Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 15
"Setengah
jam lagi, Gubernur Zuger. Aku masih belum melihat tanda-tanda kirimanmu
disini", Jendral Sodatoy kembali menghubungi Gubernur untuk menagih
tuntutannya.
"Tunggulah
sebentar lagi, Jendral. Aku sudah berusaha maksimal. Kau pasti
mendapatkannya", sangat jelas kepanikan tengah menguasai Gubernur Zuger.
"Ingat
baik-baik. Kami akan berkemas dalam sepuluh menit. Setelah itu adalah injury
time", Jendral Sodatoy diam sejenak. Tak ada respon dari Gubernur, dia
pasti merasa sangat panik sekarang. "Jika aku belum menerima 22 triliun
sampai pukul delapan... Boom!", kalimat Jendral tersebut mengakhiri
percakapan. "Mayor!".
"Siap,
Jendral", jawab Mayor Bishop dengan lantang.
"Siapkan
evakuasi pasukan sekarang. Aku mencium gelagat Gubernur lebih memilih bencana
daripada kehilangan uangnya", kata sang Jendral dengan geram.
"Siap!
Laksanakan!", jawab Mayor dengan patuh. Kemudian dia memberikan perintah
kepada anak buahnya untuk segera bersiap.
"Paling
tidak aku masih punya beberapa kendaraan untuk modal usaha", gumam Jendral
Sodatoy berusaha menghibur diri.
Dalam
waktu singkat, iring-iringan kendaraan bergerak menyeberangi bendungan menuju
selatan. Konvoi kecil itu berhenti di rest area. Mereka menunggu saat-saat
terakhir riwayat bendungan, sekaligus menyaksikan banjir terbesar dalam sejarah
Jawa Timur.
* *
* * *
'BRAK!'
Saboteur
memukulkan kepalan tangannya ke dinding. Dia tetap tak bisa memahami
sistematika rakitan bom tersebut. Haruskah memotong salah satu kabelnya secara
acak? Tetapi dia tak berani mengambil resiko itu. Di tengah kebingungannya, dia
mendengar suara langkah kaki di ruang turbin, tepat di bawahnya. Suara langkah
itu menaiki tangga logam.
"Itu
pasti Kapten Barker!", desis Saboteur nyaris tanpa suara. Dia segera
memposisikan dirinya di samping generator, merunduk rendah. Siapapun yang
muncul dari tangga tak akan menyadari keberadaan Saboteur yang siap menyergap
dari sudut mati.
Sebuah
bayangan muncul dari bawah, sosok itu terus menaiki tangga. Sosok tersebut
telah terlihat sampai pinggang, kakinya masih menjejak tangga di bawah lantai.
Saat itulah Saboteur menerjang dengan cepat. Dua langkah panjang untuk kemudian
melompat menerkam sosok tersebut dari belakang.
Saboteur
sangat terkejut, saat dia yakin bisa menyergap sosok tersebut, ternyata
lengannya hanya menangkap angin. Sosok itu menghilang secepat kedipan mata.
Tiba-tiba saja Saboteur berkeringat dingin. Bagaimana mungkin sosok itu
menghilang tepat di depan hidungnya? Dia bahkan tak sekalipun berkedip!
* *
* * *
"Jadi,
kabel mana yang harus dipotong, Kolonel?", tanya seorang prajurit. Siap
dengan tang pemotong di tangannya. Tim Alpha 1 telah menemukan sebuah timer bom
di dalam ruang generator bendungan Sengguruh.
"Jangan
terburu-buru. Kita tunggu instruksi dari ahlinya", jawab Kolonel Blues
dengan tegas. Dilihatnya timer tersebut menunjukkan angka 00:27:08. Kolonel
tampak mulai gelisah.
"Kolonel,
time is running out", tiba-tiba terdengar suara Letnan Angus di radio
panggil. Kolonel segera meraih radionya.
"Letnan,
sekarang bukan waktu yang tepat untuk request lagu!", semprot Kolonel
nyaris berteriak.
"Maksudku,
waktu kita tinggal sedikit. Bom akan segera meledak jika tak dijinakkan
sekarang", Letnan Angus balas menyemprot. Rupanya Alpha 2 juga telah
berhasil menemukan timer.
"Aku
tahu, Letnan Angus", jawab Kolonel datar. "Tapi kita tidak boleh
bertindak ceroboh. Tunggu instruksi dari ahlinya".
"Memangnya
siapa ahli yang akan memberikan instruksi?", tanya Letnan Angus.
Kolonel
terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawabnya. "Saboteur".
* *
* * *
Di
ruang generator PLTA Sutami, Saboteur sedang kebingungan. Atau lebih tepatnya
ketakutan. Dua kali sudah dia berjumpa dengan 'hantu'. Dia ingin secepatnya
keluar dari tempat itu. Tetapi keberadaan timer bom itu memaksanya tinggal.
"Take
it easy, Saboteur", tiba-tiba terdengar suara.
"Apa?",
Saboteur kebingungan mendengar suara tanpa wujud itu. Matanya menyapu seluruh
ruangan, tetapi tak ditemukannya sosok pemilik suara.
"Take
it easy, I'm at your side", suara itu kembali terdengar. Kali ini sangat
dekat, membuat Saboteur semakin merinding.
"Ngomong
apa sih? Aku tak paham bahasa Inggris!", sungut Saboteur.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment