Saturday, June 7, 2014

Gamma Rangers: Blackout (Chapter 19)



Gamma Rangers: Blackout
Chapter 19


"Bagaimana?", tanya sosok hitam itu sambil membungkukkan badan di belakang Saboteur.

"Aku harus membongkar tabung ini untuk mengetahui rangkaian yang tersembunyi", jawab Saboteur. "Dan itu butuh waktu yang lama. Tabung ini solid", desahnya kembali lemas.

"Lalu bagaimana pembuatnya bisa memasukkan peledak ke dalamnya?", tanya sosok hitam itu lagi.

"Jangan tanya aku, sudah pasti aku tak tahu", kali ini Saboteur mengangkat tangannya tanda menyerah. "Sepertinya kita akan meledak bersama bendungan ini", pasrah saja Saboteur kali ini, diliriknya timer telah menunjukkan angka 00:01:42.

"Sudah kau periksa bagian bawahnya?", kembali sosok tersebut memberikan masukan.

"Belum", Saboteur terbeliak. Dengan segera dia berusaha membalikkan tabung itu dan menemukan sebuah tulisan:

Y1A9-M0A9-T1O9-HO4T-E5RU

"Hah? Ini sih nomor seri", Saboteur tampak kecewa.

"Ini mungkin sebuah petunjuk", kata sosok itu, kemudian mendekat dan mengarahkan lampu senternya ke arah deretan karakter itu. Dia lalu meraih radio satelitnya. "Catat deretan karakter yang akan kubacakan, lalu samakan dengan yang ada di bagian bawah tabung disana", sosok itu memberikan perintah pada lawan bicaranya melalui radio satelit, kemudian membacakan satu persatu karakter itu.

Tak berapa lama, terdengar suara balasan yang mengkonfirmasi bahwa deretan angka yang dibacakan sama dengan yang di seberang sana. Sosok itu diam, tampaknya dia sedang berpikir keras.

"Sepertinya aku tak akan sempat mengajukan pertanyaan padamu", kata Saboteur melihat mereka hanya mempunyai waktu 17 detik saja.

"Balikkan tabung ini! Cepat!", perintah sosok itu. Mereka segera membalikkannya. "Potong kabel biru!", perintahnya.

"Apa? Kau tak bisa memotong kabelnya tanpa tahu rangkaiannya! Kita bisa mati!", sanggah Saboteur.

"Mati sekarang atau beberapa detik lagi tak akan banyak berbeda", kata sosok itu dingin.

Saboteur terhenyak mendengarnya. Selama dia bergabung dengan Delta Force, atau bahkan seumur hidupnya, baru kali ini dia dihadapkan pada pilihan 'mati sekarang atau mati nanti'. Ditambah lagi dia hanya punya waktu 5 detik untuk menentukan pilihan.

"Kau benar", Saboteur sangat pasrah kali ini. Dikeluarkannya tang dan mengarahkan ke kabel biru. Sedangkan sosok misterius di sebelahnya sibuk memberikan instruksi lewat radio untuk memotong kabel biru.

* * * * *

Di atas bendungan, Armstrong telah memutuskan rantai borgol dengan tenaganya.

"Terima kasih, Armstrong. Tenagamu selalu bisa diandalkan", puji Explorer.

"Waktu! Pukul berapa sekarang?", seru Ace dengan panik. Spy segera melihat arloji digitalnya.

"Pukul 07.59", sejenak Spy diam. "...dan 51 detik", lanjutnya. Mereka saling berpandangan dalam diam.

"Lariiii!!!", Ace berteriak panik. Serentak mereka berlari menuju sisi utara bendungan. Armstrong masih sempat mengangkat tubuh Leo dan menyusul rekan-rekannya.

"Hahahaha... Lihatlah, itu akan menjadi sprint terakhir dalam hidup mereka", seru Jendral Sodatoy  kegirangan.

"Tujuh detik lagi, Jendral", kata Mayor Bishop sambil memperhatikan arlojinya.

"Ayo kita hitung bersama!", seru Jendral Sodatoy kepada pasukannya.

"Lima...", seru sang Jendral diikuti oleh seluruh pasukan pemberontak.

"Empat..."

"Tiga..."

"Dua..."

"Satu..."

BOOOOMMM!!!

Sebuah ledakan besar terdengar memekakkan telinga disertai getaran yang sangat kuat.

* * * * *

No comments:

Post a Comment