Saturday, May 24, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 17)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 17


"Apa yang sedang kalian lakukan!?", teriak Gubernur Zuger di telepon.

"Tentu saja kami sedang menjalankan misi", jawab CB dengan kalem. Dia tak mau meladeni amarah sang Gubernur.

"Misi kalian gagal!", emosi Zuger sangat memuncak kali ini.

"Darimana Anda mendapatkan omong kosong itu Gubernur?", tanggapan CB masih tetap kalem.

"Nyalakan televisimu! Semua orang sudah tahu sekarang!", teriakan histeris Zuger diakhiri dengan suara bantingan gagang telepon.

"Apa maksud.....", CB tak menyelesaikan kalimatnya. Dia buru-buru membuka laci dan mencari remote televisi. Setelah menemukannya, segera ditekannya tombol power.

CB mendadak lemas setelah melihat sebuah liputan khusus di televisi. Tampak kamera menyorot tiga orang yang terborgol di pagar bendungan, mereka adalah Explorer, Ace dan Spy. Reporter di televisi itu menjelaskan bahwa mereka mendapat telepon ancaman teror di PLTA Sutami.

Reporter itu juga menyebut tiga orang yang terikat di pagar bendungan adalah sandera teroris. Mereka juga menyoroti kinerja kepolisian dan militer yang kecolongan dengan aksi teror ini. Mendekati batas waktu yang ditetapkan pihak teroris, belum terlihat tanda-tanda diturunkannya pasukan anti teror di lokasi.

Siaran khusus ini tidak hanya disiarkan di satu stasiun televisi, hampir semua chanel menyiarkan berita yang sama. Beberapa bahkan membuat simulasi bencana banjir terbesar yang akan terjadi jika lima bendungan benar-benar diledakkan. Hal ini segera menimbulkan kepanikan masyarakat Jawa Timur, terutama yang tinggal di sepanjang aliran sungai Brantas.

Beberapa narasumber malah mulai menghitung potensi kerugian dan dampak berkepanjangan akibat bencana yang akan terjadi.

CB berusaha menguasai dirinya. Dia melihat sudut bawah layar monitor, waktu menunjukkan pukul 7.43, berarti 17 menit menuju deadline.

"Kolonel...", panggil CB melalui panggilan radio. Tak ada jawaban. "Kolonel Blues...", panggilnya sekali lagi.

"Ada apa, CB?", akhirnya Kolonel Blues menjawab.

Selanjutnya CB melaporkan perkembangan situasi terbaru. Dia laporkan semua mulai dari telepon Gubernur Zuger, informasi yang bocor kepada media, sampai pada tiga orang yang tertangkap di PLTA Sutami.

"Tunggu... Siapa saja yang tertangkap?", tanya Kolonel Blues.

"Explorer, Ace dan Spy", jawab CB.

"Berarti kita masih bisa mencegah bencana", jawab Kolonel blues.

"Maksudnya?", CB tak langsung memahami perkataan Kolonel Blues.

"Kita masih punya tiga orang di Sutami. Sejauh ini posisi kita masih unggul", jelas Kolonel. Setelah itu dia mengakhiri pembicaraan.

"Hah? Tiga?", CB terhenyak di kursinya sambil mengerenyitkan dahi. Otaknya berputar dengan cepat. Selain tiga orang yang tertawan di pagar bendungan, hanya tersisa Saboteur dan Armstrong. Lalu siapa orang ketiga yang dimaksud Kolonel Blues tadi?

* * * * *

Saboteur dan Armstrong sampai di ruang turbin. Ruang ini sama remangnya dengan ruang generator di atas. Hanya saja udaranya jauh lebih lembab. Mereka tak melihat seorangpun disana, mungkin mereka akan benar-benar menemui hantu di sini.

"Armstrong", terdengar suara yang mengejutkan mereka berdua. Tetapi suara itu masih belum menunjukkan wujudnya. "Pergilah ke sebelah kananmu, disana ada pintu. Dari sana kamu bisa langsung mendaki ke atas bendungan", lanjut suara tersebut.

Armstrong merasa ragu mengikuti arahan suara itu. Dia hanya berpandangan dengan Saboteur. Anggukan rekannya itu membuatnya segera melangkahkan kaki menuju tempat yang dimaksudkan.

Disana dia menemukan sebuah pintu besi dengan roda pengunci, seperti yang digunakan pada pintu kapal. Pintu itu sudah banyak ditumbuhi lumut, beberapa bagian bahkan mulai berkarat. Armstrong memutar roda itu untuk membuka pintu. Ternyata tidak mudah memutar roda pengunci itu, bahkan untuk Armstrong sekalipun.

"Pasti sudah rusak", gumam Armstrong. Dia mencoba lagi dengan mengerahkan tenaga yang lebih besar. "Heaaa!", tetapi usahanya itu masih belum berhasil memutar roda tersebut. Setelah percobaan ketiga yang menggunakan seluruh kekuatannya, pintu tersebut masih juga kokoh. Armstrong terengah-engah, dia sulit mempercayai kekuatan pintu besi tersebut.

"Armstrong", suara itu terdengar lagi.

"Ya?", Armstrong menoleh ke sumber suara sambil mengatur nafasnya.

"Kau memutar roda itu ke arah yang salah", suara misterius itu terdengar datar kali ini.

"Ah...", Armstrong tak bisa berkata-kata, dicobanya memutar ke arah sebaliknya, dan dengan mudah roda itu berputar. Pintu pun terbuka.

Di luar pintu tampak batuan besar yang merupakan dinding luar bendungan. Armstrong melangkah keluar dan melihat ke atas. Dua belas meter di atasnya adalah anjungan tempatnya berdiri sebelumnya. mengingat waktu yang ada semakin sedikit, Armstrong langsung memanjat bebatuan itu menuju ke atas bendungan.

* * * * *

Di dalam ruang turbin yang lembab, Saboteur tiba-tiba merasa merinding merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Dia membalikkan badannya, tapi tak melihat seorangpun disana.

"Saboteur", tiba-tiba saja suara itu terdengar sangat dekat. Saboteur sangat terkejut ketika menoleh dan mendapati seseorang telah berdiri di sampingnya.

"Woaaaa...!", Saboteur berteriak ketakutan sambil bergerak menjauh. Matanya terbeliak memandang sosok tersebut.

Sosok itu tak terlalu tinggi, memakai pakaian serba hitam dengan rompi yang biasa dipakai satuan khusus militer. Sosok itu memakai balaclava yang menutupi wajahnya. Di pinggangnya tergantung sebuah pistol.

Yang lebih menarik perhatiannya adalah sebuah senapan laras panjang tergantung di punggung sosok tersebut. Pandangan Saboteur beralih ke bawah, dilihatnya kaki orang itu menapak bumi. Ada kelegaan di hati Saboteur mengetahui sosok tersebut bukan hantu.

"Kita langsung saja", perkataan orang itu menyadarkan Saboteur dari lamunannya. "Tugasmu disini untuk menjinakkan bom. Nasib lima bendungan tergantung pada kemampuanmu. Ada pertanyaan?", sosok tersebut berhenti sebentar, menunggu respon Saboteur. Sepertinya Saboteur tak memiliki pertanyaan apapun saat ini. "Ikut aku, kutunjukkan lokasi bom itu", lanjut sosok tersebut sambil berjalan menuju tiga buah pipa besar.

Mereka mendekati pipa di tengah. Di sisi pipa terdapat sebuah pintu palka berdiameter 60 cm. Sosok itu membukanya, lalu masuk ke dalam setelah menyalakan senter. Saboteur segera menyusulnya. Di dalam pipa berdiameter 1,2 meter itu sangat gelap dan lembab, selain itu juga sangat licin. Sambil merangkak menyusuri pipa, sosok itu menjelaskan bahwa mereka sedang berada di dalam pipa penstock, bagian pipa yang mengalirkan air untuk mendorong turbin.

Awalnya air di bendungan masuk melalui pipa intake yang memiliki diameter lebih besar. Pipa itu mengarah ke bawah, nyaris vertikal di tengah badan bendungan. Kemudian tersambung pada pipa melingkar yang berfungsi mengurangi tenaga dorongan air. Pipa melingkar itu kemudian tersambung dengan penstock horizontal yang sedang mereka lalui.

"Nah, sekarang bagianmu", sosok itu berdiri sambil menunjuk sebuah benda panjang di dasar pipa. Kini mereka telah sampai di pipa lingkar yang berdiameter 2,5 meter.

"Itu bomnya?", kata Saboteur. Diperhatikannya sebuah tabung sepanjang satu meter dan berdiameter 40 cm. Bom sebesar ini memang tak akan sanggup meruntuhkan bendungan. Tetapi akan berbeda jika diledakkan tepat di dalam badan bendungan.

"Masuk ke dalam pipa penstock, bomnya ada disana", kembali terdengar suara sosok berbaju hitam tersebut.

"Hah? Apa? Kita sudah menemukan bomnya bukan?", sahut Saboteur dengan heran. Dia menoleh ke arah sosok itu, tapi ternyata sosok tersebut tidak berbicara padanya, melainkan berbicara melalui sebuah radio satelit.

"Tunggu instruksi selanjutnya setelah kalian menemukan bomnya", lanjut sosok tersebut.

"Kepada siapa kau bicara?", tanya Saboteur.

"Maaf, sesi tanya jawab sudah ditutup. Kau bisa mengajukan satu pertanyaan setelah semua ini selesai", sosok tersebut kemudian melihat arlojinya. "Waktumu hanya 12 menit untuk menjinakkan bom itu", kembali mengingatkan tujuan utama mereka berada disini.

"Baiklah, aku akan menagihmu nanti", jawab Saboteur sambil berlutut di samping bom.

Saboteur memperhatikan struktur luar bom dengan seksama. Ada sebuah bagian selebar 20 cm di ujung tabung yang tampaknya bisa dilepas. Saboteur segera meraih peralatan di pinggangnya dan melepas baut di bagian itu. Setelah dibuka, tampaklah sebuah panel yang rumit dan lagi-lagi tanpa ada satupun keterangan yang tertera. Hanya sebuah timer digital yang bisa dia pahami.

"Ahhhh... Lagi-lagi panel polos! Aku benci ini!", Saboteur merasa sangat kesal, diungkapkannya dengan umpatan-umpatan yang tak jelas artinya.

"Carilah dengan lebih teliti, tak mungkin polos sama sekali", saran sosok misterius itu.

Saboteur segera melepas keping PCB dari tempatnya. Di bawahnya ada sebuah kabel hitam besar yang menghubungkan panel dengan bagian dalam tabung, kemungkinan langsung terhubung dengan picu peledak.

"Tak ada petunjuk!", kata Saboteur panik.

"Cari lagi, lebih teliti", kata sosok itu.

"Tidak ada! Bom ini tak bisa dijinakkan!", kali ini Saboteur benar-benar berteriak di tengah kepanikan.

PLAKKK!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Saboteur, langsung membuatnya terdiam. Sosok hitam itu telah menamparnya, telak.

"Kutanya sekali lagi, kau bisa menjinakkan bom?", tanya sosok tersebut dengan suara berat.

"Aku bisa", jawab Saboteur dengan suara yang bergetar. "Tapi ini sangat sulit", lanjutnya. Tetapi tak sepanik tadi.

"Kau bisa menjinakkan bom ini, tapi kau terlalu pesimis untuk melakukannya", lanjut sosok tersebut.

"Memang sulit, tak ada petunjuk sama sekali", jawab Saboteur lemas. Sesaat kemudian dari tabung itu terdengar suara 'bip' yang berulang setiap detik. "Lima menit sebelum ledakan", desis Saboteur lemas. Mereka pun terdiam.

* * * * *

No comments:

Post a Comment