruang pusat kendali.
"Wooo...
Tunggu... Paling tidak biarkan aku berganti pakaian dulu", protes Letnan
Angus. Nyaris jatuh karena tersandung kakinya sendiri. "Atau paling tidak
cuci muka", protesnya terus berlanjut. "Atau paling tidak menutup
pintu", kata-katanya tak mendapat respon dari CB yang terus menariknya
masuk ruang pusat kendali. "Atau paling tidak ciuman selamat pagi".
Kali ini CB menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Letnan Angus.
"Duduk",
kata CB dengan dingin sambil menunjuk kursi yang biasa ditempatinya. Letnan
Angus tak bisa menebak kemauan CB, dia tetap berdiri di tempatnya. CB kembali
menariknya ke arah kursi, lalu menekan bahunya, memaksanya duduk.
"Apa-apaan
kau ini?", protes Letnan Angus.
"Maaf,
Letnan. Akan kujelaskan nanti. Sekarang aku mau kau lacak pengirim pesan
ini", kata CB sambil menunjukkan pesan-pesan yang diterimanya di saluran
rahasia.
"Hanya
karena ini kau membuyarkan mimpiku, lalu menyeretku dengan paksa?", protes
Letnan Angus.
"Kita
tak punya banyak waktu. Lacak pengirimnya, atau... Kita dipecat", kata CB
dengan datar.
"Apa!?",
Letnan Angus terkejut mendengarnya. "Hanya karena sebuah pesan kita bisa
dipecat?". Terbayang olehnya, jika dipecat maka dia takkan bisa lagi
menggunakan akses internet tak terbatas.
"Waktu
terus berjalan, Letnan", kata CB.
"Yaaa...
Baiklah. Yang aku butuhkan sekarang adalah ketenangan!", jawab Letnan
Angus. Jemarinya langsung mengetikkan beberapa perintah, dia langsung bekerja.
"Baiklah,
sementara kau bekerja aku akan menyeduh kopi. Kau mau?", tawaran CB tak
mendapat jawaban. Letnan Angus telah tenggelam dalam kesibukannya.
* *
* * *
Tim
Gamma telah sampai di bendungan Lahor. Tampaknya mereka akan melakukan serangan
fajar.
"Tunggu,
berhenti!", kata Ace tiba-tiba saat melintasi gerbang area wisata Sutami.
"Ada
apa?", tanya Explorer setelah menghentikan laju motor. Tiga motor yang
lain berhenti di sampingnya.
"Motor
kita hilang", kata Ace menunjuk area parkir dekat gerbang wisata Sutami.
"Pasti
ada yang mencurinya. Kita parkir sembarangan sih", sahut Armstrong.
"Semoga
saja begitu", kata Ace dengan ragu.
"Pasti
begitu", kata Explorer sambil menjalankan motornya menuju area bendungan.
"Tetapi
tidakkah kau merasa aneh? Tiga motor sekaligus hilang, lalu CB...", Ace
menghentikan kalimatnya. Otaknya menyadari sesuatu. "Hentikan motor",
katanya sambil menepuk bahu Explorer.
Explorer
menginjak rem dengan spontan hingga Ace bergeser ke depan, menekan punggung
Explorer. Sedangkan Spy dengan cekatan menghindar ke kanan, begitu juga
Armstrong. Hanya Saboteur yang sedikit kaget dan menghindar ke kiri, langsung
menuju pagar pembatas jalan dengan sudut 45 derajat. Secara reflek kaki kirinya
menendang pagar itu hingga motor langsung berubah arah menjadi sejajar dengan
pagar. Setelah berhenti, dia mengumpat tak jelas.
"Ada
apa?", tanya Explorer dengan sedikit kesal. Ace tak menjawab, dia Turun
dari motor dan menghampiri Spy.
"Hubungkan
aku dengan CB", perintah Ace. Spy langsung melaksanakannya.
"CB,
bisa kau lacak posisi motor kita yang pertama?", tanya Ace setelah
tersambung.
"Sebentar",
jawab CB. Kemudian terdengar suara jemarinya yang menekan-nekan keyboard.
"Signal motor Explorer tak terdeteksi, akan kucoba mencari dua motor
lainnya", kata CB.
"Mungkin
pencurinya sudah membongkarnya, lalu menjualnya ke pasar loak", kata
Armstrong.
"Motor
kedua juga tak terdeteksi. Tetapi motor ketiga tetap berada di
Karangkates", kata CB setelah selesai melacak. "Tapi tunggu dulu,
motor itu tak lagi ada di tempat parkir, tetapi berpindah ke sisi barat
bendungan. Dekat dengan instalasi pembangkit", lanjut CB memberitahukan
lokasi motor.
"Rupanya
pencuri itu adalah pasukan Jendral Sodatoy", kata Ace mengambil
kesimpulan.
"Tidakkah
kalian merasa aneh?".
"Aneh?
Siapapun bisa mencuri motor yang diparkir sembarangan", kata Armstrong.
"Motor
kita sekarang berada di markas pasukan pemberontak. Signal yang hilang
mengindikasikan sistem elektronik motor telah dimatikan", ulas Ace. Yang
lain memperhatikan.
"Lalu
dimana keanehannya?", tanya Armstrong.
"Mereka
telah membongkar motor kita, berarti mereka telah mengetahui semua data
kita", Ace mengutarakan analisanya.
"Anehnya
dimana?", tanya Armstrong lagi.
"Pesan
yang disampaikan CB itu yang aneh", tukas Ace. Anggota lainnya cuma diam,
berusaha mencari keanehan pesan itu.
"Tunggu,
Ace. Maksudmu pasukan pemberontak yang mengirimkan pesan tersebut?", kata
CB yang belum memutuskan komunikasi.
"Ya,
begitulah maksudku", Ace tersenyum.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment