Saturday, May 3, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 14)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 14


Tim Alpha 1 yang dipimpin Kolonel Blues telah sampai di areal bendungan Sengguruh. Satu heli mendarat di atas bendungan, sedangkan heli yang lain mendarat di depan gedung kontrol. Tanpa membuang waktu, pasukan berloncatan keluar dan menyerbu ke arah pasukan pemberontak yang berjaga-jaga. Tidak ada kesulitan berarti mengingat pasukan pemberontak yang berjaga hanya enam orang, dua di gedung kontrol dan sisanya di bendungan. Tanpa sosok pimpinan, mereka bisa dilumpuhkan dengan mudah dan tanpa perlawanan yang berarti.

"Disini Alpha 1, target telah diambil alih", Kolonel Blues berbicara melalui radionya.

Setelah itu Kolonel Blues sibuk memerintahkan anak buahnya menyisir seluruh wilayah bendungan. Tujuannya satu, menemukan bom yang dipasang di bendungan. Berselang beberapa menit kemudian radionya bergemerisik.

"Lapor, Alpha 2 telah berhasil mengamankan target", terdengar suara Letnan Angus melaporkan hasil timnya.

"Bagus, Letnan. Segera sisir lokasi", perintah Kolonel Blues.

"Maaf Kolonel, tapi saya sudah menyisir rambut saya", balas Letnan Angus.

"Maksudku... Cari bomnya!", kata Kolonel dengan menahan emosinya.

"Siap, laksanakan!", jawab Letnan Angus mengakhiri komunikasi. Kolonel cuma bisa menggeleng kesal.

"Alpha 2 Echo telah mengamankan target", terdengar suara Peltu Fajar yang melaporkan progres timnya.

"Bagus, lanjutkan ke tahap pengamanan perimeter.

"Siap!", jawab Peltu Fajar singkat.

* * * * *

Letnan Suko mengendap menuju menara kontrol bendungan Wonorejo, salah satu waduk terbesar di Indonesia. Dia merapatkan tubuhnya di dinding untuk mengintip situasi di dalam ruang kontrol. Beberapa bawahannya berjuang menahan tawa melihat usaha Letnan Suko. Serapat apapun dia merapatkan tubuhnya ke dinding, tetap saja tak bisa menyembunyikan perut gendutnya. Letnan Suko mendobrak pintu dengan mudah, lalu menyerbu masuk sambil mengokang senjatanya.

Tujuh prajurit di dalam hanya melongo saat Letnan Suko dan anak buahnya menyergap. Saat itu mereka sedang asyik bermain domino hingga tak menyadari kehadiran Letnan Suko.

"Alpha 3 melapor. Target berhasil diambil alih", kata Letnan Suko menghubungi Kolonel Blues. "Segera mencari lokasi bom".

"Bagus, segera temukan dan tunggu instruksi selanjutnya", jawab Kolonel Blues dengan nada puas.

"Siap, laksanakan!", jawab Letnan Suko. Setelah itu dia bergabung dengan beberapa anak buahnya mencari lokasi bom.

* * * * *

Saboteur merasakan merinding di seluruh tubuhnya. Dia sangat mencemaskan Armstrong, sekuat apapun rekannya itu tak akan mampu menahan ledakan bom dari jarak yang sangat dekat. Sebuah penyesalan hinggap di benak Saboteur, seandainya dia tadi lebih sabar dan menjinakkan bomnya pasti Armstrong...

"Saboteur", tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya. "Sedang apa kau di situ?", kali ini pemilik suara itu menepuk pelan pundaknya. Saboteur segera membuka matanya, lalu menengadah untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya.

"Armstrong!", katanya nyaris berteriak saat melihat rekannya itu di hadapannya. "Kau masih hidup?", lanjutnya masih tak percaya.

"Tentu saja aku masih hidup. Memang berat, tapi aku bisa mengalahkan Ringo", jawab Armstrong.

"Hah? Ringo? Tapi bom itu...", Saboteur masih kebingungan. Kalimatnya terputus saat melihat keadaan sekitar.

"Bom apa?", tanya Armstrong heran. Dilihatnya Saboteur kebingungan memperhatikan sekelilingnya.

"Jadi... Tidak ada bom?", gumam Saboteur setelah melihat tak ada tanda-tanda ledakan di ruangan itu. Satu-satunya kerusakan adalah pintu masuk yang jebol karena didobrak oleh Armstrong. Tiba-tiba saja dia merasa bodoh. "Bom itu tidak ada!", Saboteur langsung berlari menuju pintu keluar.

"Ada apa Saboteur?", tanya Armstrong menyusul.

Saboteur tak menjawab, dia sibuk memeriksa jalur kawat tipis yang membentuk formasi acak di pintu keluar. Terlihat ada sebuah peledak di bingkai pintu, sejajar dengan kenop pintu. Diperiksanya jalur yang mengarah ke peledak itu dengan seksama. Beberapa saat kemudian terdengar Saboteur terkekeh.

"Apa yang kau tertawakan?", tanya Armstrong sedikit khawatir dengan kondisi rekannya.

"Tidak ada, aku telah dibodohi dengan gemilang!", ada nada sangat kesal dalam jawaban Saboteur. Kemudian dia menjelaskan pada Armstrong tentang jebakan-jebakan di ruangan tersebut.

Jebakan rumit Kapten Barker ternyata hanya tipuan. Peledak di pintu keluar tak terhubung dengan formasi rumit tersebut, tetapi picunya langsung terhubung dengan kenop pintu. Jebakan biasa yang disamarkan dengan sangat apik. Saboteur bisa menjinakkannya dengan mudah.

"Jadi semua hanya untuk mengulur waktu?", tanya Armstrong.

"Sepertinya begitu", jawab Saboteur.

"Baguslah, aku harus segera ke atas bendungan untuk membebaskan Explorer, Ace dan Spy. Mereka tertangkap", Armstrong menjelaskan apa yang dilihatnya di atas bendungan. Saboteur mendengarkannya sambil melirik timer yang tadi ditinggalkannya.

"Kalau begitu cepatlah, waktu kita semakin sedikit", dilihatnya display timer menampilkan angka 00:38:31 dan terus menghitung mundur.

"Kau tak ikut bersamaku?", tanya Armstrong.

"Aku harus menjinakkan bom itu terlebih dahulu", jawab Saboteur. "Dan ingat, setelah kau bebaskan, segera bawa mereka menjauh dari bendungan. Sejauh mungkin", pesan Saboteur.

"Aku yakin kau bisa. Setelah ini semua selesai, kita akan minum kopi bersama", kata Armstrong sambil memegang pundak Saboteur untuk memberi semangat. Saboteur menjawab dengan sebuah anggukan mantap. Setelah itu Armstrong segera berlari melalui pintu keluar untuk menuju ke atas bendungan.

"Ouuuccchhh... Pundakku mati rasa", keluh Saboteur sambil mengelus pundaknya yang tadi dipegang Armstrong.

* * * * *

No comments:

Post a Comment