Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 17
"Apa
yang sedang kalian lakukan!?", teriak Gubernur Zuger di telepon.
"Tentu
saja kami sedang menjalankan misi", jawab CB dengan kalem. Dia tak mau
meladeni amarah sang Gubernur.
"Misi
kalian gagal!", emosi Zuger sangat memuncak kali ini.
"Darimana
Anda mendapatkan omong kosong itu Gubernur?", tanggapan CB masih tetap
kalem.
"Nyalakan
televisimu! Semua orang sudah tahu sekarang!", teriakan histeris Zuger
diakhiri dengan suara bantingan gagang telepon.
"Apa
maksud.....", CB tak menyelesaikan kalimatnya. Dia buru-buru membuka laci
dan mencari remote televisi. Setelah menemukannya, segera ditekannya tombol
power.
CB
mendadak lemas setelah melihat sebuah liputan khusus di televisi. Tampak kamera
menyorot tiga orang yang terborgol di pagar bendungan, mereka adalah Explorer,
Ace dan Spy. Reporter di televisi itu menjelaskan bahwa mereka mendapat telepon
ancaman teror di PLTA Sutami.
Reporter
itu juga menyebut tiga orang yang terikat di pagar bendungan adalah sandera
teroris. Mereka juga menyoroti kinerja kepolisian dan militer yang kecolongan
dengan aksi teror ini. Mendekati batas waktu yang ditetapkan pihak teroris,
belum terlihat tanda-tanda diturunkannya pasukan anti teror di lokasi.
Siaran
khusus ini tidak hanya disiarkan di satu stasiun televisi, hampir semua chanel
menyiarkan berita yang sama. Beberapa bahkan membuat simulasi bencana banjir
terbesar yang akan terjadi jika lima bendungan benar-benar diledakkan. Hal ini
segera menimbulkan kepanikan masyarakat Jawa Timur, terutama yang tinggal di
sepanjang aliran sungai Brantas.
Beberapa
narasumber malah mulai menghitung potensi kerugian dan dampak berkepanjangan
akibat bencana yang akan terjadi.
CB
berusaha menguasai dirinya. Dia melihat sudut bawah layar monitor, waktu
menunjukkan pukul 7.43, berarti 17 menit menuju deadline.
"Kolonel...",
panggil CB melalui panggilan radio. Tak ada jawaban. "Kolonel
Blues...", panggilnya sekali lagi.
"Ada
apa, CB?", akhirnya Kolonel Blues menjawab.
Selanjutnya
CB melaporkan perkembangan situasi terbaru. Dia laporkan semua mulai dari
telepon Gubernur Zuger, informasi yang bocor kepada media, sampai pada tiga
orang yang tertangkap di PLTA Sutami.
"Tunggu...
Siapa saja yang tertangkap?", tanya Kolonel Blues.
"Explorer,
Ace dan Spy", jawab CB.
"Berarti
kita masih bisa mencegah bencana", jawab Kolonel blues.
"Maksudnya?",
CB tak langsung memahami perkataan Kolonel Blues.
"Kita
masih punya tiga orang di Sutami. Sejauh ini posisi kita masih unggul",
jelas Kolonel. Setelah itu dia mengakhiri pembicaraan.
"Hah?
Tiga?", CB terhenyak di kursinya sambil mengerenyitkan dahi. Otaknya
berputar dengan cepat. Selain tiga orang yang tertawan di pagar bendungan,
hanya tersisa Saboteur dan Armstrong. Lalu siapa orang ketiga yang dimaksud
Kolonel Blues tadi?
* *
* * *
Saboteur
dan Armstrong sampai di ruang turbin. Ruang ini sama remangnya dengan ruang
generator di atas. Hanya saja udaranya jauh lebih lembab. Mereka tak melihat
seorangpun disana, mungkin mereka akan benar-benar menemui hantu di sini.
"Armstrong",
terdengar suara yang mengejutkan mereka berdua. Tetapi suara itu masih belum
menunjukkan wujudnya. "Pergilah ke sebelah kananmu, disana ada pintu. Dari
sana kamu bisa langsung mendaki ke atas bendungan", lanjut suara tersebut.
Armstrong
merasa ragu mengikuti arahan suara itu. Dia hanya berpandangan dengan Saboteur.
Anggukan rekannya itu membuatnya segera melangkahkan kaki menuju tempat yang
dimaksudkan.
Disana
dia menemukan sebuah pintu besi dengan roda pengunci, seperti yang digunakan
pada pintu kapal. Pintu itu sudah banyak ditumbuhi lumut, beberapa bagian
bahkan mulai berkarat. Armstrong memutar roda itu untuk membuka pintu. Ternyata
tidak mudah memutar roda pengunci itu, bahkan untuk Armstrong sekalipun.
"Pasti
sudah rusak", gumam Armstrong. Dia mencoba lagi dengan mengerahkan tenaga
yang lebih besar. "Heaaa!", tetapi usahanya itu masih belum berhasil
memutar roda tersebut. Setelah percobaan ketiga yang menggunakan seluruh
kekuatannya, pintu tersebut masih juga kokoh. Armstrong terengah-engah, dia
sulit mempercayai kekuatan pintu besi tersebut.
"Armstrong",
suara itu terdengar lagi.
"Ya?",
Armstrong menoleh ke sumber suara sambil mengatur nafasnya.
"Kau
memutar roda itu ke arah yang salah", suara misterius itu terdengar datar
kali ini.
"Ah...",
Armstrong tak bisa berkata-kata, dicobanya memutar ke arah sebaliknya, dan
dengan mudah roda itu berputar. Pintu pun terbuka.
Di
luar pintu tampak batuan besar yang merupakan dinding luar bendungan. Armstrong
melangkah keluar dan melihat ke atas. Dua belas meter di atasnya adalah
anjungan tempatnya berdiri sebelumnya. mengingat waktu yang ada semakin
sedikit, Armstrong langsung memanjat bebatuan itu menuju ke atas bendungan.
* *
* * *
Di
dalam ruang turbin yang lembab, Saboteur tiba-tiba merasa merinding merasakan
keberadaan seseorang di belakangnya. Dia membalikkan badannya, tapi tak melihat
seorangpun disana.
"Saboteur",
tiba-tiba saja suara itu terdengar sangat dekat. Saboteur sangat terkejut
ketika menoleh dan mendapati seseorang telah berdiri di sampingnya.
"Woaaaa...!",
Saboteur berteriak ketakutan sambil bergerak menjauh. Matanya terbeliak
memandang sosok tersebut.
Sosok
itu tak terlalu tinggi, memakai pakaian serba hitam dengan rompi yang biasa
dipakai satuan khusus militer. Sosok itu memakai balaclava yang menutupi
wajahnya. Di pinggangnya tergantung sebuah pistol.
Yang
lebih menarik perhatiannya adalah sebuah senapan laras panjang tergantung di
punggung sosok tersebut. Pandangan Saboteur beralih ke bawah, dilihatnya kaki
orang itu menapak bumi. Ada kelegaan di hati Saboteur mengetahui sosok tersebut
bukan hantu.
"Kita
langsung saja", perkataan orang itu menyadarkan Saboteur dari lamunannya.
"Tugasmu disini untuk menjinakkan bom. Nasib lima bendungan tergantung
pada kemampuanmu. Ada pertanyaan?", sosok tersebut berhenti sebentar,
menunggu respon Saboteur. Sepertinya Saboteur tak memiliki pertanyaan apapun
saat ini. "Ikut aku, kutunjukkan lokasi bom itu", lanjut sosok
tersebut sambil berjalan menuju tiga buah pipa besar.
Mereka
mendekati pipa di tengah. Di sisi pipa terdapat sebuah pintu palka berdiameter
60 cm. Sosok itu membukanya, lalu masuk ke dalam setelah menyalakan senter.
Saboteur segera menyusulnya. Di dalam pipa berdiameter 1,2 meter itu sangat
gelap dan lembab, selain itu juga sangat licin. Sambil merangkak menyusuri
pipa, sosok itu menjelaskan bahwa mereka sedang berada di dalam pipa penstock,
bagian pipa yang mengalirkan air untuk mendorong turbin.
Awalnya
air di bendungan masuk melalui pipa intake yang memiliki diameter lebih besar.
Pipa itu mengarah ke bawah, nyaris vertikal di tengah badan bendungan. Kemudian
tersambung pada pipa melingkar yang berfungsi mengurangi tenaga dorongan air.
Pipa melingkar itu kemudian tersambung dengan penstock horizontal yang sedang
mereka lalui.
"Nah,
sekarang bagianmu", sosok itu berdiri sambil menunjuk sebuah benda panjang
di dasar pipa. Kini mereka telah sampai di pipa lingkar yang berdiameter 2,5
meter.
"Itu
bomnya?", kata Saboteur. Diperhatikannya sebuah tabung sepanjang satu
meter dan berdiameter 40 cm. Bom sebesar ini memang tak akan sanggup
meruntuhkan bendungan. Tetapi akan berbeda jika diledakkan tepat di dalam badan
bendungan.
"Masuk
ke dalam pipa penstock, bomnya ada disana", kembali terdengar suara sosok
berbaju hitam tersebut.
"Hah?
Apa? Kita sudah menemukan bomnya bukan?", sahut Saboteur dengan heran. Dia
menoleh ke arah sosok itu, tapi ternyata sosok tersebut tidak berbicara
padanya, melainkan berbicara melalui sebuah radio satelit.
"Tunggu
instruksi selanjutnya setelah kalian menemukan bomnya", lanjut sosok
tersebut.
"Kepada
siapa kau bicara?", tanya Saboteur.
"Maaf,
sesi tanya jawab sudah ditutup. Kau bisa mengajukan satu pertanyaan setelah
semua ini selesai", sosok tersebut kemudian melihat arlojinya.
"Waktumu hanya 12 menit untuk menjinakkan bom itu", kembali
mengingatkan tujuan utama mereka berada disini.
"Baiklah,
aku akan menagihmu nanti", jawab Saboteur sambil berlutut di samping bom.
Saboteur
memperhatikan struktur luar bom dengan seksama. Ada sebuah bagian selebar 20 cm
di ujung tabung yang tampaknya bisa dilepas. Saboteur segera meraih peralatan
di pinggangnya dan melepas baut di bagian itu. Setelah dibuka, tampaklah sebuah
panel yang rumit dan lagi-lagi tanpa ada satupun keterangan yang tertera. Hanya
sebuah timer digital yang bisa dia pahami.
"Ahhhh...
Lagi-lagi panel polos! Aku benci ini!", Saboteur merasa sangat kesal,
diungkapkannya dengan umpatan-umpatan yang tak jelas artinya.
"Carilah
dengan lebih teliti, tak mungkin polos sama sekali", saran sosok misterius
itu.
Saboteur
segera melepas keping PCB dari tempatnya. Di bawahnya ada sebuah kabel hitam
besar yang menghubungkan panel dengan bagian dalam tabung, kemungkinan langsung
terhubung dengan picu peledak.
"Tak
ada petunjuk!", kata Saboteur panik.
"Cari
lagi, lebih teliti", kata sosok itu.
"Tidak
ada! Bom ini tak bisa dijinakkan!", kali ini Saboteur benar-benar
berteriak di tengah kepanikan.
‘PLAKKK!!!’
Sebuah
tamparan mendarat di pipi Saboteur, langsung membuatnya terdiam. Sosok hitam
itu telah menamparnya, telak.
"Kutanya
sekali lagi, kau bisa menjinakkan bom?", tanya sosok tersebut dengan suara
berat.
"Aku
bisa", jawab Saboteur dengan suara yang bergetar. "Tapi ini sangat
sulit", lanjutnya. Tetapi tak sepanik tadi.
"Kau
bisa menjinakkan bom ini, tapi kau terlalu pesimis untuk melakukannya",
lanjut sosok tersebut.
"Memang
sulit, tak ada petunjuk sama sekali", jawab Saboteur lemas. Sesaat
kemudian dari tabung itu terdengar suara 'bip' yang berulang setiap detik.
"Lima menit sebelum ledakan", desis Saboteur lemas. Mereka pun
terdiam.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment