Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 14
Tim
Alpha 1 yang dipimpin Kolonel Blues telah sampai di areal bendungan Sengguruh. Satu
heli mendarat di atas bendungan, sedangkan heli yang lain mendarat di depan
gedung kontrol. Tanpa membuang waktu, pasukan berloncatan keluar dan menyerbu
ke arah pasukan pemberontak yang berjaga-jaga. Tidak ada kesulitan berarti
mengingat pasukan pemberontak yang berjaga hanya enam orang, dua di gedung
kontrol dan sisanya di bendungan. Tanpa sosok pimpinan, mereka bisa dilumpuhkan
dengan mudah dan tanpa perlawanan yang berarti.
"Disini
Alpha 1, target telah diambil alih", Kolonel Blues berbicara melalui
radionya.
Setelah
itu Kolonel Blues sibuk memerintahkan anak buahnya menyisir seluruh wilayah
bendungan. Tujuannya satu, menemukan bom yang dipasang di bendungan. Berselang
beberapa menit kemudian radionya bergemerisik.
"Lapor,
Alpha 2 telah berhasil mengamankan target", terdengar suara Letnan Angus
melaporkan hasil timnya.
"Bagus,
Letnan. Segera sisir lokasi", perintah Kolonel Blues.
"Maaf
Kolonel, tapi saya sudah menyisir rambut saya", balas Letnan Angus.
"Maksudku...
Cari bomnya!", kata Kolonel dengan menahan emosinya.
"Siap,
laksanakan!", jawab Letnan Angus mengakhiri komunikasi. Kolonel cuma bisa
menggeleng kesal.
"Alpha
2 Echo telah mengamankan target", terdengar suara Peltu Fajar yang
melaporkan progres timnya.
"Bagus,
lanjutkan ke tahap pengamanan perimeter.
"Siap!",
jawab Peltu Fajar singkat.
* *
* * *
Letnan
Suko mengendap menuju menara kontrol bendungan Wonorejo, salah satu waduk
terbesar di Indonesia. Dia merapatkan tubuhnya di dinding untuk mengintip
situasi di dalam ruang kontrol. Beberapa bawahannya berjuang menahan tawa
melihat usaha Letnan Suko. Serapat apapun dia merapatkan tubuhnya ke dinding,
tetap saja tak bisa menyembunyikan perut gendutnya. Letnan Suko mendobrak pintu
dengan mudah, lalu menyerbu masuk sambil mengokang senjatanya.
Tujuh
prajurit di dalam hanya melongo saat Letnan Suko dan anak buahnya menyergap.
Saat itu mereka sedang asyik bermain domino hingga tak menyadari kehadiran
Letnan Suko.
"Alpha
3 melapor. Target berhasil diambil alih", kata Letnan Suko menghubungi
Kolonel Blues. "Segera mencari lokasi bom".
"Bagus,
segera temukan dan tunggu instruksi selanjutnya", jawab Kolonel Blues
dengan nada puas.
"Siap,
laksanakan!", jawab Letnan Suko. Setelah itu dia bergabung dengan beberapa
anak buahnya mencari lokasi bom.
* *
* * *
Saboteur
merasakan merinding di seluruh tubuhnya. Dia sangat mencemaskan Armstrong,
sekuat apapun rekannya itu tak akan mampu menahan ledakan bom dari jarak yang
sangat dekat. Sebuah penyesalan hinggap di benak Saboteur, seandainya dia tadi
lebih sabar dan menjinakkan bomnya pasti Armstrong...
"Saboteur",
tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya. "Sedang apa kau di
situ?", kali ini pemilik suara itu menepuk pelan pundaknya. Saboteur
segera membuka matanya, lalu menengadah untuk melihat siapa yang menepuk
pundaknya.
"Armstrong!",
katanya nyaris berteriak saat melihat rekannya itu di hadapannya. "Kau
masih hidup?", lanjutnya masih tak percaya.
"Tentu
saja aku masih hidup. Memang berat, tapi aku bisa mengalahkan Ringo",
jawab Armstrong.
"Hah?
Ringo? Tapi bom itu...", Saboteur masih kebingungan. Kalimatnya terputus
saat melihat keadaan sekitar.
"Bom
apa?", tanya Armstrong heran. Dilihatnya Saboteur kebingungan
memperhatikan sekelilingnya.
"Jadi...
Tidak ada bom?", gumam Saboteur setelah melihat tak ada tanda-tanda
ledakan di ruangan itu. Satu-satunya kerusakan adalah pintu masuk yang jebol
karena didobrak oleh Armstrong. Tiba-tiba saja dia merasa bodoh. "Bom itu
tidak ada!", Saboteur langsung berlari menuju pintu keluar.
"Ada
apa Saboteur?", tanya Armstrong menyusul.
Saboteur
tak menjawab, dia sibuk memeriksa jalur kawat tipis yang membentuk formasi acak
di pintu keluar. Terlihat ada sebuah peledak di bingkai pintu, sejajar dengan
kenop pintu. Diperiksanya jalur yang mengarah ke peledak itu dengan seksama.
Beberapa saat kemudian terdengar Saboteur terkekeh.
"Apa
yang kau tertawakan?", tanya Armstrong sedikit khawatir dengan kondisi rekannya.
"Tidak
ada, aku telah dibodohi dengan gemilang!", ada nada sangat kesal dalam
jawaban Saboteur. Kemudian dia menjelaskan pada Armstrong tentang
jebakan-jebakan di ruangan tersebut.
Jebakan
rumit Kapten Barker ternyata hanya tipuan. Peledak di pintu keluar tak
terhubung dengan formasi rumit tersebut, tetapi picunya langsung terhubung
dengan kenop pintu. Jebakan biasa yang disamarkan dengan sangat apik. Saboteur
bisa menjinakkannya dengan mudah.
"Jadi
semua hanya untuk mengulur waktu?", tanya Armstrong.
"Sepertinya
begitu", jawab Saboteur.
"Baguslah,
aku harus segera ke atas bendungan untuk membebaskan Explorer, Ace dan Spy.
Mereka tertangkap", Armstrong menjelaskan apa yang dilihatnya di atas
bendungan. Saboteur mendengarkannya sambil melirik timer yang tadi
ditinggalkannya.
"Kalau
begitu cepatlah, waktu kita semakin sedikit", dilihatnya display timer
menampilkan angka 00:38:31 dan terus menghitung mundur.
"Kau
tak ikut bersamaku?", tanya Armstrong.
"Aku
harus menjinakkan bom itu terlebih dahulu", jawab Saboteur. "Dan
ingat, setelah kau bebaskan, segera bawa mereka menjauh dari bendungan. Sejauh
mungkin", pesan Saboteur.
"Aku
yakin kau bisa. Setelah ini semua selesai, kita akan minum kopi bersama",
kata Armstrong sambil memegang pundak Saboteur untuk memberi semangat. Saboteur
menjawab dengan sebuah anggukan mantap. Setelah itu Armstrong segera berlari
melalui pintu keluar untuk menuju ke atas bendungan.
"Ouuuccchhh...
Pundakku mati rasa", keluh Saboteur sambil mengelus pundaknya yang tadi dipegang
Armstrong.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment