Saturday, March 29, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 09)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 9


Semua langsung mengamini keanehan yang dipaparkan oleh Ace tentang informasi-informasi aneh yang diterima oleh markas.

"Masuk akal juga", kata Spy yang sedari tadi lebih banyak diam dan memperhatikan.

"Tunggu, pesan-pesan itu masuk melalui saluran rahasia. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberadaan saluran ini", kata CB.

"Mereka pasti telah melacaknya melalui motor kita", jawab Ace.

"Pesan-pesan itu kuterima sebelum motor kalian hilang, kecuali yang terakhir. Bagaimana kau menjelaskan hal ini?", bantah CB.

"Mereka pasti telah mengetahui adanya pesan-pesan tersebut, lalu mengirimkan pesan terakhir melalui saluran yang sama", tegas Ace lagi.

"Aku meragukan itu", kata CB.

"Apa yang kau ragukan?", tanya Ace.

"Aku juga berpikiran begitu sebelumnya, tetapi ternyata pesan-pesan tersebut benar", kata CB. "Ah, tunggu sebentar", kata CB, lalu terdengar dia sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Ace tak bisa mendengarnya dengan jelas.

"Jadi bagaimana tindakan kita sekarang?", tanya Ace.

"Kita tetap pada rencana awal, serbu dari depan", kata Explorer.

"Tunggu!", terdengar suara CB nyaris berteriak. "Pesan-pesan itu berasal dari satu sumber", lanjutnya dengan bersemangat.

"Pasukan pemberontak?", tanya CB.

"Tunggu, biar Letnan Angus yang memberitahukan secara langsung", kata CB.

"Letnan Angus?", tanya Ace berpandangan dengan Explorer.

"Halo halo... Tes satu, dua, tiga...", terdengar suara yang terdengar sedikit malas dari perangkat komunikasi. "Oke, aku telah melacak sumber pesan-pesan misterius itu. Aku tak bisa melacak siapa pengirimnya, tetapi aku bisa memastikan pesan-pesan itu berasal dari sumber yang sama. Bukan dari pasukan pemberontak", kata Letnan Angus dengan suara yang terdengar tanpa gairah.

"Bukan dari pasukan pemberontak?", kata Explorer. Kemudian memandang Ace yang sedang mengerutkan dahinya.

"Tak bisa kupercaya", desis Ace setelah analisanya dimentahkan.

"Kalian pakai saja pesan itu sebagai acuan. Entah kenapa, tapi perasaanku mengatakan pesan itu benar", suara CB kembali terdengar.

"Itu berarti kita harus merubah strategi", kata Explorer.

"Lebih cepat lebih baik, waktu kalian hanya tersisa empat jam", kata CB. Setelah itu komunikasi diakhiri.

"Baiklah, strategi kita harus bagaimana?", tanya Ace.

"Strategi kita tetap serang dari depan”, jawab Explorer. Dia memang keras kepala kalau sudah punya kemauan.

"Anu... Aku masih bingung, apa yang aneh dengan motor yang dicuri?", tanya Armstrong dengan polos.

* * * * *

Kolonel Blues baru saja terbangun dari istirahatnya ketika ponselnya bergetar. Diraihnya ponsel itu dengan sedikit enggan. "Ah, pasti Zuger mulai khawatir", gumamnya. Raut wajahnya langsung berubah setelah melihat identitas pemanggil. Detik berikutnya dia sudah menjawab panggilan itu.

Lima menit berselang, Kolonel Blues dengan bergegas memasuki ruang kontrol.

"CB, aku mau... Ah, ternyata Letnan Angus sudah ada disini", kata Kolonel setelah menyadari keberadaan Letnan Angus yang masih memakai piyama.

"Apa yang Anda inginkan, Kolonel?", tanya CB.

"Ah ya... Panggil Letnan Suko ke ruanganku segera", perintah Kolonel dengan tegas. "Letnan Angus, ikut ke ruanganku sekarang", lanjut Kolonel Sambil berjalan meninggalkan ruang kontrol.

"Siap!", sahut Letnan Angus. Sejenak dia berpandangan dengan CB, mereka tak paham dengan kemauan Kolonel. Walau begitu, perintah atasan harus dilaksanakan. Letnan Angus segera menyusul Kolonel ke ruangannya, sedangkan CB segera menghubungi Letnan Suko.

* * * * *

Tepat pukul lima pagi saat sebuah ledakan menggelegar di gerbang fasilitas PLTA. Ledakan itu memicu ledakan lainnya, membuat sebuah garis melintang tepat di depan gerbang.

"Ha! Enteng!", teriak Saboteur setelah lemparan granatnya tepat sasaran. "Lini kedua pasti sekumpulan ranjau", lanjutnya sambil melemparkan bom EMP. Beberapa detik kemudian, tampak kilatan cahaya menyilaukan. Disusul percikan api di beberapa titik. Tak lama kemudian terjadi ledakan beruntun di lokasi percikan tadi.

"Lini kedua terbuka!", teriak Saboteur penuh semangat. Sedetik kemudian terdengar rentetan tembakan dari seberang. Pasukan pemberontak menyerang balik.

"Tetap pada posisi!", teriak Explorer.

"Armstrong, aku butuh bantuanmu!", teriak Saboteur.

"Ya? Bantuan macam apa?", jawab Armstrong seraya mendekati rekannya.

"Aku membutuhkan tenagamu. Lemparkan granat ini tepat di parit pertahanan mereka. Aku tak bisa melempar sejauh itu", kata Saboteur sambil mempersiapkan beberapa granat.

"Piece of cake!", kata Armstrong.

Yang terjadi kemudian adalah aksi bombardir di parit pertahanan pasukan pemberontak. Serentetan ledakan memporak porandakan parit itu. Teriakan pasukan terdengar mengiringi setiap ledakan granat. Agaknya pasukan pemberontak tidak mengantisipasi serangan kombinasi itu. Tenaga Armstrong bisa melontarkan granat sama jauhnya dengan jangkauan grenade launcher.

Di gedung kontrol, Jendral Sodatoy sedang mengamati pertempuran dengan gemas. Dia kembali teringat beberapa pertempuran antara dirinya dan pasukan Delta Force dahulu. Selama ini dia selalu berhasil lolos dari sergapan Delta Force. Tetapi melihat kekuatan tim yang sekarang sedang bertempur, Jendral Sodatoy merasa perlu untuk melakukan tindakan antisipasi.

"Mayor, siapkan peledaknya", perintah Jendral Sodatoy pada Mayor Bishop yang berdiri di sebelahnya. "Kita pindah ke atas", lanjut sang Jendral sambil melangkah keluar ruang kontrol.

"Apakah tidak terlalu cepat, Jendral?", tanya Mayor meminta Jendral untuk mempertimbangkan kembali.

"Just in case, Mayor", jawab Jendral dengan datar.

"Siap! Laksanakan!", jawab Mayor. Mayor segera menuju panel pengendali utama. Dia meraih pistolnya, lalu menembaki panel tersebut sampai pelurunya habis. Percikan bunga api muncul dari bekas lubang-lubang peluru. Panel pengendali bendungan telah rusak. Mayor Bishop segera berbalik dan menyusul atasannya.

* * * * *

No comments:

Post a Comment