Saturday, April 12, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 11)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 11


Mayor Bishop tampak serius mengamati pekerjaan anak buahnya. Mereka sedang memasang beberapa rangkaian kabel di dalam ruang generator pembangkit listrik. Generator ini berfungsi sebagai penghasil listrik. Energi listrik tersebut dihasilkan dari air yang dialirkan melalui serangkaian pipa, lalu menggerakkan turbin. Putaran turbin juga menggerakkan rotor yang terhubung dengan generator di atasnya. Generator ini mengubahnya menjadi energi listrik sebesar 35 MW. Total 105 MW bisa dihasilkan PLTA Sutami dari ketiga pembangkitnya.

"Pasang dengan benar, jangan  sampai ada kesalahan", Mayor Bishop memberikan pengarahan dengan lantang. Suaranya bergema di dalam ruangan. Dia terus berkeliling sambil mengawasi, memastikan tak ada satupun kesalahan.

"Mayor, semua sudah terpasang", seru seorang prajurit. Mayor Bishop segera menghampiri prajurit tersebut, lalu memeriksa sebuah panel yang menghubungkan semua kabel.

"Bagus, segera bergerak ke atas!", perintah Mayor. Seluruh prajurit segera keluar dari ruangan, lalu mendaki menuju puncak bendungan.

* * * * *

"Explorer!", panggil Spy setengah berteriak.

"Ada apa Spy?", jawab Explorer sambil menghampiri Spy.

"Lihat itu!", kata Spy sambil menunjuk ke arah bendungan. Explorer segera mengamati dengan teropongnya. Tampak beberapa orang sedang mendaki lereng bendungan. Mereka mendaki dari arah generator menuju puncak bendungan.

"Tampaknya pasukan Jendral Sodatoy berusaha kabur", kata Explorer. "Dimana jalur menuju turbin?", tanya Explorer kepada Saboteur.

"Hah? Kenapa kau menanyakan padaku?", jawab Saboteur gelagapan.

"Kau kan tahu banyak tentang bendungan ini", jawab Explorer.

"Bukan aku, tapi Joker yang tahu banyak", sanggah Saboteur.

"Tapi dia memberitahukan padamu bukan?", kejar Explorer.

"Yaaa... Tetapi secara garis besarnya saja. Aku tak tahu dimana jalan menuju turbin", kata Saboteur sambil menaikkan bahunya.

"Berarti kita harus mengambil jalan memutar untuk ke atas", kata Explorer. "Ace dan Spy ikut denganku. Saboteur dan Armstrong tetap disini, pastikan lokasi ini telah aman", perintah Explorer. Kemudian berlari menuju motornya yang berada di depan gerbang fasilitas pengendali bendungan. Ace dan Spy mengikutinya.

"Kau benar-benar tidak tahu?", tanya Armstrong.

"Sama sekali tidak tahu", jawab Saboteur sambil menggelengkan kepala.

"Hmmm...", gumam Armstrong sambil mengelus-elus dagunya. "Baiklah, mari kita periksa tempat ini", kata Armstrong sambil melangkah maju menuju pintu.

"Oke", jawab Saboteur singkat lalu membalikkan badan untuk mengikuti Armstrong. Tetapi dia berhenti pada langkah pertama.

Armstrong mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu yang terkunci. Dia berlari dan membenturkan bahu dan lengannya ke pintu. Terdengar bunyi berderak, pintu terlepas dari engselnya dan roboh ke arah dalam.

"Ayo Saboteur", kata Armstrong sambil melambaikan tangannya.

"Sekarang aku tahu", kata Saboteur sedikit menggumam.

"Tahu apa?", tanya Armstrong heran.

"Jalan menuju turbin", jawab Saboteur sambil menunjuk dinding di sebelah pintu yang baru saja didobrak Armstrong.

"Apa? Tadi kau bilang tidak tahu", tanya Armstrong semakin heran. Dia kembali keluar dan melihat dinding yang ditunjuk Saboteur. Dia terpana begitu tahu apa yang tampak di dinding itu. Sebuah papan besar dengan denah lengkap fasilitas pengendali PLTA Sutami.

"Tadinya memang tidak tahu, tapi sekarang tahu", jawab Saboteur polos.

* * * * *

Jendral Sodatoy memimpin langsung pasukannya menuju sisi utara bendungan. Dia melirik jam tangannya, hampir pukul tujuh pagi. Sebuah mobil van, jeep dan beberapa truk telah menunggu di ujung bendungan. Jendral memasuki van. Bagian dalam van itu adalah perangkat komunikasi. Jendral memerintahkan operator untuk menghubungi Gubernur.

"Selamat pagi, Anda menghubungi kantor Gubernur Jawa Timur. Apakah ada yang bisa kami bantu?", terdengar suara merdu seorang operator menjawab panggilan.

"Hubungkan dengan Gubernur", kata Jendral Sodatoy.

"Gubernur sedang tidak ada di tempat. Apakah Anda mempunyai pesan yang bisa disampaikan?", balas sang operator.

"Kalau begitu, sambungkan ke nomor pribadinya", kata Jendral lagi.

"Boleh kami tahu siapa Anda dan apa kepentingan Anda?", tanya operator dengan ramah.

"Saya Brad Pitt, hendak mengajukan ijin syuting", kata Jendral sedikit kesal. Operator di sebelahnya tampak berusaha keras menahan tawa saat mendengar sang Jendral mengatakan dirinya Brad Pitt.

"Ah, ya... Dan saya pasti Angelina Jolie", jawab operator di seberang, masih dengan keramahannya.

"Cukup!", Jendral tiba-tiba menghardik keras. "Hubungkan segera atau kuledakkan kantor Gubernur dalam sepuluh menit!", amarahnya meluap.

"Baiklah, silahkan tunggu sebentar", jawab operator tersebut dengan gemetar, setelah itu hening. Sebentar kemudian terdengar nada sambung yang membuat Jendral Sodatoy tersenyum kecil.

"Ya, halo", terdengar suara berat dan datar dari seberang.

"Gubernur Zuger, apakah tidur Anda nyenyak semalam?", tanya Jendral dengan suara yang dibuat seramah mungkin.

"Andai aku bisa tidur", jawab Gubernur Zuger dengan datar.

"Jadi, sudah kau siapkan uangku?", tanya Jendral Sodatoy masih dengan nada suara yang dibuat ramah.

"Nggg... Anu... Itu...", Gubernur Zuger gelagapan, dengan suara yang datar. "Begini, apakah kita bisa berunding dulu?", lanjutnya.

"Hmmm... Sayang sekali, Gubernur Zuger yang terhormat. Jadwalku penuh sampai pukul delapan nanti", kata Jendral Sodatoy.

"Bagaimana setelah pukul delapan?", tanya Gubernur Zuger.

"Saat itu kau pasti sudah melihat banjir terbesar sepanjang sejarah Jawa Timur", kata Jendral Sodatoy.

"Nggg... Kau tahu, mustahil untuk mengumpulkan 22 triliun dalam semalam. Lagipula bank baru buka pukul sepuluh nanti", Gubernur Zuger mulai melancarkan kemampuan diplomasinya.

"Kau masih punya waktu satu jam untuk menyiapkan uangku. Gunakan waktumu dengan baik", jawab Jendral Sodatoy. Setelah itu dia mengakhiri pembicaraan.

* * * * *

CB sedang mengeringkan rambutnya, dia baru saja mandi setelah terus berada di ruang kontrol dua hari terakhir. Sekarang dia terbebas dari lengket dan bau keringatnya sendiri, dia merasa tubuhnya sangat segar. Dia kembali menuju ruang kontrol setelah menyeduh cappuccino kesukaannya. Tak lupa dia membawa sebungkus biskuit untuk camilan.

"Aaaahhh... Benar-benar nyaman", gumam CB setelah menyesap cappuccinonya. Lalu diambilnya sekeping biskuit dan mengunyahnya. Dia sedang mengunyah keping biskuit ketiga saat sebuah panggilan masuk. CB segera menelan biskuitnya dan menjawab panggilan itu.

"Kolonel Blues! Seharusnya dengan 600 juta itu kau sudah membereskan masalah ini!", semburan kata-kata penuh kemarahan itu terdengar tanpa basa-basi. Ternyata penelepon itu adalah Gubernur Zuger. "Jawab Kolonel! Jawab!", seru Gubernur Zuger.

"Bagaimana saya menjawab jika Anda terus berteriak, Gubernur?", potong CB saat Gubernur berhenti untuk mengambil nafas.

"Aku butuh bicara dengan Kolonel Blues, tidak denganmu!", bentak Gubernur Zuger.

"Kolonel Blues tidak ada di tempat. Anda bisa meninggalkan pesan", jawab CB enteng.

"Dimana dia? Aku mau uangku kembali!", teriak Gubernur Zuger mulai histeris.

"Anda meminta uang Anda kembali? Baiklah, saya akan meminta Kolonel Blues membatalkan misinya?", kata CB. Kini dia balas menyerang.

"Apa? Misi apa?", tanya Gubernur dengan gusar.

"Misi membereskan masalah Anda, Gubernur", jawab CB dengan tegas.

"Ah... Baiklah. Beritahu dia, bereskan masalah sebelum pukul delapan", kata Gubernur Zuger, kali ini dengan suara datarnya yang menyebalkan.

"Anda bisa mengandalkan kami, Gubernur", jawab CB. Pembicaraan pun berakhir.

CB tersenyum geli dengan kegusaran Gubernur tadi. Dia berharap tim Gamma bisa menyelesaikan misi mereka dengan baik. Begitu pula dengan tim Alpha. Yang belum bisa dipahami oleh CB adalah, tim Alpha bergerak setelah Kolonel Blues berbicara dengan seseorang di telepon. Sebenarnya siapa orang yang bisa membuat Kolonel Blues kembali menjalankan misi di lapangan? Apakah orang itu juga pengirim pesan misterius? CB tak bisa menemukan jawabannya saat ini. Dia hanya bisa percaya misi ini akan berhasil. Kembali disesapnya cappuccino yang masih panas itu.

* * * * *

No comments:

Post a Comment