Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 3
Beberapa
kilometer di sebelah selatan bendungan Karangkates, tampak Jendral Sodatoy
menaiki kap mobil jeepnya. Dia berdiri tegap menghadap ke arah pasukannya yang
telah berbaris rapi. Jendral Sodatoy melihat pasukannya, wajah-wajah yang penuh
semangat. Semuanya memandang pada titik yang sama, dirinya. Mereka menunggu
sang pimpinan berbicara.
Di
saat seperti ini seorang pimpinan biasanya akan memberikan sebuah briefing
singkat atau sebuah pidato penyemangat yang bisa meningkatkan moral pasukan.
"Pasukanku!",
Jendral Sodatoy memulai orasinya dengan sebuah sapaan.
"HEEEYYY",
pasukan menjawab dengan penuh semangat. Di antara mereka, Spy merasa bergidik
merasakan semangat pasukan yang luar biasa. Kemudian dilihatnya Jendral Sodatoy
mengacungkan tangan kanannya ke atas.
"Masak
aer...", seru sang Jendral.
"BIAR
MATENG...", pasukan kompak berseru. Spy pun terjatuh dengan suara
'gubrakk'.
"Beli
elpiji tiga kilogram, ayo kita berangkat!", lanjut sang Jendral yang
langsung disambut seruan bersemangat dari seluruh pasukan, kecuali satu orang
yang terjatuh untuk kedua kalinya.
Beberapa
saat kemudian, iring-iringan kendaraan yang terdiri dari tiga truk dan dua jeep
berangkat menuju utara.
* *
* * *
"Kolonel,
menurut Anda apa yang akan dilakukan Jenderal Sodatoy di Karangkates?",
tanya CB dengan tetap memperhatikan deretan monitor di depannya.
"Kalau
mereka merencanakan pemberontakan, kenapa harus di Karangkates?", gumam
Kolonel Blues. Otaknya sedang memikirkan beberapa kemungkinan. "Tunjukkan
daftar target yang mungkin akan diserang Jendral Sodatoy".
Dengan
cepat CB mengetikkan beberapa perintah, kemudian menampilkan hasilnya di
monitor. Kolonel Sodatoy memperhatikan daftar itu dengan seksama. Setelah itu
dia hanya menggelengkan kepala.
"Aku
tak mengerti", gumam Kolonel.
"Saya
bisa menjelaskan setiap target di dalam daftar tersebut jika Anda mau",
celetuk CB menawarkan bantuan.
"Bukan
itu maksudku!", jawab Kolonel gusar. "Tetapi bendungan Karangkates
tak termasuk dalam daftar. Semua target dalam daftar itu ada di wilayah Kediri
dan sekitarnya".
"Mungkin...
Ada yang salah dengan data kita?". Tetapi sebenarnya CB sangat yakin
dengan datanya. Itu adalah data yang didapat Spy selama penyusupan. Itu masih
ditambah lagi dengan data-data yang dia kumpulkan dari file militer.
"Ada
yang janggal disini", Kolonel Blues tampak kebingungan. Kemudian mereka
terdiam, sibuk dengan analisa masing-masing.
* *
* * *
"Kemana
kita akan pergi? Pindah camp lagi?", tanya Spy sedikit berbisik.
"Mana
kutahu? Perintah atasan, jadi ikut saja", jawab Leo tenang.
Sekarang
Spy merasa putus asa, rencana Jendral Sodatoy telah dimulai. Sedangkan dia
tetap tidak tahu dimana dan bagaimana pemberontakan akan dilakukan. Parahnya
lagi, dia tidak bisa menghubungi markas.
* *
* * *
Di
lain tempat, empat personel tim Gamma sedang beradu kecepatan. Mereka menuju
bendungan Karangkates melalui jalur selatan. Explorer berada di posisi
terdepan, agak jauh di belakangnya ada Armstrong yang berusaha mengikuti.
Saboteur berada tepat di belakang Armstrong, menguntit dengan ketat.
Jalanan
yang lengang memudahkan mereka memacu motor dengan kecepatan tinggi.
Explorer
tak mengurangi kecepatan saat mendahului sebuah truk yang mengangkut sapi. Di
belakangnya, Armstrong juga bermaksud mendahului truk tersebut. Tetapi
tiba-tiba truk mengambil jalur kanan untuk mendahului sebuah motor di depannya.
Armstrong yang posisinya sudah sejajar dengan truk secara reflek mengayunkan
tangan kirinya, menghantam kabin truk dengan keras. Seketika truk kembali ke
jalur kiri karena hantaman tadi.
Di
belakang Armstrong, Saboteur menempelkan sesuatu di kabin truk saat mendahului.
Lima detik kemudian, sebuah kilatan muncul dan mesin truk mati dengan
tiba-tiba. Rupanya Saboteur telah menempelkan bom EMP yang menghanguskan sistem
elektronik truk dan membuat mesin berhenti seketika.
Tim
Gamma pun melanjutkan perjalanannya, meninggalkan sopir truk yang berusaha
keras memahami apa yang baru saja dialaminya.
* *
* * *
"Aku
benar-benar tak mengerti!", Kolonel Blues semakin gusar. Dia masih tak
bisa menebak rencana Jendral Sodatoy di bendungan Karangkates.
Monitor
kembali berkedip, satu pesan masuk melalui saluran rahasia:
Sengguruh = 2 x 14,5 MW
Sutami = 3 x 35 MW
Wlingi = 2 x 27 MW
Lodoyo = 1 x 4,5 MW
Tulungagung = 2 x 18 MW
"Apa
maksudnya?", tanya CB.
"Ini...
Apa ini?", gumam Kolonel, datar.
"Ini
data pembangkit listrik tenaga air beserta daya yang dihasilkan", jawab CB
setelah memasukkan data itu di mesin pencari internet. "Saya memikirkan
dua kemungkinan", lanjut CB.
"Katakan
padaku", tampak Kolonel lebih gusar daripada sebelumnya.
"Pertama,
Jendral Sodatoy berencana membajak pembangkit listrik dan meminta tebusan
besar", CB mengemukakan analisanya dengan lugas.
"Masuk
akal. Seperti yang kita tahu, Jendral Sodatoy tak memiliki penghasilan tetap
untuk membiayai pasukannya", kata sang Kolonel sambil mengangguk-angguk
kecil. "Lalu apa kemungkinan kedua?".
"Kemungkinan
kedua, ini semua cuma jebakan", kata CB tegas.
"Apa
maksudmu dengan jebakan?", tanya Kolonel dengan gusar.
"Maksud
saya, Karangkates hanyalah umpan. Jendral Sodatoy bermaksud melakukan
pemberontakan di Kediri. Itu adalah target paling potensial yang ada di
daftar", CB menjelaskan analisanya dengan yakin. "Seperti yang kita
ketahui dari informasi yang didapatkan Spy, rencana pemberontakan secara jelas
menyebutkan Panjalu. Berarti pemberontakan akan dilakukan di pusat pemerintahan
Panjalu, yaitu Daha atau Kediri".
"Tetapi
pesan tadi jelas-jelas menunjukkan koordinat Karangkates", balas Kolonel.
"Kolonel,
itulah jebakannya! Pesan itu palsu", kata CB semakin yakin.
"Hanya
petinggi militer dan beberapa staf khusus yang bisa menggunakan saluran itu.
Kamu meragukannya?", bantah Kolonel.
"Bisa
saja pasukan pemberontak meretas saluran kita, atau ada orang kita yang
bersekongkol dengan Jendral Sodatoy", kata CB dengan mantap. Kolonel
tertegun memikirkan kemungkinan itu.
Monitor
berkedip sekali lagi, sebuah pesan masuk di saluran rahasia:
'Ini ciyuz lho...'
* *
* * *
No comments:
Post a Comment