Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 12
"Jalan
menuju turbin ada di belakang gedung ini. Ayo segera kesana!", kata
Saboteur sambil berlari menuju tempat yang dimaksudkannya.
"Tunjukkan
jalannya. Aku di belakangmu", Armstrong berlari menyusul rekannya itu.
Di
belakang gedung kontrol terdapat sebuah anjungan yang berfungsi untuk memantau
saluran pembuangan. Di tepi anjungan terdapat tangga ke bawah, ke sebuah jalan
kecil menuju turbin. Saboteur melompati tangga itu, mendarat di jalan dan terus
berlari. Armstrong baru saja akan melompat saat sesuatu menyambarnya dari
samping. Tak disangka, dia terpental dan membentur pagar anjungan. Tetapi dia
segera bangkit dan melihat apa yang telah membuatnya terpental.
Dia
segera melihat sosok yang sedang berlari menuju ke arahnya. Secara refleks
Armstrong menaikkan lengan kirinya saat sosok itu melepaskan pukulan tangan
kanan yang bertenaga. Pijakan Armstrong menjadi goyah, dia terlambat
mengantisipasi saat pukulan kiri lawannya mendarat telak di perutnya. Tubuhnya
tertekuk ke depan, untuk sesaat dia tak bisa bernafas. Mulutnya terbuka karena
rasa sakit di perutnya. Terjangan berikutnya membuat Armstrong terpental ke
belakang.
Tetapi
lawan tak mau memberi waktu untuk sekedar mengambil nafas, dia berlari ke
arahnya. Armstrong masih sempat melindungi kepalanya dengan kedua tangan saat
lawan menendang. Terdengar teriakan kesakitan saat siku Armstrong berbenturan
dengan tulang kering lawannya. Armstrong menggunakan kesempatan itu untuk
bangkit dan mengambil jarak aman.
Dilihatnya
sosok yang menjadi lawannya, seorang bertubuh kekar. Terdapat banyak sobekan di
seragamnya yang memiliki tanda pangkat kapten. Sekilas dilihatnya nametag di
dada lawannya itu, Ringo.
"Salam
perkenalan yang berkesan, Kapten Ringo", kata Armstrong sambil mengelus
perutnya yang masih terasa nyeri.
"Terserah,
yang pasti aku akan membalas lemparan granatmu tadi", kata Ringo sambil
merangsek maju.
"Keluarkan
semua kemampuanmu", kata Armstrong sambil memasang kuda-kuda.
Mereka
berdua saling beradu kekuatan dalam pertarungan jarak dekat. Suara benturan
terdengar tiap kali pukulan mereka beradu dengan tangkisan. Keadaan tampak
seimbang untuk saat ini. Sampai pada saat pukulan kanan Armstrong mendarat
telak di pipi kiri Ringo. Besarnya tenaga pukulan membuat Ringo terpelanting.
Tetapi tanpa diduga Ringo memanfaatkan momentum untuk berputar dan mendaratkan
tendangan tumit ke arah rusuk Armstrong. Tendangan itu membuat udara di
paru-parunya serasa dipompa keluar sekaligus. Armstrong terlempar dan langsung
tersungkur.
Ringo
berhasil bangkit lebih dahulu, dia mendekati Armstrong yang masih megap-megap.
Tendangannya kembali menghajar rusuk Armstrong, kali ini yang sebelah kiri.
Tubuh Armstrong sampai terbang karena kuatnya tenaga Ringo. Armstrong bergulung
beberapa kali saat mendarat di lantai anjungan. Dia terbatuk-batuk saat mencoba
duduk, rusuknya terasa sangat sakit. Dilihatnya Ringo meludah ke lantai sambil
mengusap pipinya yang tampak memar.
"Lumayan
juga pukulanmu", kata Ringo sambil menyeringai.
"Mau
lagi?", kata Armstrong. Dia sudah berdiri sekarang, tetapi masih bersandar
di pagar. Beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk meredakan nyeri di
rusuknya.
"Bersiaplah!",
seru Ringo sambil berlari ke arah Armstrong. Armstrong segera mengambil
kuda-kuda, sebenarnya dia belum sepenuhnya siap untuk bertarung. Tetapi siap
atau tidak, pertarungan harus diselesaikan.
"Heaaa!!!",
teriak Armstrong sambil bergerak maju.
* *
* * *
Saboteur
telah sampai di depan ruang generator. Dilihatnya ke atas, pasukan yang memanjat
tadi sudah tidak nampak. Dia harus cepat jika ingin mengejar mereka. Diraihnya
kenop pintu dan ditariknya. Tiba-tiba Saboteur dengan cepat melompat ke
samping. Pintu itu meledak. Api ledakan mengenai kaki kiri saboteur, membuat
celananya terbakar. Dia buru-buru memadamkan api itu dengan segala cara. Baru
saja apinya padam, dua buah granat menggelinding di dekatnya. Secara reflek dia
meraih granat tersebut dan melemparnya dengan kuat ke arah sungai. Tetapi salah
satu granat meledak sesaat setelah dilemparkan dan sedikit melukai tangannya.
"Hahaha...
Reflekmu semakin bagus Saboteur", terdengar suara dari dalam ruang
generator. Saboteur menoleh ke arah pintu, dilihatnya sosok sang dia kenal.
"Kapten
Barker! Ternyata Anda", kata Saboteur dengan nada terkejut. "Kenapa
Anda disini?", lanjutnya.
"Hanya
mencari suasana baru", jawab Kapten Barker dengan tersenyum.
"Tetapi
kenapa harus bersama pasukan pemberontak, Kapten?", tanya Saboteur lagi.
"Karena
mereka memberiku kesempatan lebih luas", jawab Kapten Barker, masih
tersenyum.
"Kesempatan?",
Saboteur tak mengerti apa yang dimaksudkan Kapten Barker.
"Kesempatan
untuk bermain", jawab Kapten barker sambil menyeringai lebar. Saboteur
merinding mendengar jawaban mantan mentornya itu.
Dulu
Kapten Barker adalah seorang pengajar spesialis bahan peledak dan jebakan di
camp pelatihan Delta Force. Saboteur adalah salah seorang anak didiknya.
Keahliannya membuat jebakan dan menggunakan bahan peledak memang tersohor,
tetapi seringkali malah menghambat kinerja tim yang lain. Dia mendapat skorsing
dari kesatuannya karena masalah tersebut. Dia memutuskan untuk pensiun lebih
awal. Tak disangka, sekarang dia bergabung dengan pasukan pemberontak.
Kapten
Barker menimang sebuah granat sambil menyeringai, melepas picunya lalu
melemparnya ke arah Saboteur yang masih terbaring. Saboteur dengan reflek
menepis granat itu dengan tangan kirinya sehingga granat terpental ke arah
sungai. Granat itu meledak sebelum menyentuh permukaan air.
"Bagus,
ini pasti seru", kata Kapten Barker sambil berjalan menuju pintu.
"Kapten,
menyerahlah! Aku tak ingin bertarung denganmu", kata Saboteur sambil
bangkit berdiri. Tetapi Kapten Barker telah memasuki ruang generator. Saboteur
segera menyusulnya ke dalam ruang yang sekarang gelap itu. Nalurinya mengatakan
ada yang tidak beres, dia berhenti dan mengamati sekitarnya menggunakan
teropong night vision. Dilihatnya garis-garis tipis yang melintang di sepanjang
koridor. Jebakan!
"Hmmm...
Permainan dimulai", gumam Saboteur. Dia mengeluarkan pisau lipat dan
senter dari saku, lalu menuju garis pertama yang dia temui. Diperiksanya
jebakan itu dengan teliti. Biasanya jebakan kawat akan bereaksi saat kawat
tertarik, dan bisa dijinakkan dengan memotong kawatnya. Tetapi jebakan ini
lain, picunya memiliki poros ganda. Jadi akan bereaksi jika kawat tertarik atau
mengendur. Saboteur memegang picunya supaya tidak bergerak, lalu memotong
kawatnya. Kawat itu dia gunakan untuk mengikat picu supaya tetap sejajar dengan
porosnya. Satu jebakan telah berhasil diatasi. Dia melanjutkan ke jebakan
kedua.
* *
* * *
Sementara
itu, Explorer, Ace dan Spy baru saja melibas tikungan terakhir sebelum sampai
di jalan akses bendungan sisi utara. Mereka terkejut saat sampai disana, karena
telah disambut langsung oleh Jendral Sodatoy. Dia duduk di sebuah kursi lipat
di samping van, membelakangi mereka. Di sebelahnya terdapat sebuah meja kecil.
Di atasnya terdapat secangkir teh dan sepiring singkong rebus.
"Selamat
datang tim Delta Force", kata Jendral dengan lantang tanpa menoleh
sedikitpun. Dengan tenang dia menyeruput tehnya.
Explorer
segera menurunkan standar motor, lalu turun dan mencabut pistolnya.
"Menyerahlah
Jendral! Hentikan kegilaanmu", kata Explorer sambil mengacungkan
pistolnya. Spy dan Ace mengikuti tindakan Explorer.
"Menyerah?
Menyerah akan membuatku Melewatkan pertunjukan utama", kata Jendral masih
belum menoleh. "Lebih baik kalian bergabung denganku dan menikmati
pertunjukannya", lanjut Jendral.
"Pertunjukan?",
tanya Explorer mengerenyitkan dahi.
Lamat-lamat
terdengar suara musik dan tetabuhan dengan irama mars. Explorer melihat ke arah
bendungan, dimana suara itu berasal. Disana tampak berbaris rapi kelompok
marching band. Mereka memainkan lagu-lagu pop yang sedang booming di pasaran.
Kelompok marching band itu terus berjalan menuju ke arah mereka.
"Hei,
mereka tidak buruk juga", gumam Explorer yang dibalas dengan anggukan Ace
dan Spy. Tanpa sadar mereka menggerakkan kepala, tangan dan kaki mengikuti
irama yang dimainkan kelompok marching band tersebut.
"Pertunjukannya
sesuatu banget kan?", terdengar sebuah suara bersamaan dengan sesuatu yang
menempel di tengkuk mereka bertiga. "Jatuhkan senjata kalian, lalu tendang
ke arah Jendral", lanjut suara tersebut. Spy mengenali logat khas
tersebut, dia melirik ke belakang dan melihat Leo bersama Mayor Bishop sedang
menodongkan pistolnya.
"Aku
baru saja berpikir marching band itu cuma jebakan", gumam Ace sambil
menjatuhkan pistol, lalu menendangnya menjauh.
"Tapi
kenapa kita bisa terjebak?", gumam Spy sambil melakukan hal yang sama.
"Aku
ingin tahu apa mereka bisa memainkan lagu-lagu Didi Kempot", kata Explorer
sambil menendang pistolnya.
Dengan
cepat perlengkapan mereka telah dilucuti oleh Leo, sementara Mayor Bishop tetap
menodongkan pistolnya. Setelah itu Leo segera memborgol tangan mereka bertiga
ke belakang. Kemudian Leo dan Mayor Bishop menggiring mereka ke arah bendungan,
lalu memasang borgol mereka ke besi pagar sisi barat. Tepat di tengah
bendungan.
"Beraktinglah
yang baik, kalian menjadi pemain tambahan sekarang", kata Mayor Bishop
sebelum meninggalkan mereka.
"Pemain
tambahan ya?", kata Explorer dengan menyeringai. Ace dan Spy melihat ke
arahnya. Mereka menangkap perasaan putus asa dalam kata-kata Explorer.
"Kira-kira berapa banyak honornya?", lanjut Explorer.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment