Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 11
Mayor
Bishop tampak serius mengamati pekerjaan anak buahnya. Mereka sedang memasang
beberapa rangkaian kabel di dalam ruang generator pembangkit listrik. Generator
ini berfungsi sebagai penghasil listrik. Energi listrik tersebut dihasilkan
dari air yang dialirkan melalui serangkaian pipa, lalu menggerakkan turbin.
Putaran turbin juga menggerakkan rotor yang terhubung dengan generator di
atasnya. Generator ini mengubahnya menjadi energi listrik sebesar 35 MW. Total
105 MW bisa dihasilkan PLTA Sutami dari ketiga pembangkitnya.
"Pasang
dengan benar, jangan sampai ada
kesalahan", Mayor Bishop memberikan pengarahan dengan lantang. Suaranya
bergema di dalam ruangan. Dia terus berkeliling sambil mengawasi, memastikan
tak ada satupun kesalahan.
"Mayor,
semua sudah terpasang", seru seorang prajurit. Mayor Bishop segera
menghampiri prajurit tersebut, lalu memeriksa sebuah panel yang menghubungkan
semua kabel.
"Bagus,
segera bergerak ke atas!", perintah Mayor. Seluruh prajurit segera keluar
dari ruangan, lalu mendaki menuju puncak bendungan.
* *
* * *
"Explorer!",
panggil Spy setengah berteriak.
"Ada
apa Spy?", jawab Explorer sambil menghampiri Spy.
"Lihat
itu!", kata Spy sambil menunjuk ke arah bendungan. Explorer segera
mengamati dengan teropongnya. Tampak beberapa orang sedang mendaki lereng
bendungan. Mereka mendaki dari arah generator menuju puncak bendungan.
"Tampaknya
pasukan Jendral Sodatoy berusaha kabur", kata Explorer. "Dimana jalur
menuju turbin?", tanya Explorer kepada Saboteur.
"Hah?
Kenapa kau menanyakan padaku?", jawab Saboteur gelagapan.
"Kau
kan tahu banyak tentang bendungan ini", jawab Explorer.
"Bukan
aku, tapi Joker yang tahu banyak", sanggah Saboteur.
"Tapi
dia memberitahukan padamu bukan?", kejar Explorer.
"Yaaa...
Tetapi secara garis besarnya saja. Aku tak tahu dimana jalan menuju turbin",
kata Saboteur sambil menaikkan bahunya.
"Berarti
kita harus mengambil jalan memutar untuk ke atas", kata Explorer.
"Ace dan Spy ikut denganku. Saboteur dan Armstrong tetap disini, pastikan
lokasi ini telah aman", perintah Explorer. Kemudian berlari menuju
motornya yang berada di depan gerbang fasilitas pengendali bendungan. Ace dan
Spy mengikutinya.
"Kau
benar-benar tidak tahu?", tanya Armstrong.
"Sama
sekali tidak tahu", jawab Saboteur sambil menggelengkan kepala.
"Hmmm...",
gumam Armstrong sambil mengelus-elus dagunya. "Baiklah, mari kita periksa
tempat ini", kata Armstrong sambil melangkah maju menuju pintu.
"Oke",
jawab Saboteur singkat lalu membalikkan badan untuk mengikuti Armstrong. Tetapi
dia berhenti pada langkah pertama.
Armstrong
mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu yang terkunci. Dia berlari dan
membenturkan bahu dan lengannya ke pintu. Terdengar bunyi berderak, pintu
terlepas dari engselnya dan roboh ke arah dalam.
"Ayo
Saboteur", kata Armstrong sambil melambaikan tangannya.
"Sekarang
aku tahu", kata Saboteur sedikit menggumam.
"Tahu
apa?", tanya Armstrong heran.
"Jalan
menuju turbin", jawab Saboteur sambil menunjuk dinding di sebelah pintu
yang baru saja didobrak Armstrong.
"Apa?
Tadi kau bilang tidak tahu", tanya Armstrong semakin heran. Dia kembali
keluar dan melihat dinding yang ditunjuk Saboteur. Dia terpana begitu tahu apa
yang tampak di dinding itu. Sebuah papan besar dengan denah lengkap fasilitas
pengendali PLTA Sutami.
"Tadinya
memang tidak tahu, tapi sekarang tahu", jawab Saboteur polos.
* *
* * *
Jendral
Sodatoy memimpin langsung pasukannya menuju sisi utara bendungan. Dia melirik
jam tangannya, hampir pukul tujuh pagi. Sebuah mobil van, jeep dan beberapa
truk telah menunggu di ujung bendungan. Jendral memasuki van. Bagian dalam van
itu adalah perangkat komunikasi. Jendral memerintahkan operator untuk
menghubungi Gubernur.
"Selamat
pagi, Anda menghubungi kantor Gubernur Jawa Timur. Apakah ada yang bisa kami
bantu?", terdengar suara merdu seorang operator menjawab panggilan.
"Hubungkan
dengan Gubernur", kata Jendral Sodatoy.
"Gubernur
sedang tidak ada di tempat. Apakah Anda mempunyai pesan yang bisa
disampaikan?", balas sang operator.
"Kalau
begitu, sambungkan ke nomor pribadinya", kata Jendral lagi.
"Boleh
kami tahu siapa Anda dan apa kepentingan Anda?", tanya operator dengan
ramah.
"Saya
Brad Pitt, hendak mengajukan ijin syuting", kata Jendral sedikit kesal.
Operator di sebelahnya tampak berusaha keras menahan tawa saat mendengar sang
Jendral mengatakan dirinya Brad Pitt.
"Ah,
ya... Dan saya pasti Angelina Jolie", jawab operator di seberang, masih
dengan keramahannya.
"Cukup!",
Jendral tiba-tiba menghardik keras. "Hubungkan segera atau kuledakkan
kantor Gubernur dalam sepuluh menit!", amarahnya meluap.
"Baiklah,
silahkan tunggu sebentar", jawab operator tersebut dengan gemetar, setelah
itu hening. Sebentar kemudian terdengar nada sambung yang membuat Jendral
Sodatoy tersenyum kecil.
"Ya,
halo", terdengar suara berat dan datar dari seberang.
"Gubernur
Zuger, apakah tidur Anda nyenyak semalam?", tanya Jendral dengan suara
yang dibuat seramah mungkin.
"Andai
aku bisa tidur", jawab Gubernur Zuger dengan datar.
"Jadi,
sudah kau siapkan uangku?", tanya Jendral Sodatoy masih dengan nada suara
yang dibuat ramah.
"Nggg...
Anu... Itu...", Gubernur Zuger gelagapan, dengan suara yang datar.
"Begini, apakah kita bisa berunding dulu?", lanjutnya.
"Hmmm...
Sayang sekali, Gubernur Zuger yang terhormat. Jadwalku penuh sampai pukul
delapan nanti", kata Jendral Sodatoy.
"Bagaimana
setelah pukul delapan?", tanya Gubernur Zuger.
"Saat
itu kau pasti sudah melihat banjir terbesar sepanjang sejarah Jawa Timur",
kata Jendral Sodatoy.
"Nggg...
Kau tahu, mustahil untuk mengumpulkan 22 triliun dalam semalam. Lagipula bank
baru buka pukul sepuluh nanti", Gubernur Zuger mulai melancarkan kemampuan
diplomasinya.
"Kau
masih punya waktu satu jam untuk menyiapkan uangku. Gunakan waktumu dengan
baik", jawab Jendral Sodatoy. Setelah itu dia mengakhiri pembicaraan.
* *
* * *
CB
sedang mengeringkan rambutnya, dia baru saja mandi setelah terus berada di
ruang kontrol dua hari terakhir. Sekarang dia terbebas dari lengket dan bau
keringatnya sendiri, dia merasa tubuhnya sangat segar. Dia kembali menuju ruang
kontrol setelah menyeduh cappuccino kesukaannya. Tak lupa dia membawa sebungkus
biskuit untuk camilan.
"Aaaahhh...
Benar-benar nyaman", gumam CB setelah menyesap cappuccinonya. Lalu
diambilnya sekeping biskuit dan mengunyahnya. Dia sedang mengunyah keping
biskuit ketiga saat sebuah panggilan masuk. CB segera menelan biskuitnya dan
menjawab panggilan itu.
"Kolonel
Blues! Seharusnya dengan 600 juta itu kau sudah membereskan masalah ini!",
semburan kata-kata penuh kemarahan itu terdengar tanpa basa-basi. Ternyata
penelepon itu adalah Gubernur Zuger. "Jawab Kolonel! Jawab!", seru
Gubernur Zuger.
"Bagaimana
saya menjawab jika Anda terus berteriak, Gubernur?", potong CB saat
Gubernur berhenti untuk mengambil nafas.
"Aku
butuh bicara dengan Kolonel Blues, tidak denganmu!", bentak Gubernur
Zuger.
"Kolonel
Blues tidak ada di tempat. Anda bisa meninggalkan pesan", jawab CB enteng.
"Dimana
dia? Aku mau uangku kembali!", teriak Gubernur Zuger mulai histeris.
"Anda
meminta uang Anda kembali? Baiklah, saya akan meminta Kolonel Blues membatalkan
misinya?", kata CB. Kini dia balas menyerang.
"Apa?
Misi apa?", tanya Gubernur dengan gusar.
"Misi
membereskan masalah Anda, Gubernur", jawab CB dengan tegas.
"Ah...
Baiklah. Beritahu dia, bereskan masalah sebelum pukul delapan", kata
Gubernur Zuger, kali ini dengan suara datarnya yang menyebalkan.
"Anda
bisa mengandalkan kami, Gubernur", jawab CB. Pembicaraan pun berakhir.
CB
tersenyum geli dengan kegusaran Gubernur tadi. Dia berharap tim Gamma bisa
menyelesaikan misi mereka dengan baik. Begitu pula dengan tim Alpha. Yang belum
bisa dipahami oleh CB adalah, tim Alpha bergerak setelah Kolonel Blues
berbicara dengan seseorang di telepon. Sebenarnya siapa orang yang bisa membuat
Kolonel Blues kembali menjalankan misi di lapangan? Apakah orang itu juga
pengirim pesan misterius? CB tak bisa menemukan jawabannya saat ini. Dia hanya
bisa percaya misi ini akan berhasil. Kembali disesapnya cappuccino yang masih
panas itu.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment