Saturday, April 5, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 10)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 10


Di pangkalan Delta Force, tampak Kolonel Blues sedang bersiap memberikan briefing di lapangan. Tampak sekitar enam puluh prajurit dan staf pangkalan, masing-masing membawa perlengkapan tempur standar, rompi anti peluru, sebuah senapan serbu, beberapa magasin dan granat. Mereka berbaris menantikan pengarahan dari Kolonel Blues.

"Selamat pagi Pasukan Delta Force", kata Kolonel memulai briefing. "Maaf telah membangunkan kalian lebih awal".

"Kuharap ada alasan yang bagus untuk bangun lebih awal", sahut Letnan Suko yang tampak masih mengantuk.

"Ehm... Baiklah", lanjut Kolonel. "Kita sedang menghadapi situasi darurat".

"Anu, apakah berkaitan dengan pengurangan tenaga kerja?", tanya Letnan Angus dengan nada khawatir.

"Ehm... Tidak. Bukan itu...", Kolonel tak menduga ada pertanyaan semacam itu.

"Syukurlah", kata Letnan Angus lega. Dia tak akan kehilangan pekerjaannya, dan tentu saja akses internet unlimited tetap bisa dia gunakan.

"Begini prajurit", kata Kolonel melanjutkan. "Aku tahu kalian bukanlah personil tempur terbaik Delta Force. Tetapi sekarang aku membutuhkan kalian semua untuk menjalankan sebuah misi penting", kali ini Kolonel Blues tampak berwibawa. Dilihatnya semua prajurit memperhatikan dengan seksama. "Selama ini kalian selalu mengerjakan tugas administrasi dan semacamnya. Tapi sekarang saatnya kalian melakukan misi yang diimpikan oleh setiap personel militer", lanjut sang Kolonel semakin bersemangat.

"Cukup basa basinya, langsung saja katakan tujuan Anda", sahut Letnan Suko.

"Ehm... Baiklah, kita bentuk tiga tim. Aku memimpin tim Alpha 1, Letnan Angus memimpin tim Alpha 2 dan Letnan Suko memimpin tim Alpha 3", perintah Kolonel. "Khusus tim Alpha 2 akan terbagi menjadi 2 tim karena kalian punya 2 target. Kode tim kedua kalian Alpha 2 Echo. Peltu Fajar yang akan memimpin tim ini. Perintah selanjutnya akan aku berikan melalui radio komunikasi", lanjut Kolonel.

Seluruh prajurit segera berpencar menjadi tiga kelompok. Kolonel memperhatikan dengan puas. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari kejauhan, bergerak mendekat.
"Bersiaplah. Taksi kita sudah datang", teriak Kolonel Blues.

Suara gemuruh itu berasal dari langit, melayang di atas mereka. Enam buah helikopter hitam mendarat di lapangan. Itu adalah helikopter tempur Mil Mi-35 Hind buatan Rusia. Helikopter jenis ini dijuluki 'Sky Tank' karena kemampuan tempurnya yang handal. Salah satu pilot keluar dan segera menghampiri Kolonel Blues.

"Lapor! Letnan Penerbang Irfan dari Squadron Udara Delta siap menjalankan tugas", katanya dengan sikap menghormat. Kolonel membalas penghormatan Letnan Irfan. Kemudian dia memberikan briefing singkat tentang misi yang akan dilakukan. Beberapa saat kemudian enam helikopter tersebut telah terbang meninggalkan pangkalan Delta Force. Hampir bersamaan dengan terbitnya matahari di ufuk timur.

Tim Alpha telah kembali beraksi.

* * * * *

Suara tembakan dari pasukan pemberontak tak terdengar lagi. Sepertinya prajurit di parit pertahanan telah habis oleh ledakan granat. Explorer memberi tanda untuk bergerak maju. Tim Gamma secara bersamaan keluar dari persembunyian dan berlari menuju garis pertahanan musuh. Spy yang paling gesit tampak berada di posisi terdepan. Tetapi baru saja berlari beberapa meter, tiba-tiba ada benda berjatuhan di depan mereka.

"Awas! Granat!", teriak Saboteur yang segera mengenali benda-benda itu. Dia segera berlari ke samping, ke arah selokan.

"Berpencar!", teriak Explorer menyahut. Dengan sigap dia berbelok ke kiri, ke arah pepohonan.

Ace berlari sekuat tenaga menyusul Explorer. Mereka berdua segera berlindung di balik pepohonan. Sedangkan Armstrong berlari mengikuti Saboteur dengan panik. Dia meloncat masuk ke selokan tepat saat granat-granat itu meledak.

"Bagaimana mereka bisa melempar granat sejauh ini? Apakah mereka memiliki grenade launcher?", teriak Saboteur di tengah ledakan.

"Aku tidak tahu!", teriak Explorer dari balik pepohonan.

"Menurut data yang diperoleh Spy, pasukan Sodatoy hanya memiliki Baretta, AK-47, granat, C-4 dan dinamit. Tidak ada pelontar granat!", seru Ace menjelaskan. Dia juga bingung, jarak gedung kontrol dan posisi mereka sekarang sekitar 300 meter. Sepanjang pengetahuannya hanya Armstrong yang sanggup melontarkan granat sejauh ini.

"Spy! Dimana Spy?", seru Explorer setelah menyadari Spy tak bersama dia. Explorer dan Ace bersamaan melihat ke jalan untuk mencari sosok Spy. Tetapi mereka tak melihatnya.

"Di depan! Spy di depan!", seru Saboteur dari seberang. Mereka kompak melihat ke arah depan, dimana hujan granat masih terjadi. Tampak Spy sedang berlari di balik asap ledakan. Kakinya yang gesit membuatnya mampu menjauhi pusat ledakan dengan cepat. Beberapa kali dia tampak terhempas oleh angin ledakan, tetapi itu membuatnya bergerak lebih cepat. Musuh tampak kewalahan dengan kecepatan Spy. Yang terjadi kemudian adalah Spy menjadi target hujan granat.

"Lindungi Spy!", teriak Explorer sambil berlari keluar dari persembunyiannya. Masih dengan posisi menunduk, dia merangsek maju sambil berusaha menghindari serpihan ledakan yang mengarah padanya. Ace juga berlari keluar, tetapi dia menuju selokan tempat Saboteur dan Armstrong bersembunyi.

"Armstrong, lemparkan granat ke arah sana", kata Ace sambil menunjuk ke sebelah barat bangunan. Terdapat rimbunan pohon disana. "Granat-granat ini berasal dari sana",  lanjut Ace. Saboteur segera meraih teropong dan melihat ke arah yang ditunjukkan Ace.

"Ace benar. Disana terdapat formasi karung pasir. Sebuah bunker sederhana", kata Saboteur sambil meletakkan teropongnya. Kemudian dia mengambil sebuah granat dan memberikannya pada Armstrong. "Hanya kamu yang bisa melempar ke sana", lanjut Saboteur.

"Piece of cake!", sahut Armstrong sambil mencabut picu, lalu melemparkannya. Sesaat kemudian terlihat sebuah ledakan. Tetapi ledakan itu berada belasan meter di belakang bunker musuh.

"Kurangi tenagamu, sasaranmu sedikit lebih dekat", kata Saboteur sambil memberikan granat kedua. Lemparan kedua ini jatuh di depan bunker. Ledakannya membuat karung pasir berantakan. Hujan granat musuh tampak berhenti sebentar. Walau belum tepat sasaran, ledakan yang tepat di depan bunker cukup mengejutkan orang-orang di dalamnya.

"Bagus, sekali lagi!", kata Saboteur sambil memberikan granat ketiga ke tangan Armstrong. Granat ketiga mendarat tepat di dalam bunker. Hujan granat musuh tiba-tiba berhenti. Terdengar teriakan panik, lalu disusul sebuah ledakan besar berkali-kali hingga terbentuk sebuah bola api yang langsung membakar pepohonan di sekitarnya.

"Sepertinya lemparanmu mendarat tepat di kotak peledak mereka", kata Ace. "Ayo kita serbu!", lanjutnya sambil berlari. Armstrong dan Saboteur menyusulnya dengan segera.

Spy telah sampai di pintu gedung. Dia berhenti disana, pintu itu terkunci. Explorer datang dan mengamankan perimeter. Anggota yang lain juga telah sampai. Ace memeriksa bunker yang baru saja meledak. Tak ada yang tersisa akibat ledakan tadi. Ace memeriksa dengan teliti, tetapi tak menemukan apa yang dicarinya.

"Tidak ada", gumam Ace.

"Apanya tidak ada?", tanya Saboteur yang berdiri di dekatnya.

"Grenade launcher", jawab Ace singkat.

"Untuk apa kau mencari grenade launcher? Kita sudah punya Armstrong", kata Saboteur.

"Sepertinya Armstrong mempunyai lawan sepadan", kata Ace.

"Hahaha... Tak ada yang bisa menandingi kekuatan Armstrong", sahut Saboteur menertawakan kata-kata Ace barusan.

"Pikirkan lagi, bagaimana musuh bisa melemparkan granat dari tempat ini ke tempat kita tadi?", tanya Ace.

"Hmmm...", Saboteur menggumam lalu memandang ke arah tempat persembunyian mereka tadi. "Memang cukup jauh, harus memakai grenade launcher", lanjutnya.

"Mereka tidak memilikinya", sanggah Ace.

"Jadi?", tanya Saboteur penasaran.

"Ya itu tadi, Armstrong memiliki lawan sepadan", kata Ace sambil berjalan menuju pintu gedung kontrol.

"Lalu... Apa hubungannya tak punya grenade launcher dan Armstrong?", gumam Saboteur. Masih belum paham.

* * * * *

No comments:

Post a Comment