Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 10
Di
pangkalan Delta Force, tampak Kolonel Blues sedang bersiap memberikan briefing
di lapangan. Tampak sekitar enam puluh prajurit dan staf pangkalan,
masing-masing membawa perlengkapan tempur standar, rompi anti peluru, sebuah
senapan serbu, beberapa magasin dan granat. Mereka berbaris menantikan
pengarahan dari Kolonel Blues.
"Selamat
pagi Pasukan Delta Force", kata Kolonel memulai briefing. "Maaf telah
membangunkan kalian lebih awal".
"Kuharap
ada alasan yang bagus untuk bangun lebih awal", sahut Letnan Suko yang
tampak masih mengantuk.
"Ehm...
Baiklah", lanjut Kolonel. "Kita sedang menghadapi situasi
darurat".
"Anu,
apakah berkaitan dengan pengurangan tenaga kerja?", tanya Letnan Angus
dengan nada khawatir.
"Ehm...
Tidak. Bukan itu...", Kolonel tak menduga ada pertanyaan semacam itu.
"Syukurlah",
kata Letnan Angus lega. Dia tak akan kehilangan pekerjaannya, dan tentu saja
akses internet unlimited tetap bisa dia gunakan.
"Begini
prajurit", kata Kolonel melanjutkan. "Aku tahu kalian bukanlah
personil tempur terbaik Delta Force. Tetapi sekarang aku membutuhkan kalian
semua untuk menjalankan sebuah misi penting", kali ini Kolonel Blues
tampak berwibawa. Dilihatnya semua prajurit memperhatikan dengan seksama.
"Selama ini kalian selalu mengerjakan tugas administrasi dan semacamnya.
Tapi sekarang saatnya kalian melakukan misi yang diimpikan oleh setiap personel
militer", lanjut sang Kolonel semakin bersemangat.
"Cukup
basa basinya, langsung saja katakan tujuan Anda", sahut Letnan Suko.
"Ehm...
Baiklah, kita bentuk tiga tim. Aku memimpin tim Alpha 1, Letnan Angus memimpin
tim Alpha 2 dan Letnan Suko memimpin tim Alpha 3", perintah Kolonel.
"Khusus tim Alpha 2 akan terbagi menjadi 2 tim karena kalian punya 2
target. Kode tim kedua kalian Alpha 2 Echo. Peltu Fajar yang akan memimpin tim
ini. Perintah selanjutnya akan aku berikan melalui radio komunikasi",
lanjut Kolonel.
Seluruh
prajurit segera berpencar menjadi tiga kelompok. Kolonel memperhatikan dengan
puas. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh dari kejauhan, bergerak mendekat.
"Bersiaplah.
Taksi kita sudah datang", teriak Kolonel Blues.
Suara
gemuruh itu berasal dari langit, melayang di atas mereka. Enam buah helikopter
hitam mendarat di lapangan. Itu adalah helikopter tempur Mil Mi-35 Hind buatan
Rusia. Helikopter jenis ini dijuluki 'Sky Tank' karena kemampuan tempurnya yang
handal. Salah satu pilot keluar dan segera menghampiri Kolonel Blues.
"Lapor!
Letnan Penerbang Irfan dari Squadron Udara Delta siap menjalankan tugas",
katanya dengan sikap menghormat. Kolonel membalas penghormatan Letnan Irfan.
Kemudian dia memberikan briefing singkat tentang misi yang akan dilakukan. Beberapa
saat kemudian enam helikopter tersebut telah terbang meninggalkan pangkalan
Delta Force. Hampir bersamaan dengan terbitnya matahari di ufuk timur.
Tim
Alpha telah kembali beraksi.
* *
* * *
Suara
tembakan dari pasukan pemberontak tak terdengar lagi. Sepertinya prajurit di
parit pertahanan telah habis oleh ledakan granat. Explorer memberi tanda untuk
bergerak maju. Tim Gamma secara bersamaan keluar dari persembunyian dan berlari
menuju garis pertahanan musuh. Spy yang paling gesit tampak berada di posisi
terdepan. Tetapi baru saja berlari beberapa meter, tiba-tiba ada benda
berjatuhan di depan mereka.
"Awas!
Granat!", teriak Saboteur yang segera mengenali benda-benda itu. Dia
segera berlari ke samping, ke arah selokan.
"Berpencar!",
teriak Explorer menyahut. Dengan sigap dia berbelok ke kiri, ke arah pepohonan.
Ace
berlari sekuat tenaga menyusul Explorer. Mereka berdua segera berlindung di
balik pepohonan. Sedangkan Armstrong berlari mengikuti Saboteur dengan panik.
Dia meloncat masuk ke selokan tepat saat granat-granat itu meledak.
"Bagaimana
mereka bisa melempar granat sejauh ini? Apakah mereka memiliki grenade
launcher?", teriak Saboteur di tengah ledakan.
"Aku
tidak tahu!", teriak Explorer dari balik pepohonan.
"Menurut
data yang diperoleh Spy, pasukan Sodatoy hanya memiliki Baretta, AK-47, granat,
C-4 dan dinamit. Tidak ada pelontar granat!", seru Ace menjelaskan. Dia
juga bingung, jarak gedung kontrol dan posisi mereka sekarang sekitar 300
meter. Sepanjang pengetahuannya hanya Armstrong yang sanggup melontarkan granat
sejauh ini.
"Spy!
Dimana Spy?", seru Explorer setelah menyadari Spy tak bersama dia.
Explorer dan Ace bersamaan melihat ke jalan untuk mencari sosok Spy. Tetapi
mereka tak melihatnya.
"Di
depan! Spy di depan!", seru Saboteur dari seberang. Mereka kompak melihat
ke arah depan, dimana hujan granat masih terjadi. Tampak Spy sedang berlari di
balik asap ledakan. Kakinya yang gesit membuatnya mampu menjauhi pusat ledakan
dengan cepat. Beberapa kali dia tampak terhempas oleh angin ledakan, tetapi itu
membuatnya bergerak lebih cepat. Musuh tampak kewalahan dengan kecepatan Spy.
Yang terjadi kemudian adalah Spy menjadi target hujan granat.
"Lindungi
Spy!", teriak Explorer sambil berlari keluar dari persembunyiannya. Masih
dengan posisi menunduk, dia merangsek maju sambil berusaha menghindari serpihan
ledakan yang mengarah padanya. Ace juga berlari keluar, tetapi dia menuju
selokan tempat Saboteur dan Armstrong bersembunyi.
"Armstrong,
lemparkan granat ke arah sana", kata Ace sambil menunjuk ke sebelah barat
bangunan. Terdapat rimbunan pohon disana. "Granat-granat ini berasal dari
sana", lanjut Ace. Saboteur segera
meraih teropong dan melihat ke arah yang ditunjukkan Ace.
"Ace
benar. Disana terdapat formasi karung pasir. Sebuah bunker sederhana",
kata Saboteur sambil meletakkan teropongnya. Kemudian dia mengambil sebuah
granat dan memberikannya pada Armstrong. "Hanya kamu yang bisa melempar ke
sana", lanjut Saboteur.
"Piece
of cake!", sahut Armstrong sambil mencabut picu, lalu melemparkannya.
Sesaat kemudian terlihat sebuah ledakan. Tetapi ledakan itu berada belasan
meter di belakang bunker musuh.
"Kurangi
tenagamu, sasaranmu sedikit lebih dekat", kata Saboteur sambil memberikan
granat kedua. Lemparan kedua ini jatuh di depan bunker. Ledakannya membuat
karung pasir berantakan. Hujan granat musuh tampak berhenti sebentar. Walau
belum tepat sasaran, ledakan yang tepat di depan bunker cukup mengejutkan
orang-orang di dalamnya.
"Bagus,
sekali lagi!", kata Saboteur sambil memberikan granat ketiga ke tangan
Armstrong. Granat ketiga mendarat tepat di dalam bunker. Hujan granat musuh
tiba-tiba berhenti. Terdengar teriakan panik, lalu disusul sebuah ledakan besar
berkali-kali hingga terbentuk sebuah bola api yang langsung membakar pepohonan di
sekitarnya.
"Sepertinya
lemparanmu mendarat tepat di kotak peledak mereka", kata Ace. "Ayo
kita serbu!", lanjutnya sambil berlari. Armstrong dan Saboteur menyusulnya
dengan segera.
Spy
telah sampai di pintu gedung. Dia berhenti disana, pintu itu terkunci. Explorer
datang dan mengamankan perimeter. Anggota yang lain juga telah sampai. Ace
memeriksa bunker yang baru saja meledak. Tak ada yang tersisa akibat ledakan
tadi. Ace memeriksa dengan teliti, tetapi tak menemukan apa yang dicarinya.
"Tidak
ada", gumam Ace.
"Apanya
tidak ada?", tanya Saboteur yang berdiri di dekatnya.
"Grenade
launcher", jawab Ace singkat.
"Untuk
apa kau mencari grenade launcher? Kita sudah punya Armstrong", kata
Saboteur.
"Sepertinya
Armstrong mempunyai lawan sepadan", kata Ace.
"Hahaha...
Tak ada yang bisa menandingi kekuatan Armstrong", sahut Saboteur
menertawakan kata-kata Ace barusan.
"Pikirkan
lagi, bagaimana musuh bisa melemparkan granat dari tempat ini ke tempat kita
tadi?", tanya Ace.
"Hmmm...",
Saboteur menggumam lalu memandang ke arah tempat persembunyian mereka tadi.
"Memang cukup jauh, harus memakai grenade launcher", lanjutnya.
"Mereka
tidak memilikinya", sanggah Ace.
"Jadi?",
tanya Saboteur penasaran.
"Ya
itu tadi, Armstrong memiliki lawan sepadan", kata Ace sambil berjalan
menuju pintu gedung kontrol.
"Lalu...
Apa hubungannya tak punya grenade launcher dan Armstrong?", gumam
Saboteur. Masih belum paham.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment