Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 16
Di
luar ruang generator, tampak Armstrong termangu. Dia berdiri di tepi anjungan
ruang generator, memandang ke bawah. Ketinggian anjungan tempatnya berdiri
sekitar dua belas meter, di bawahnya adalah batu-batu besar yang membentuk
dinding bendungan.
"Lalu...
Bagaimana aku bisa menyeberang?", tanya Armstrong. Tentu saja takkan ada
yang menjawabnya. "Bodohnya aku, sudah tahu tak ada orang malah
bertanya", gumamnya.
Armstrong
mengamati sekelilingnya, berharap menemukan jalur lain untuk mencapai dinding
bendungan. Mustahil untuk melompat, dengan berat tubuhnya dia pasti akan
meluncur ke bawah, langsung menghantam bebatuan.
"Lalu
bagaimana pasukan pemberontak tadi bisa menyeberang dan mendaki
bendungan", kembali satu pertanyaan tak terjawab meluncur dari bibirnya.
Dia juga tak melihat tangga atau tali menuju ke bawah.
Armstrong
tampak putus asa karena tak kunjung menemukan jalan. "Masa aku harus
kembali dan mengambil jalan memutar?", gumamnya. Sekali lagi bertanya, dan
tak ada yang menjawabnya.
* *
* * *
"Teman
katamu?", tanya Saboteur heran.
"Ya,
teman", kali ini ada suara yang menjawabnya.
"Tahu
tidak? Baru kali ini aku bicara dengan hantu", kata Saboteur bergidik.
"Hahaha...
Jangan takut. Turunlah ke ruang turbin, akan kutunjukkan dimana bom itu
berada", lanjut suara itu.
"Hei...
Tunggu! Timernya ada disini", sanggah Saboteur.
"Apakah
kau menemukan peledaknya juga?", suara itu kembali bertanya.
"Nggg...
Tidak. Tapi pasti ada di ujung kabel yang terpasang", jawab Saboteur.
"Kalau
begitu, carilah ujungnya", perintah suara tersebut.
Sejenak
Saboteur merasa ragu, tetapi saat dilihatnya timer menunjukkan angka 00:24:11
dia merasa masih memiliki cukup waktu untuk mencari peledak itu. Dengan bantuan
lampu senter, dia bergegas merunut kabel tersebut, mulai dari slot pertama.
Kabel itu terletak di lantai, dipasang merapat di sepanjang dinding. Saboteur
mengikuti alur kabel tersebut dan sangat terkejut mengetahui apa yang dia
temukan di ujungnya.
* *
* * *
"Injury
time, Gubernur. Sepertinya Anda lebih suka melihat bencana", kata Jendral
Sodatoy di telepon.
"Aku
tahu! Tetapi mengumpulkan uang sebanyak itu butuh waktu yang tidak
sedikit!", dari nada suaranya tampak sekali Gubernur Zuger sangat gusar.
"Sebelumnya
kami sudah memberimu 12 jam", dingin saja ucapan Sodatoy. "Sekarang
kau hanya punya 20 menit saja". Sodatoy langsung menutup telepon. Dia
semakin yakin Gubernur Zuger tak akan menuruti tuntutannya.
Beberapa
saat kemudian terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Jendral Sodatoy segera
mengenali suara itu, helikopter.
"Mayor!",
panggil Sodatoy dengan lantang.
"Siap,
Jendral!", Mayor Bishop segera mendekati atasannya.
"Sudah
kau hubungi media?", tanya sang Jendral.
"Siap!
Sudah saya hubungi. Itu pasti helikopter mereka", jawab Bishop dengan
tegas.
"Bagus,
laksanakan tahap penyamaran!", perintah Sodatoy.
"Siap!
Laksanakan!", setelah itu Mayor Bishop segera memberikan beberapa
instruksi kepada anak buahnya.
Pasukan
pemberontak dengan segera melepas semua atribut militer mereka dan berganti
dengan pakaian sipil. Tak hanya itu, seluruh persenjataan dan perlengkapan
militer segera mereka kumpulkan ke dalam bak truk. Setelah itu mereka
menutupinya dengan terpal. Seluruh atribut militer di kendaraan pun
ditanggalkan. Sekarang mereka terlihat seperti rombongan yang sedang wisata di
bendungan.
* *
* * *
Saboteur
merasa dibodohi sekali lagi. Kabel yang terpasang di slot 1 ternyata berakhir
di slot 2. Dia bergegas mengikuti kabel di slot 3, kabel itu mengarah ke atas,
menuju langit-langit ruangan. Saboteur terus mengikuti alur kabel tersebut,
kembali mengitari ruangan. Saboteur merasa berang saat mendapati kabel itu
berakhir di slot 4. Dia mengumpat tak jelas.
"Sudah
kau temukan?", tanya suara tersebut.
"Tidak
ada peledak disini", jawab Saboteur geram.
"Hahaha...
Turunlah, bom itu disini", suara misterius itu seperti menertawakan kebodohan
Saboteur yang kembali tertipu mentah-mentah.
Tak
punya pilihan lain, Saboteur segera berjalan menuju lubang di lantai tempat
tangga untuk menuju ke ruang turbin berada. Baru saja menuruni dua anak tangga,
Saboteur dikejutkan oleh pintu keluar yang tiba-tiba terbuka. Armstrong masuk
dengan tergopoh-gopoh.
"Hei!
Kenapa kau kembali dengan terburu-buru?", tanya Saboteur heran.
"Aku
harus memutar untuk pergi ke atas bendungan, tidak ada jalan di luar
sana", jawab Armstrong dengan cepat.
"Hah?
Apa maksudmu?", Saboteur tak kalah bingung. Jelas-jelas tadi mereka
melihat pasukan pemberontak bisa mendaki dinding bendungan, tetapi sekarang
Armstrong mengatakan tak ada jalan.
"Kalian
berdua cepatlah turun", suara misterius itu kembali terdengar.
"Armstrong, akan kutunjukkan jalannya padamu", lanjut suara itu.
"Siapa
itu?", tanya Armstrong berbisik.
"Hantu",
jawab Saboteur singkat.
"Hah?",
bulu kuduk Armstrong langsung meremang.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment