Gamma Rangers:
Blackout
Chapter 19
"Bagaimana?",
tanya sosok hitam itu sambil membungkukkan badan di belakang Saboteur.
"Aku
harus membongkar tabung ini untuk mengetahui rangkaian yang tersembunyi",
jawab Saboteur. "Dan itu butuh waktu yang lama. Tabung ini solid",
desahnya kembali lemas.
"Lalu
bagaimana pembuatnya bisa memasukkan peledak ke dalamnya?", tanya sosok
hitam itu lagi.
"Jangan
tanya aku, sudah pasti aku tak tahu", kali ini Saboteur mengangkat
tangannya tanda menyerah. "Sepertinya kita akan meledak bersama bendungan
ini", pasrah saja Saboteur kali ini, diliriknya timer telah menunjukkan
angka 00:01:42.
"Sudah
kau periksa bagian bawahnya?", kembali sosok tersebut memberikan masukan.
"Belum",
Saboteur terbeliak. Dengan segera dia berusaha membalikkan tabung itu dan
menemukan sebuah tulisan:
Y1A9-M0A9-T1O9-HO4T-E5RU
"Hah?
Ini sih nomor seri", Saboteur tampak kecewa.
"Ini
mungkin sebuah petunjuk", kata sosok itu, kemudian mendekat dan
mengarahkan lampu senternya ke arah deretan karakter itu. Dia lalu meraih radio
satelitnya. "Catat deretan karakter yang akan kubacakan, lalu samakan
dengan yang ada di bagian bawah tabung disana", sosok itu memberikan
perintah pada lawan bicaranya melalui radio satelit, kemudian membacakan satu
persatu karakter itu.
Tak
berapa lama, terdengar suara balasan yang mengkonfirmasi bahwa deretan angka
yang dibacakan sama dengan yang di seberang sana. Sosok itu diam, tampaknya dia
sedang berpikir keras.
"Sepertinya
aku tak akan sempat mengajukan pertanyaan padamu", kata Saboteur melihat
mereka hanya mempunyai waktu 17 detik saja.
"Balikkan
tabung ini! Cepat!", perintah sosok itu. Mereka segera membalikkannya. "Potong
kabel biru!", perintahnya.
"Apa?
Kau tak bisa memotong kabelnya tanpa tahu rangkaiannya! Kita bisa mati!",
sanggah Saboteur.
"Mati
sekarang atau beberapa detik lagi tak akan banyak berbeda", kata sosok itu
dingin.
Saboteur
terhenyak mendengarnya. Selama dia bergabung dengan Delta Force, atau bahkan
seumur hidupnya, baru kali ini dia dihadapkan pada pilihan 'mati sekarang atau
mati nanti'. Ditambah lagi dia hanya punya waktu 5 detik untuk menentukan
pilihan.
"Kau
benar", Saboteur sangat pasrah kali ini. Dikeluarkannya tang dan
mengarahkan ke kabel biru. Sedangkan sosok misterius di sebelahnya sibuk
memberikan instruksi lewat radio untuk memotong kabel biru.
* *
* * *
Di
atas bendungan, Armstrong telah memutuskan rantai borgol dengan tenaganya.
"Terima
kasih, Armstrong. Tenagamu selalu bisa diandalkan", puji Explorer.
"Waktu!
Pukul berapa sekarang?", seru Ace dengan panik. Spy segera melihat arloji
digitalnya.
"Pukul
07.59", sejenak Spy diam. "...dan 51 detik", lanjutnya. Mereka
saling berpandangan dalam diam.
"Lariiii!!!",
Ace berteriak panik. Serentak mereka berlari menuju sisi utara bendungan.
Armstrong masih sempat mengangkat tubuh Leo dan menyusul rekan-rekannya.
"Hahahaha...
Lihatlah, itu akan menjadi sprint terakhir dalam hidup mereka", seru
Jendral Sodatoy kegirangan.
"Tujuh
detik lagi, Jendral", kata Mayor Bishop sambil memperhatikan arlojinya.
"Ayo
kita hitung bersama!", seru Jendral Sodatoy kepada pasukannya.
"Lima...",
seru sang Jendral diikuti oleh seluruh pasukan pemberontak.
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu..."
BOOOOMMM!!!
Sebuah
ledakan besar terdengar memekakkan telinga disertai getaran yang sangat kuat.
* *
* * *
No comments:
Post a Comment