Saturday, April 26, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 13)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 13


Pertarungan di anjungan fasilitas pembangkit tampak berlangsung kurang seimbang. Pukulan-pukulan Armstrong selalu bisa diantisipasi dengan baik oleh Ringo. Sebaliknya, kemampuan Ringo merubah arah serangan sangat merepotkan Armstrong. Ringo tersenyum tipis melihat lawannya sempoyongan.

Baru saja Armstrong berhasil menjejakkan kakinya untuk berdiri, Ringo telah merangsek dengan pukulan ke arah kepala. Secara reflek Armstrong mengangkat kedua tangan untuk melindungi kepala. Tetapi justru dua pukulan beruntun mendarat telak di perutnya. Serangan terakhir ini membuat tubuh Armstrong tertekuk, Ringo menyambutnya dengan menghunjamkan lutut ke arah kepala. Beruntung bagi Armstrong, lengannya cukup kuat menahan serangan itu. Serangannya telah ditahan, tetapi tetap saja Armstrong terpental ke belakang.

"Kudengar kau ini punya reputasi sebagai yang terkuat di Delta Force", olok Ringo melihat Armstrong yang tampak menyedihkan. Terbungkuk dengan bertumpu pada lutut dan satu tangan, sedang tangan kirinya memegangi perutnya. Beberapa kali Armstrong terbatuk, matanya berair karena menahan sakit. "Rupanya standar kekuatan Delta Force sangat rendah, payah!", lanjut Ringo lalu meludah ke tanah.

Armstrong tak habis pikir, kenapa serangannya bisa diantisipasi dengan mudah oleh Ringo? Apakah ada yang salah dengan serangannya? Pukulannya cuma sekali mengenai sasaran di awal pertarungan, setelah itu nihil. Lalu kenapa serangan Ringo selalu bisa mencapai sasaran? Sejauh itukah perbedaan kemampuan mereka? Armstrong nyaris putus asa memikirkan dia hampir tak memiliki peluang untuk memenangkan pertarungan.

* * * * *

"Sebenarnya berapa banyak lagi sih jebakan yang dipasang Kapten Barker disini?", gerutu Saboteur saat menjinakkan jebakan kelimabelas. Kini dia berdiri di depan pintu keluar. Melalui teropong night vision, dia bisa melihat banyak garis simpang siur di depan pintu. Jebakan bertumpuk yang rumit! Saboteur berdiri diam, berkacak pinggang, memandangi jebakan di depannya. Omelan-omelan tak jelas keluar dari bibirnya.

Mendekat, Saboteur mulai mempelajari alur simpang siur tersebut. Kawat-kawat tipis itu saling terhubung, membentuk sebuah formasi acak. Saboteur hanya terdiam melihat kerumitan jebakan itu.

"Ini sih tak bisa dijinakkan", gumamnya putus asa. Dia berusaha mengingat kembali semua pelajaran yang pernah diberikan oleh Kapten Barker.

'Temukan porosnya', tiba-tiba saja kalimat itu terlintas di ingatannya. Buru-buru dia kembali mendekati jebakan tersebut. Dia merunut salah satu kawat, di ujung kawat dia hanya menemukan sebuah simpul yang tersambung ke kawat lainnya melalui sebuah pengait. Kawat tersebut berakhir pada simpul yang terhubung dengan kawat lainnya. Begitu pula seterusnya.

"Ini sangat membuang waktu", Saboteur mulai hilang kesabaran. Dia membalikkan badan dan melangkah menuju pintu masuk sebelumnya, mencoba mencari jalan lain. Tetapi langkahnya terhenti setelah sampai di pintu masuk. Di depan pintu masuk dia melihat jalur simpang siur dengan formasi acak.

"Kapan dia memasangnya?", gumam Saboteur. Keringat dinginnya keluar saat menyadari kemungkinan Kapten Barker masih berada dalam ruangan itu.

* * * * *

Sebuah pukulan telak kembali menghunjam perut Armstrong. Pukulan itu awalnya mengincar kepala, tetapi berbelok ke arah perut ketika Armstrong telah siap melindungi kepalanya.

"Kenapa Armstrong? Tak bisa menebak seranganku?", ejek Ringo melihat Armstrong tersungkur.

"Tak bisa menebak?", gumam Armstrong. tiba-tiba dia melompat dan melayangkan pukulan ke arah perut Ringo. Tetapi sama seperti sebelumnya, Ringo bisa menghindar dan mendaratkan pukulan di wajah Armstrong. "Bodohnya aku", gumam Armstrong sambil tersenyum, mengusap pipinya yang memar.

"Kebodohanmu akan berakhir bersamaan dengan seranganku yang berikutnya", jawab Ringo terkekeh.

"Aku tak sabar menunggu", jawab Armstrong sambil berdiri. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Armstrong bergerak cepat menyerbu ke arah Ringo.

"Kemarilah dan sambut kekalahanmu!", teriak Ringo sambil memasang kuda-kuda.

Dengan menekuk lututnya, Armstrong merendahkan posisi tubuh, kemudian mengayunkan kepalan tangan kanannya. Ringo dengan sigap melangkah ke sisi kiri Armstrong. Menghindar sekaligus mengincar sisi kiri Armstrong yang tanpa perlindungan.

Saat mempersiapkan kepalannya, Ringo terkesiap melihat senyuman di bibir Armstrong. Tiba-tiba Armstrong menjejakkan kakinya kuat-kuat, melompat ke depan sambil merentangkan tangan kirinya. Dia menubrukkan bahunya di perut Ringo, tangan kirinya memeluk sekaligus mengunci pinggang lawannya itu.

Ringo yang tak menduga serangan ini terdorong ke belakang dan terjatuh pada punggungnya. Armstrong dengan cepat menduduki perut Ringo, kemudian menghantamkan lengannya ke bawah. Ringo masih sempat mengangkat kedua tangan untuk melindungi kepalanya. Pukulan Armstrong membentur lengan Ringo, disusul bunyi gemeretak dan erangan kesakitan. Pukulan kedua masih mengenai lengan, kali ini Ringo berteriak kesakitan. Pertahanannya goyah.

Ringo tiba-tiba kehilangan rasa percaya dirinya, yang dia rasakan sekarang hanya kengerian yang membekukan. Dua lengannya patah hanya dengan dua pukulan. Pukulan ketiga Armstrong menembus pertahanannya dan mendarat telak di wajahnya. Akibatnya sangat fatal, hidung dan beberapa gigi Ringo remuk sekaligus membuatnya tak sadarkan diri. Armstrong mengurungkan pukulan keempatnya saat melihat Ringo telah pingsan. Dia bangkit berdiri kemudian menghela nafas panjang. Dia merasa lega telah mengakhiri pertarungan ini.

"Piece of cake!", kata Armstrong. Dia mengambil beberapa peralatan yang terjatuh saat bertarung tadi, lalu bersiap menyusul Saboteur.

"Berapa lama tadi aku bertarung?", dilihatnya arloji di lengannya. Tetapi arloji itu telah pecah, pasti karena benturan saat bertarung tadi.

Armstrong melihat ke arah langit untuk mengetahui posisi matahari, tetapi pandangannya ke arah timur terhalang oleh bendungan. Dia tak bisa memperkirakan waktu. Dia juga tak mengetahui aktivitas apa yang sedang berlangsung di atas bendungan. Pandangannya terhenti di bagian tengah bendungan. Ada suatu bayangan yang menarik perhatiannya. Diraihnya teropong, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah bayangan tadi melalui teropong. bayangan itu rupanya Explorer, Ace dan Spy yang sedang terikat di pagar bendungan. Sesaat Armstrong bimbang, apakah dia harus ke atas untuk menolong ketiga rekannya atau menyusul Saboteur ke ruang generator.

* * * * *

Di dalam keremangan ruang generator, Saboteur berusaha keras mengamati sekitarnya. Dia mencari tanda-tanda keberadaan Kapten Barker. Tetapi sejauh ini dia tak mendapati satupun tanda keberadaan Kapten Barker. "Dia pasti di dalam ruangan ini, rangkaian di pintu masuk tadi buktinya", gumam Saboteur pelan.

Saat melangkah melewati generator kedua, sudut matanya menangkap cahaya merah yang berpendar lemah di belakang generator nomor dua. Pelan dia menghampiri sambil merapatkan tubuhnya di generator tersebut. Diperhatikannya sumber cahaya tersebut dengan seksama. Ternyata cahaya itu berasal dari display sebuah timer digital.

"Timer?", dia berjongkok dan memeriksa timer tersebut. Tampak dalam display tertera angka 00:42:31 dan terus menghitung mundur. "Ini penghitung mundur bom, 42 menit lagi sebelum ledakan besar. Aku harus menjinakkannya", Saboteur sedikit terkejut saat melihat jalur yang terpasang. Ada empat jalur yang terhubung, masing-masing terdiri dari tiga warna kabel: merah, putih dan biru.

Saboteur segera mengeluarkan peralatannya. Segera dia membuka kotak timer dengan hati-hati. Di bawah cover itu tampak sebuah sirkuit yang cukup kompleks. Empat jalur kabel terpasang di slot masing-masing, menandakan semuanya berfungsi. Sirkuit tersebut tampak berbeda dari yang sering dilihat Saboteur. Tidak ada satupun keterangan tertera di keping sirkuit tersebut. Saboteur tak bisa menebak kabel mana yang harus dipotong untuk mencegah bom meledak.

Tiba-tiba saja Saboteur dikejutkan dengan sebuah gedoran di pintu masuk. Saboteur langsung waspada dan beringsut merapat ke sisi generator.

"Saboteur!", terdengar sebuah teriakan dari luar. Saboteur segera mengenali pemilik suara itu, Armstrong. "Aku akan masuk sekarang!", teriak Armstrong. Tiba-tiba saja Saboteur teringat jebakan rumit di pintu masuk.

"Armstrong! Jangan masuk!", teriak Saboteur sekeras yang dia bisa. Tetapi terlambat, detik berikutnya pintu itu jebol ke arah dalam oleh dorongan bahu Armstrong. Saboteur segera melompat ke sisi belakang generator dan tiarap sambil melindungi kepalanya.

* * * * *

No comments:

Post a Comment