Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 2
Di
camp pasukan pemberontak, tampak Spy sedang berusaha mencari tempat yang sepi.
Dia telah memasang baterai cadangan dan bermaksud mengirim info pemberontakan
pada CB. Spy menyelinap di balik semak, dekat dengan sebuah parit kecil,
kemudian dia mulai mengirimkan lokasinya kepada CB. Tanpa diduganya, sebuah
nada peringatan terdengar, bersamaan dengan itu ponselnya mati.
"Sial,
ternyata baterai ini belum aku isi ulang", umpat Spy kesal.
"Hei
hei... Sedang apa kau disitu Es?", tiba-tiba terdengar suara dari balik
semak tepat di tepi parit, suara dengan logat Syahrini.
"Ah,
cuma mau buang air", jawab Spy sekenanya.
"Eits,
antri ya. Aku masih belum selesai", potong Leo disusul bunyi kentut yang
membahana. Segera bau tidak sedap merebak.
"Ah,
sepertinya aku kehilangan hasrat buang air", segera Spy pergi dari tempat
itu, dengan rasa mual di perutnya.
* *
* * *
Di
pangkalan, tampak Kolonel Blues masuk ke ruang monitor dimana CB bertugas.
"Bagaimana
perkembangannya?", tanya Kolonel sambil berdiri di belakang kursi CB,
memandangi sederetan monitor di depannya.
"Baru
saja saya menerima transmisi koordinat dari Spy. Sepertinya camp pasukan
pemberontak selalu berpindah, ini lokasi keempat mereka sejak Spy
menyusup", jelas CB sambil mencari koordinat lokasi Spy.
"Tunjukkan
padaku", perintah Kolonel Blues.
CB
segera menampilkan peta di monitor utama. Ada tiga titik dengan nomor urut satu
sampai tiga. Titik yang pertama berada di lereng gunung Arjuno, titik kedua di
lereng gunung Kelud, sedangkan titik ketiga berada di pantai Pangi. Kemudian CB
menambahkan titik keempat, lokasi yang baru saja dikirimkan oleh Spy.
"Lalu
dimana posisi tim Gamma sekarang?", tanya Kolonel Blues.
"Saya
mengirim mereka ke titik ketiga, pantai Pangi", jawab CB singkat.
Tiba-tiba
monitor di sebelah kanan berkedip, CB segera memeriksanya. Ada sebuah pesan
yang masuk:
'Sodatoy in action at 6 PM' yang disertai
sebuah koordinat.
CB
segera memasukkan koordinat itu di komputer dan menandainya dengan angka lima.
Koordinat itu menunjukkan sebuah lokasi, beberapa kilometer di sebelah utara
dari lokasi yang dikirimkan Spy. Kolonel Blues segera melirik arlojinya, 16:52.
"Siapa
yang mengirim pesan ini? Dia mengirimkan pesan ke saluran rahasia", kata
CB keheranan.
"CB,
kontak tim Gamma dan perintahkan mereka menuju lokasi ini", perintah
Kolonel Blues sambil menunjuk titik bernomor lima di layar.
"Saya
sudah mencoba mengontak mereka sejak dua jam yang lalu. Tidak ada respon",
jawab CB, tegang.
* *
* * *
Di
pantai Pangi yang eksotis, tampak tiga motor masih terparkir. Sebuah lampu
indikator berwarna merah di panel motor berkedip beberapa kali, lalu padam.
Lima menit berselang lampu itu berkedip kembali. Hal ini terus berulang setiap
lima menit.
Tak
jauh dari situ tampak Explorer, Ace dan Armstrong bermain ombak sambil berfoto.
Tak jauh dari garis pantai, Saboteur sedang merebus kopi di peralatan portabel
yang selalu mereka bawa. Setelah kopi siap untuk disajikan, dia memanggil
ketiga rekannya untuk bergabung.
"Mantap
sekali kopinya", kata Explorer setelah menyeruput kopi hitam bagiannya.
"Joker
yang mengajariku, dia bilang kopi yang direbus akan lebih nikmat dibandingkan
yang diseduh", jawab Saboteur.
"Orang
itu... Dimana ya dia sekarang?", sahut Armstrong.
"Kudengar
dia sedang menjalankan sebuah misi rahasia", jawab Ace.
"Aku
bahkan tak tahu apakah dia masih termasuk anggota Gamma Rangers atau bukan.
Sudah hampir setahun dia tak pernah muncul", timpal Explorer.
"Apa
mungkin dia pensiun?", kata Ace berspekulasi.
"Bisa
jadi. Kudengar usianya lebih tua dari Kolonel Blues", jawab Explorer.
"Apa???",
jawab tiga orang lainnya serentak, nada suara mereka menyiratkan ketidak
percayaan.
"Tunggu,
nggak kebalik? Seingatku tampang Kolonel Blues terlihat jauh lebih tua",
kata Armstrong.
"Pasti
Joker orang yang awet muda, sedangkan Kolonel boros", timpal Saboteur
enteng. Yang lain menanggapinya dengan cengiran.
DIIIN!!!
DIIIN!!! DIIIN!!!
Suara
klakson keras dan bersahutan mengejutkan mereka. Suara itu berasal dari ketiga
motor mereka yang terparkir. Rupanya Kolonel Blues telah mengaktifkan kendali
sistem elektronik motor dari markas, yang memungkinkannya untuk membunyikan
klakson.
Langsung
saja mereka berlari menuju kesana. Explorer sampai pertama kali, dilihatnya
lampu indikator merah di motornya berkedip-kedip. Segera ditekannya sebuah
tombol, sebuah panel terbuka dan tampaklah sebuah layar LCD mini menampilkan
notifikasi 'Incoming Call'. Explorer segera menyentuh tombol 'Answer' di layar.
"Explorer
disini", katanya membuka pembicaraan.
"Dimana
kalian?", terdengar suara Kolonel Blues dengan nada kesal. Serbuan
kemarahan Kolonel Blues berlangsung hingga beberapa menit kemudian.
"Mungkin
itu sebabnya Kolonel tampak lebih tua daripada seharusnya", bisik
Armstrong yang langsung dijawab anggukan kepala Saboteur.
"Kalian
harus segera menuju ke sebuah lokasi sekarang juga. Koordinat telah dikirimkan.
Aku mau kalian tiba disana dalam waktu satu jam! Over and out!", perintah
Kolonel Blues sekaligus mengakhiri pembicaraan.
Ace
segera menginput koordinat yang baru saja mereka terima, koordinat itu
menampilkan lokasi yang sangat familiar.
"Hei,
itu kan bendungan Karaskateng", seru Armstrong.
"Karangkates,
dudul!", ralat Saboteur sambil
mengibaskan tangannya di depan wajah Armstrong.
"Bisakah
kita sampai disana dalam waktu satu jam?", tanya Ace. Tampaknya dia tidak
yakin bisa mencapai lokasi tepat waktu.
"Bisa!
Kalau kita berangkat sekarang dan ngebut habis-habisan pasti bisa", jawab
Explorer dengan yakin, sambil mengenakan jaketnya. Yang lain segera
mempersiapkan diri. Tak sampai lima menit kemudian tiga buah motor sudah
meninggalkan pantai Pangi dengan kecepatan tinggi.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment