Saturday, February 15, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 03)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 3


Beberapa kilometer di sebelah selatan bendungan Karangkates, tampak Jendral Sodatoy menaiki kap mobil jeepnya. Dia berdiri tegap menghadap ke arah pasukannya yang telah berbaris rapi. Jendral Sodatoy melihat pasukannya, wajah-wajah yang penuh semangat. Semuanya memandang pada titik yang sama, dirinya. Mereka menunggu sang pimpinan berbicara.

Di saat seperti ini seorang pimpinan biasanya akan memberikan sebuah briefing singkat atau sebuah pidato penyemangat yang bisa meningkatkan moral pasukan.

"Pasukanku!", Jendral Sodatoy memulai orasinya dengan sebuah sapaan.

"HEEEYYY", pasukan menjawab dengan penuh semangat. Di antara mereka, Spy merasa bergidik merasakan semangat pasukan yang luar biasa. Kemudian dilihatnya Jendral Sodatoy mengacungkan tangan kanannya ke atas.

"Masak aer...", seru sang Jendral.

"BIAR MATENG...", pasukan kompak berseru. Spy pun terjatuh dengan suara 'gubrakk'.

"Beli elpiji tiga kilogram, ayo kita berangkat!", lanjut sang Jendral yang langsung disambut seruan bersemangat dari seluruh pasukan, kecuali satu orang yang terjatuh untuk kedua kalinya.

Beberapa saat kemudian, iring-iringan kendaraan yang terdiri dari tiga truk dan dua jeep berangkat menuju utara.

* * * * *

"Kolonel, menurut Anda apa yang akan dilakukan Jenderal Sodatoy di Karangkates?", tanya CB dengan tetap memperhatikan deretan monitor di depannya.

"Kalau mereka merencanakan pemberontakan, kenapa harus di Karangkates?", gumam Kolonel Blues. Otaknya sedang memikirkan beberapa kemungkinan. "Tunjukkan daftar target yang mungkin akan diserang Jendral Sodatoy".

Dengan cepat CB mengetikkan beberapa perintah, kemudian menampilkan hasilnya di monitor. Kolonel Sodatoy memperhatikan daftar itu dengan seksama. Setelah itu dia hanya menggelengkan kepala.

"Aku tak mengerti", gumam Kolonel.

"Saya bisa menjelaskan setiap target di dalam daftar tersebut jika Anda mau", celetuk CB menawarkan bantuan.

"Bukan itu maksudku!", jawab Kolonel gusar. "Tetapi bendungan Karangkates tak termasuk dalam daftar. Semua target dalam daftar itu ada di wilayah Kediri dan sekitarnya".

"Mungkin... Ada yang salah dengan data kita?". Tetapi sebenarnya CB sangat yakin dengan datanya. Itu adalah data yang didapat Spy selama penyusupan. Itu masih ditambah lagi dengan data-data yang dia kumpulkan dari file militer.

"Ada yang janggal disini", Kolonel Blues tampak kebingungan. Kemudian mereka terdiam, sibuk dengan analisa masing-masing.

* * * * *

"Kemana kita akan pergi? Pindah camp lagi?", tanya Spy sedikit berbisik.

"Mana kutahu? Perintah atasan, jadi ikut saja", jawab Leo tenang.

Sekarang Spy merasa putus asa, rencana Jendral Sodatoy telah dimulai. Sedangkan dia tetap tidak tahu dimana dan bagaimana pemberontakan akan dilakukan. Parahnya lagi, dia tidak bisa menghubungi markas.

* * * * *

Di lain tempat, empat personel tim Gamma sedang beradu kecepatan. Mereka menuju bendungan Karangkates melalui jalur selatan. Explorer berada di posisi terdepan, agak jauh di belakangnya ada Armstrong yang berusaha mengikuti. Saboteur berada tepat di belakang Armstrong, menguntit dengan ketat.

Jalanan yang lengang memudahkan mereka memacu motor dengan kecepatan tinggi.

Explorer tak mengurangi kecepatan saat mendahului sebuah truk yang mengangkut sapi. Di belakangnya, Armstrong juga bermaksud mendahului truk tersebut. Tetapi tiba-tiba truk mengambil jalur kanan untuk mendahului sebuah motor di depannya. Armstrong yang posisinya sudah sejajar dengan truk secara reflek mengayunkan tangan kirinya, menghantam kabin truk dengan keras. Seketika truk kembali ke jalur kiri karena hantaman tadi.

Di belakang Armstrong, Saboteur menempelkan sesuatu di kabin truk saat mendahului. Lima detik kemudian, sebuah kilatan muncul dan mesin truk mati dengan tiba-tiba. Rupanya Saboteur telah menempelkan bom EMP yang menghanguskan sistem elektronik truk dan membuat mesin berhenti seketika.

Tim Gamma pun melanjutkan perjalanannya, meninggalkan sopir truk yang berusaha keras memahami apa yang baru saja dialaminya.

* * * * *

"Aku benar-benar tak mengerti!", Kolonel Blues semakin gusar. Dia masih tak bisa menebak rencana Jendral Sodatoy di bendungan Karangkates.

Monitor kembali berkedip, satu pesan masuk melalui saluran rahasia:
Sengguruh = 2 x 14,5 MW
Sutami = 3 x 35 MW
Wlingi = 2 x 27 MW
Lodoyo = 1 x 4,5 MW
Tulungagung = 2 x 18 MW

"Apa maksudnya?", tanya CB.

"Ini... Apa ini?", gumam Kolonel, datar.

"Ini data pembangkit listrik tenaga air beserta daya yang dihasilkan", jawab CB setelah memasukkan data itu di mesin pencari internet. "Saya memikirkan dua kemungkinan", lanjut CB.

"Katakan padaku", tampak Kolonel lebih gusar daripada sebelumnya.

"Pertama, Jendral Sodatoy berencana membajak pembangkit listrik dan meminta tebusan besar", CB mengemukakan analisanya dengan lugas.

"Masuk akal. Seperti yang kita tahu, Jendral Sodatoy tak memiliki penghasilan tetap untuk membiayai pasukannya", kata sang Kolonel sambil mengangguk-angguk kecil. "Lalu apa kemungkinan kedua?".

"Kemungkinan kedua, ini semua cuma jebakan", kata CB tegas.

"Apa maksudmu dengan jebakan?", tanya Kolonel dengan gusar.

"Maksud saya, Karangkates hanyalah umpan. Jendral Sodatoy bermaksud melakukan pemberontakan di Kediri. Itu adalah target paling potensial yang ada di daftar", CB menjelaskan analisanya dengan yakin. "Seperti yang kita ketahui dari informasi yang didapatkan Spy, rencana pemberontakan secara jelas menyebutkan Panjalu. Berarti pemberontakan akan dilakukan di pusat pemerintahan Panjalu, yaitu Daha atau Kediri".

"Tetapi pesan tadi jelas-jelas menunjukkan koordinat Karangkates", balas Kolonel.

"Kolonel, itulah jebakannya! Pesan itu palsu", kata CB semakin yakin.

"Hanya petinggi militer dan beberapa staf khusus yang bisa menggunakan saluran itu. Kamu meragukannya?", bantah Kolonel.

"Bisa saja pasukan pemberontak meretas saluran kita, atau ada orang kita yang bersekongkol dengan Jendral Sodatoy", kata CB dengan mantap. Kolonel tertegun memikirkan kemungkinan itu.

Monitor berkedip sekali lagi, sebuah pesan masuk di saluran rahasia:
'Ini ciyuz lho...'

* * * * *

No comments:

Post a Comment