Saturday, May 17, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 16)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 16


Di luar ruang generator, tampak Armstrong termangu. Dia berdiri di tepi anjungan ruang generator, memandang ke bawah. Ketinggian anjungan tempatnya berdiri sekitar dua belas meter, di bawahnya adalah batu-batu besar yang membentuk dinding bendungan.

"Lalu... Bagaimana aku bisa menyeberang?", tanya Armstrong. Tentu saja takkan ada yang menjawabnya. "Bodohnya aku, sudah tahu tak ada orang malah bertanya", gumamnya.

Armstrong mengamati sekelilingnya, berharap menemukan jalur lain untuk mencapai dinding bendungan. Mustahil untuk melompat, dengan berat tubuhnya dia pasti akan meluncur ke bawah, langsung menghantam bebatuan.

"Lalu bagaimana pasukan pemberontak tadi bisa menyeberang dan mendaki bendungan", kembali satu pertanyaan tak terjawab meluncur dari bibirnya. Dia juga tak melihat tangga atau tali menuju ke bawah.

Armstrong tampak putus asa karena tak kunjung menemukan jalan. "Masa aku harus kembali dan mengambil jalan memutar?", gumamnya. Sekali lagi bertanya, dan tak ada yang menjawabnya.

* * * * *

"Teman katamu?", tanya Saboteur heran.

"Ya, teman", kali ini ada suara yang menjawabnya.

"Tahu tidak? Baru kali ini aku bicara dengan hantu", kata Saboteur bergidik.

"Hahaha... Jangan takut. Turunlah ke ruang turbin, akan kutunjukkan dimana bom itu berada", lanjut suara itu.

"Hei... Tunggu! Timernya ada disini", sanggah Saboteur.

"Apakah kau menemukan peledaknya juga?", suara itu kembali bertanya.

"Nggg... Tidak. Tapi pasti ada di ujung kabel yang terpasang", jawab Saboteur.

"Kalau begitu, carilah ujungnya", perintah suara tersebut.

Sejenak Saboteur merasa ragu, tetapi saat dilihatnya timer menunjukkan angka 00:24:11 dia merasa masih memiliki cukup waktu untuk mencari peledak itu. Dengan bantuan lampu senter, dia bergegas merunut kabel tersebut, mulai dari slot pertama. Kabel itu terletak di lantai, dipasang merapat di sepanjang dinding. Saboteur mengikuti alur kabel tersebut dan sangat terkejut mengetahui apa yang dia temukan di ujungnya.

* * * * *

"Injury time, Gubernur. Sepertinya Anda lebih suka melihat bencana", kata Jendral Sodatoy di telepon.

"Aku tahu! Tetapi mengumpulkan uang sebanyak itu butuh waktu yang tidak sedikit!", dari nada suaranya tampak sekali Gubernur Zuger sangat gusar.

"Sebelumnya kami sudah memberimu 12 jam", dingin saja ucapan Sodatoy. "Sekarang kau hanya punya 20 menit saja". Sodatoy langsung menutup telepon. Dia semakin yakin Gubernur Zuger tak akan menuruti tuntutannya.

Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Jendral Sodatoy segera mengenali suara itu, helikopter.

"Mayor!", panggil Sodatoy dengan lantang.

"Siap, Jendral!", Mayor Bishop segera mendekati atasannya.

"Sudah kau hubungi media?", tanya sang Jendral.

"Siap! Sudah saya hubungi. Itu pasti helikopter mereka", jawab Bishop dengan tegas.

"Bagus, laksanakan tahap penyamaran!", perintah Sodatoy.

"Siap! Laksanakan!", setelah itu Mayor Bishop segera memberikan beberapa instruksi kepada anak buahnya.

Pasukan pemberontak dengan segera melepas semua atribut militer mereka dan berganti dengan pakaian sipil. Tak hanya itu, seluruh persenjataan dan perlengkapan militer segera mereka kumpulkan ke dalam bak truk. Setelah itu mereka menutupinya dengan terpal. Seluruh atribut militer di kendaraan pun ditanggalkan. Sekarang mereka terlihat seperti rombongan yang sedang wisata di bendungan.

* * * * *

Saboteur merasa dibodohi sekali lagi. Kabel yang terpasang di slot 1 ternyata berakhir di slot 2. Dia bergegas mengikuti kabel di slot 3, kabel itu mengarah ke atas, menuju langit-langit ruangan. Saboteur terus mengikuti alur kabel tersebut, kembali mengitari ruangan. Saboteur merasa berang saat mendapati kabel itu berakhir di slot 4. Dia mengumpat tak jelas.

"Sudah kau temukan?", tanya suara tersebut.

"Tidak ada peledak disini", jawab Saboteur geram.

"Hahaha... Turunlah, bom itu disini", suara misterius itu seperti menertawakan kebodohan Saboteur yang kembali tertipu mentah-mentah.

Tak punya pilihan lain, Saboteur segera berjalan menuju lubang di lantai tempat tangga untuk menuju ke ruang turbin berada. Baru saja menuruni dua anak tangga, Saboteur dikejutkan oleh pintu keluar yang tiba-tiba terbuka. Armstrong masuk dengan tergopoh-gopoh.

"Hei! Kenapa kau kembali dengan terburu-buru?", tanya Saboteur heran.

"Aku harus memutar untuk pergi ke atas bendungan, tidak ada jalan di luar sana", jawab Armstrong dengan cepat.

"Hah? Apa maksudmu?", Saboteur tak kalah bingung. Jelas-jelas tadi mereka melihat pasukan pemberontak bisa mendaki dinding bendungan, tetapi sekarang Armstrong mengatakan tak ada jalan.

"Kalian berdua cepatlah turun", suara misterius itu kembali terdengar. "Armstrong, akan kutunjukkan jalannya padamu", lanjut suara itu.

"Siapa itu?", tanya Armstrong berbisik.

"Hantu", jawab Saboteur singkat.

"Hah?", bulu kuduk Armstrong langsung meremang.

* * * * *

No comments:

Post a Comment