Saturday, April 19, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 12)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 12


"Jalan menuju turbin ada di belakang gedung ini. Ayo segera kesana!", kata Saboteur sambil berlari menuju tempat yang dimaksudkannya.

"Tunjukkan jalannya. Aku di belakangmu", Armstrong berlari menyusul rekannya itu.

Di belakang gedung kontrol terdapat sebuah anjungan yang berfungsi untuk memantau saluran pembuangan. Di tepi anjungan terdapat tangga ke bawah, ke sebuah jalan kecil menuju turbin. Saboteur melompati tangga itu, mendarat di jalan dan terus berlari. Armstrong baru saja akan melompat saat sesuatu menyambarnya dari samping. Tak disangka, dia terpental dan membentur pagar anjungan. Tetapi dia segera bangkit dan melihat apa yang telah membuatnya terpental.

Dia segera melihat sosok yang sedang berlari menuju ke arahnya. Secara refleks Armstrong menaikkan lengan kirinya saat sosok itu melepaskan pukulan tangan kanan yang bertenaga. Pijakan Armstrong menjadi goyah, dia terlambat mengantisipasi saat pukulan kiri lawannya mendarat telak di perutnya. Tubuhnya tertekuk ke depan, untuk sesaat dia tak bisa bernafas. Mulutnya terbuka karena rasa sakit di perutnya. Terjangan berikutnya membuat Armstrong terpental ke belakang.

Tetapi lawan tak mau memberi waktu untuk sekedar mengambil nafas, dia berlari ke arahnya. Armstrong masih sempat melindungi kepalanya dengan kedua tangan saat lawan menendang. Terdengar teriakan kesakitan saat siku Armstrong berbenturan dengan tulang kering lawannya. Armstrong menggunakan kesempatan itu untuk bangkit dan mengambil jarak aman.

Dilihatnya sosok yang menjadi lawannya, seorang bertubuh kekar. Terdapat banyak sobekan di seragamnya yang memiliki tanda pangkat kapten. Sekilas dilihatnya nametag di dada lawannya itu, Ringo.

"Salam perkenalan yang berkesan, Kapten Ringo", kata Armstrong sambil mengelus perutnya yang masih terasa nyeri.

"Terserah, yang pasti aku akan membalas lemparan granatmu tadi", kata Ringo sambil merangsek maju.

"Keluarkan semua kemampuanmu", kata Armstrong sambil memasang kuda-kuda.

Mereka berdua saling beradu kekuatan dalam pertarungan jarak dekat. Suara benturan terdengar tiap kali pukulan mereka beradu dengan tangkisan. Keadaan tampak seimbang untuk saat ini. Sampai pada saat pukulan kanan Armstrong mendarat telak di pipi kiri Ringo. Besarnya tenaga pukulan membuat Ringo terpelanting. Tetapi tanpa diduga Ringo memanfaatkan momentum untuk berputar dan mendaratkan tendangan tumit ke arah rusuk Armstrong. Tendangan itu membuat udara di paru-parunya serasa dipompa keluar sekaligus. Armstrong terlempar dan langsung tersungkur.

Ringo berhasil bangkit lebih dahulu, dia mendekati Armstrong yang masih megap-megap. Tendangannya kembali menghajar rusuk Armstrong, kali ini yang sebelah kiri. Tubuh Armstrong sampai terbang karena kuatnya tenaga Ringo. Armstrong bergulung beberapa kali saat mendarat di lantai anjungan. Dia terbatuk-batuk saat mencoba duduk, rusuknya terasa sangat sakit. Dilihatnya Ringo meludah ke lantai sambil mengusap pipinya yang tampak memar.

"Lumayan juga pukulanmu", kata Ringo sambil menyeringai.

"Mau lagi?", kata Armstrong. Dia sudah berdiri sekarang, tetapi masih bersandar di pagar. Beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk meredakan nyeri di rusuknya.

"Bersiaplah!", seru Ringo sambil berlari ke arah Armstrong. Armstrong segera mengambil kuda-kuda, sebenarnya dia belum sepenuhnya siap untuk bertarung. Tetapi siap atau tidak, pertarungan harus diselesaikan.

"Heaaa!!!", teriak Armstrong sambil bergerak maju.

* * * * *

Saboteur telah sampai di depan ruang generator. Dilihatnya ke atas, pasukan yang memanjat tadi sudah tidak nampak. Dia harus cepat jika ingin mengejar mereka. Diraihnya kenop pintu dan ditariknya. Tiba-tiba Saboteur dengan cepat melompat ke samping. Pintu itu meledak. Api ledakan mengenai kaki kiri saboteur, membuat celananya terbakar. Dia buru-buru memadamkan api itu dengan segala cara. Baru saja apinya padam, dua buah granat menggelinding di dekatnya. Secara reflek dia meraih granat tersebut dan melemparnya dengan kuat ke arah sungai. Tetapi salah satu granat meledak sesaat setelah dilemparkan dan sedikit melukai tangannya.

"Hahaha... Reflekmu semakin bagus Saboteur", terdengar suara dari dalam ruang generator. Saboteur menoleh ke arah pintu, dilihatnya sosok sang dia kenal.

"Kapten Barker! Ternyata Anda", kata Saboteur dengan nada terkejut. "Kenapa Anda disini?", lanjutnya.

"Hanya mencari suasana baru", jawab Kapten Barker dengan tersenyum.

"Tetapi kenapa harus bersama pasukan pemberontak, Kapten?", tanya Saboteur lagi.

"Karena mereka memberiku kesempatan lebih luas", jawab Kapten Barker, masih tersenyum.

"Kesempatan?", Saboteur tak mengerti apa yang dimaksudkan Kapten Barker.

"Kesempatan untuk bermain", jawab Kapten barker sambil menyeringai lebar. Saboteur merinding mendengar jawaban mantan mentornya itu.

Dulu Kapten Barker adalah seorang pengajar spesialis bahan peledak dan jebakan di camp pelatihan Delta Force. Saboteur adalah salah seorang anak didiknya. Keahliannya membuat jebakan dan menggunakan bahan peledak memang tersohor, tetapi seringkali malah menghambat kinerja tim yang lain. Dia mendapat skorsing dari kesatuannya karena masalah tersebut. Dia memutuskan untuk pensiun lebih awal. Tak disangka, sekarang dia bergabung dengan pasukan pemberontak.

Kapten Barker menimang sebuah granat sambil menyeringai, melepas picunya lalu melemparnya ke arah Saboteur yang masih terbaring. Saboteur dengan reflek menepis granat itu dengan tangan kirinya sehingga granat terpental ke arah sungai. Granat itu meledak sebelum menyentuh permukaan air.

"Bagus, ini pasti seru", kata Kapten Barker sambil berjalan menuju pintu.

"Kapten, menyerahlah! Aku tak ingin bertarung denganmu", kata Saboteur sambil bangkit berdiri. Tetapi Kapten Barker telah memasuki ruang generator. Saboteur segera menyusulnya ke dalam ruang yang sekarang gelap itu. Nalurinya mengatakan ada yang tidak beres, dia berhenti dan mengamati sekitarnya menggunakan teropong night vision. Dilihatnya garis-garis tipis yang melintang di sepanjang koridor. Jebakan!

"Hmmm... Permainan dimulai", gumam Saboteur. Dia mengeluarkan pisau lipat dan senter dari saku, lalu menuju garis pertama yang dia temui. Diperiksanya jebakan itu dengan teliti. Biasanya jebakan kawat akan bereaksi saat kawat tertarik, dan bisa dijinakkan dengan memotong kawatnya. Tetapi jebakan ini lain, picunya memiliki poros ganda. Jadi akan bereaksi jika kawat tertarik atau mengendur. Saboteur memegang picunya supaya tidak bergerak, lalu memotong kawatnya. Kawat itu dia gunakan untuk mengikat picu supaya tetap sejajar dengan porosnya. Satu jebakan telah berhasil diatasi. Dia melanjutkan ke jebakan kedua.

* * * * *

Sementara itu, Explorer, Ace dan Spy baru saja melibas tikungan terakhir sebelum sampai di jalan akses bendungan sisi utara. Mereka terkejut saat sampai disana, karena telah disambut langsung oleh Jendral Sodatoy. Dia duduk di sebuah kursi lipat di samping van, membelakangi mereka. Di sebelahnya terdapat sebuah meja kecil. Di atasnya terdapat secangkir teh dan sepiring singkong rebus.

"Selamat datang tim Delta Force", kata Jendral dengan lantang tanpa menoleh sedikitpun. Dengan tenang dia menyeruput tehnya.

Explorer segera menurunkan standar motor, lalu turun dan mencabut pistolnya.

"Menyerahlah Jendral! Hentikan kegilaanmu", kata Explorer sambil mengacungkan pistolnya. Spy dan Ace mengikuti tindakan Explorer.

"Menyerah? Menyerah akan membuatku Melewatkan pertunjukan utama", kata Jendral masih belum menoleh. "Lebih baik kalian bergabung denganku dan menikmati pertunjukannya", lanjut Jendral.

"Pertunjukan?", tanya Explorer mengerenyitkan dahi.

Lamat-lamat terdengar suara musik dan tetabuhan dengan irama mars. Explorer melihat ke arah bendungan, dimana suara itu berasal. Disana tampak berbaris rapi kelompok marching band. Mereka memainkan lagu-lagu pop yang sedang booming di pasaran. Kelompok marching band itu terus berjalan menuju ke arah mereka.

"Hei, mereka tidak buruk juga", gumam Explorer yang dibalas dengan anggukan Ace dan Spy. Tanpa sadar mereka menggerakkan kepala, tangan dan kaki mengikuti irama yang dimainkan kelompok marching band tersebut.

"Pertunjukannya sesuatu banget kan?", terdengar sebuah suara bersamaan dengan sesuatu yang menempel di tengkuk mereka bertiga. "Jatuhkan senjata kalian, lalu tendang ke arah Jendral", lanjut suara tersebut. Spy mengenali logat khas tersebut, dia melirik ke belakang dan melihat Leo bersama Mayor Bishop sedang menodongkan pistolnya.

"Aku baru saja berpikir marching band itu cuma jebakan", gumam Ace sambil menjatuhkan pistol, lalu menendangnya menjauh.

"Tapi kenapa kita bisa terjebak?", gumam Spy sambil melakukan hal yang sama.

"Aku ingin tahu apa mereka bisa memainkan lagu-lagu Didi Kempot", kata Explorer sambil menendang pistolnya.

Dengan cepat perlengkapan mereka telah dilucuti oleh Leo, sementara Mayor Bishop tetap menodongkan pistolnya. Setelah itu Leo segera memborgol tangan mereka bertiga ke belakang. Kemudian Leo dan Mayor Bishop menggiring mereka ke arah bendungan, lalu memasang borgol mereka ke besi pagar sisi barat. Tepat di tengah bendungan.

"Beraktinglah yang baik, kalian menjadi pemain tambahan sekarang", kata Mayor Bishop sebelum meninggalkan mereka.

"Pemain tambahan ya?", kata Explorer dengan menyeringai. Ace dan Spy melihat ke arahnya. Mereka menangkap perasaan putus asa dalam kata-kata Explorer. "Kira-kira berapa banyak honornya?", lanjut Explorer.

* * * * *

No comments:

Post a Comment