Saturday, February 8, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 02)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 2


Di camp pasukan pemberontak, tampak Spy sedang berusaha mencari tempat yang sepi. Dia telah memasang baterai cadangan dan bermaksud mengirim info pemberontakan pada CB. Spy menyelinap di balik semak, dekat dengan sebuah parit kecil, kemudian dia mulai mengirimkan lokasinya kepada CB. Tanpa diduganya, sebuah nada peringatan terdengar, bersamaan dengan itu ponselnya mati.

"Sial, ternyata baterai ini belum aku isi ulang", umpat Spy kesal.

"Hei hei... Sedang apa kau disitu Es?", tiba-tiba terdengar suara dari balik semak tepat di tepi parit, suara dengan logat Syahrini.

"Ah, cuma mau buang air", jawab Spy sekenanya.

"Eits, antri ya. Aku masih belum selesai", potong Leo disusul bunyi kentut yang membahana. Segera bau tidak sedap merebak.

"Ah, sepertinya aku kehilangan hasrat buang air", segera Spy pergi dari tempat itu, dengan rasa mual di perutnya.

* * * * *

Di pangkalan, tampak Kolonel Blues masuk ke ruang monitor dimana CB bertugas.

"Bagaimana perkembangannya?", tanya Kolonel sambil berdiri di belakang kursi CB, memandangi sederetan monitor di depannya.

"Baru saja saya menerima transmisi koordinat dari Spy. Sepertinya camp pasukan pemberontak selalu berpindah, ini lokasi keempat mereka sejak Spy menyusup", jelas CB sambil mencari koordinat lokasi Spy.

"Tunjukkan padaku", perintah Kolonel Blues.

CB segera menampilkan peta di monitor utama. Ada tiga titik dengan nomor urut satu sampai tiga. Titik yang pertama berada di lereng gunung Arjuno, titik kedua di lereng gunung Kelud, sedangkan titik ketiga berada di pantai Pangi. Kemudian CB menambahkan titik keempat, lokasi yang baru saja dikirimkan oleh Spy.

"Lalu dimana posisi tim Gamma sekarang?", tanya Kolonel Blues.

"Saya mengirim mereka ke titik ketiga, pantai Pangi", jawab CB singkat.

Tiba-tiba monitor di sebelah kanan berkedip, CB segera memeriksanya. Ada sebuah pesan yang masuk:

'Sodatoy in action at 6 PM' yang disertai sebuah koordinat.

CB segera memasukkan koordinat itu di komputer dan menandainya dengan angka lima. Koordinat itu menunjukkan sebuah lokasi, beberapa kilometer di sebelah utara dari lokasi yang dikirimkan Spy. Kolonel Blues segera melirik arlojinya, 16:52.

"Siapa yang mengirim pesan ini? Dia mengirimkan pesan ke saluran rahasia", kata CB keheranan.

"CB, kontak tim Gamma dan perintahkan mereka menuju lokasi ini", perintah Kolonel Blues sambil menunjuk titik bernomor lima di layar.

"Saya sudah mencoba mengontak mereka sejak dua jam yang lalu. Tidak ada respon", jawab CB, tegang.

* * * * *

Di pantai Pangi yang eksotis, tampak tiga motor masih terparkir. Sebuah lampu indikator berwarna merah di panel motor berkedip beberapa kali, lalu padam. Lima menit berselang lampu itu berkedip kembali. Hal ini terus berulang setiap lima menit.

Tak jauh dari situ tampak Explorer, Ace dan Armstrong bermain ombak sambil berfoto. Tak jauh dari garis pantai, Saboteur sedang merebus kopi di peralatan portabel yang selalu mereka bawa. Setelah kopi siap untuk disajikan, dia memanggil ketiga rekannya untuk bergabung.

"Mantap sekali kopinya", kata Explorer setelah menyeruput kopi hitam bagiannya.

"Joker yang mengajariku, dia bilang kopi yang direbus akan lebih nikmat dibandingkan yang diseduh", jawab Saboteur.

"Orang itu... Dimana ya dia sekarang?", sahut Armstrong.

"Kudengar dia sedang menjalankan sebuah misi rahasia", jawab Ace.

"Aku bahkan tak tahu apakah dia masih termasuk anggota Gamma Rangers atau bukan. Sudah hampir setahun dia tak pernah muncul", timpal Explorer.

"Apa mungkin dia pensiun?", kata Ace berspekulasi.

"Bisa jadi. Kudengar usianya lebih tua dari Kolonel Blues", jawab Explorer.

"Apa???", jawab tiga orang lainnya serentak, nada suara mereka menyiratkan ketidak percayaan.

"Tunggu, nggak kebalik? Seingatku tampang Kolonel Blues terlihat jauh lebih tua", kata Armstrong.

"Pasti Joker orang yang awet muda, sedangkan Kolonel boros", timpal Saboteur enteng. Yang lain menanggapinya dengan cengiran.

DIIIN!!! DIIIN!!! DIIIN!!!

Suara klakson keras dan bersahutan mengejutkan mereka. Suara itu berasal dari ketiga motor mereka yang terparkir. Rupanya Kolonel Blues telah mengaktifkan kendali sistem elektronik motor dari markas, yang memungkinkannya untuk membunyikan klakson.

Langsung saja mereka berlari menuju kesana. Explorer sampai pertama kali, dilihatnya lampu indikator merah di motornya berkedip-kedip. Segera ditekannya sebuah tombol, sebuah panel terbuka dan tampaklah sebuah layar LCD mini menampilkan notifikasi 'Incoming Call'. Explorer segera menyentuh tombol 'Answer' di layar.

"Explorer disini", katanya membuka pembicaraan.

"Dimana kalian?", terdengar suara Kolonel Blues dengan nada kesal. Serbuan kemarahan Kolonel Blues berlangsung hingga beberapa menit kemudian.

"Mungkin itu sebabnya Kolonel tampak lebih tua daripada seharusnya", bisik Armstrong yang langsung dijawab anggukan kepala Saboteur.

"Kalian harus segera menuju ke sebuah lokasi sekarang juga. Koordinat telah dikirimkan. Aku mau kalian tiba disana dalam waktu satu jam! Over and out!", perintah Kolonel Blues sekaligus mengakhiri pembicaraan.

Ace segera menginput koordinat yang baru saja mereka terima, koordinat itu menampilkan lokasi yang sangat familiar.

"Hei, itu kan bendungan Karaskateng", seru Armstrong.

"Karangkates, dudul!", ralat Saboteur sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Armstrong.

"Bisakah kita sampai disana dalam waktu satu jam?", tanya Ace. Tampaknya dia tidak yakin bisa mencapai lokasi tepat waktu.

"Bisa! Kalau kita berangkat sekarang dan ngebut habis-habisan pasti bisa", jawab Explorer dengan yakin, sambil mengenakan jaketnya. Yang lain segera mempersiapkan diri. Tak sampai lima menit kemudian tiga buah motor sudah meninggalkan pantai Pangi dengan kecepatan tinggi.

* * * * *

No comments:

Post a Comment